OTONG LALO (KAMERA RIA, TVRI - JUMAT, 2 SEPTEMBER 1988 Pkl: 21.30 WIB)
Tapi, ia tidak menolak bila disuruh berpakaian macam-macam untuk melawak, selain ia juga mau beraneh-aneh – dibikin botak. “Kalau nggak mau begini, wah mana saya bisa mendapatkan duit?” Walaupun ia diketawakan oleh lingkungannya karena tampangnya yang dinyentrik-nyentrikkan, ia tidak perduli. “Ini salah satu pekerjaan saya. Mengapa saya malu?” Apalagi dari pihak istri dan anaknya tidak problem.
“Seorang istri harus memahami profesi suaminya, karena bila tidak mau mengambil risiko, sia-sialah ia jadi istri saya,” kata pelawak yang pernah bercita-cita jadi ABRI ini. Makanya, ia sangat sayang pada istrinya. “Istri bukan barang kiloan. Jadi, mana bisa saja kawin dua?” Apalagi dari karirnya ini ia belum bisa mengeruk duit seperti pelawak lainnya. Setiap pementasan di teve, grupnya hanya dibayar 600 ribu rupiah. “Itu pun dibagi empat orang.”
Ditulis oleh: Bujang Praktiko
Dok. Monitor – No. 96/II/minggu ke-5 Agustus 1988/31 Agustus-6 September 1988, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar