OSHIN MENGAJARI KERJA KERAS DAN TAK TERGANTUNG ORANG LAIN (TVRI - TIAP JUMAT, 29 JANUARI 1988 Pkl: 18.35 WIB)

DERITA. Kayo menikah dengan pilihan orangtua dan tidak bahagia. Kepada Oshin, ia menceritakan penderitaannya

FILM seri Oshin, sesudah terhenti sekian lama, disiarkan lagi mulai Jumat, 29 Januari 1988 ini. Cara Fragmen yang biasa disiarkan pada jam ini digeser ke hari Rabu, menggusur siaran ulang film seri Unyil.

Berbeda dengan yang (waktu itu telah) lalu, ke-66 episode yang (waktu itu) akan disiarkan TVRI kali ini lebih cocok untuk konsumsi kaum remaja (era itu) dan orang dewasa (era itu). Ceritanya, diawali dengan Oshin remaja, usia 16, lari ke Tokyo untuk belajar menjadi penata rambut pada Taka Hasegawa, sesuai dengan amanat Haru, kakaknya yang seumur hidup menderita.

Oshin yang sejak kecil menderita, kembali menghadapi kekerasan hidup dalam bentuk lain. Tidak diterima teman sekerja, karena takut posisi mereka direbut. Bertemu lagi dengan bekas pacar yang juga digandrungi anak majikannya, Kayo. Lalu kawin dengan anak orang kaya tanpa restu sang mertua. Belum lagi bencana alam, resesi ekonomi yang membuat kehidupan tambah susah.

Oshin yang kendati miskin, tapi mendapat kasih sayang penuh dari ibunya, Fuji, dan neneknya, Naka, mempunyai kekuatan mental dan ketabahan yang luar biasa untuk menghadapi semua ini.

Belum lagi pengalamannya yang menyenangkan ketika tinggal bernama Matsuzo, kakek pembuat arang, dan Shunsaku, pelarian perang, yang memberi pelajaran pada Oshin, bahwa cinta, ketulusan hati, bisa mengalahkan segalanya. Oshin termasuk anak yang berbahagia, karena dibesarkan di lingkungan di mana ada kehangatan dan rasa aman.

 

BEKAS. Oshin bertemu dengan bekas pacarnya, kota Takakura di Tokyo 

BALAS, MALAS. “Kalau seseorang berbuat jahat kepadamu, janganlah berkecil hati dan membalas perbuatan mereka dengan kejahatan. Kasihani mereka karena sebenarnya, mereka adalah orang-orang yang menderita,” itu kata Shunsaku pada Oshin.

Ajaran ini benar-benar diterapkan Oshin pada awal kedatangannya di rumah Taka Hasegawa. Oshin tidak berkecil hati, ketika semua orang memusuhi dan bersikap dingin kepadanya. Ia tetap menawarkan bantuan dan kebaikan tulus.

Suatu pagi, ketika Ritsu, si pembantu yang masih belia ke dapur dan akan memasak, Oshin menyapanya dengan ucapan selamat pagi, walaupun Ritsu lebih muda darinya. Ritsu marah. Karena Oshin sudah menyelesaikan semua pekerjaannya. Bahkan sekarang Oshin bertanya, “Akan diapakan lobak itu? Dimasak supkah?” Ritsu tambah marah. Sebaliknya Oshin tersenyum dan menanyakan umur Ritsu.

“Mungkin 12 atau 13. Betul khan? Saya 16 dan sudah terbiasa bangun pagi. Saya tidak mudah lelah. Kamu dapat bangun siangan selama saya di sini.” Tapi Ritsu menolak karena akan dianggap malas dan dikirim kembali ke rumah orangtuanya. “Maaf, saya tidak bermaksud supaya kamu dipecat. Saya Cuma merasa, pekerjaan ini mungkin terlalu berat untuk gadis semuda kamu.”

Dengan pendekatan semacam ini, Ritsu membuka diri. Baginya, kini Oshin bukan saingan yang membahayakan. Ia tenang dan tidak merasa terancam, sehingga mau bersahabat dengan Oshin. Banyak pelajaran yang dapat ditarik dari serial yang terasa mengharukan dan menguras air mata ini. Tentang optimisme misalnya. Dalam keadaan bagaimanapun, Oshin tetap optimis.

Melalui kemalangan yang beruntun menimpa tokoh cerita, tapi tidak terasa unsur mengada-ada, Sugako Hashida, penulis skenario, seakan ingin berkata, “Yah, begitulah kehidupan.” Ada kesulitan, tapi juga ada kebahagiaan. Setiap orang punya penderitaannya masing-masing. Sugako juga ingin menegaskan, keberhasilan tidak jatuh dari langit. Tapi merupakan hasil usaha dan kerja keras. Kecuali itu, setiap tindakan tidak ditentukan orang lain.

Ditulis oleh: Irene Suliana

Dok. Monitor – No. 65/II/minggu ke-5 Januari 1988/27 Januari-2 Februari 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer