OMBAK-OMBAK PUTIH: "BESUTAN BERSPONSOR KOPERASI YANG TANPA BUIH" (FILM CERITA AKHIR PEKAN, TVRI PROGRAMA 1 - SABTU, 23 SEPTEMBER 1989 Pkl: 22.35 WIB)

 PAYUNG. Suasana syuting di siang hari. Matahari begitu menyengat, jangan kaget kalau kamera pun terpaksa dipayungi

TIDAK begitu kerap mencuatkan sinetron, namun beberapa waktu sempat menghadirkan Sang Penunggu (M. 144 – Monitor, 2-8 Agustus 1989), toh pengarah acara Vick Hidayat masih memperlihatkan kelasnya. Kendati dalam perkembangannya, Vick bukan tambah menggertak.

Demikian pula dengan Ombak-Ombak Putih yang sknearionya ditulis Boyke Bagya Moch (nama samaran atau penulis baru – ketika itu?), Vick sekadar menggelindingkan. Lakon tersebut malah dibiarkan centang perentang. Setidaknya kemampuan Vick tak diperlihatkan sebagaimana mestinya. Sayang. Atau karena lakon Ombak penuh dengan pernik-pernik pesan humas, sehingga ia merasa kagok membesutnya?

Harus diakui, bumbu “sponsor” dalam Ombak bertaburan di sana-sini. Pesan mengenai koperasi tidak cuma diselipkan bahan kisah, tapi dipaksakan. Terasa tempelan.

Sebetulnya, cerita Ombak punya nilai plus. Namun, lantaran ditambahi “penyedap” wejangan, membuat kisah Ombak menjadi minus, melingkar-lingkar dan diulur-ulur. Maunya, supaya misi yang disampaikan pemirsa bisa terserap. Kenyataannya, Ombak verbal, dan bukan tidak mungkin berarti misi yang ingin dilontarkan akan kandas.

SAMPAH. Pak Kadir (kanan) tetap nggak mau menerima Jaka sebagai nakanya. Pasalnya, Jaka yang bekas narapidana itu adalah sampah masyarakat 

Di satu pihak, Vick malu untuk menyatakan secara tegas bahwa Ombak adalah sinetron yang berbicara soal dunia perkoperasian. Diceritakan, kehidupan Jaka yang dihukum 5 tahun. Penyebabnya, dia melakukan pembunuhan tidak sengaja. Tatkala itu Jaka menyaksikan sahabatnya berkelahi. Jaka berusaha menolong. Merampas pisau dari tangan lawan kawannya.

Yang terjadi, pisau itu tak erhasil dirampas Jkaa, malah menghujam lawannya. Sewaktu di penjara, Jaka hanya dikunjungi oleh ibunya. Jika ada orang lain yang menengok itu pun bapak dari sahabatnya. Pak Kadir, bapaknya sendiri, ogah ketemu. Malu punya anak pembunuh. Bahkan sampai Jaka keluar penjara, sang bapak tidak mau menerima kehadirannya.

Bagaimanapun semuanya itu membikin Jaka kian tegar. Dia sadar, lingkungan menyudutkan terhadap orang-orang macam dia. Jaka tidak putus asa, dia membuktikan, bekas narapidana bukanlah sampah masyarakat. Nah, di sini pula, Vick segan memolesnya. Ia membiarkan perihal kegalauan Jaka secara apa adanya. Gambar-gambar yang diluncurkan sangat tawar. Tidak ada visi maupun gagasan.

Untuk membuktikan bahwa Jaka punya ketegaran, dia membantu usaha Pembangunan di desanya. Teristimewa memajukan koperasi nelayan. Tantangan tentu ada. Tapi jaka “hero” dalam Ombak ini. Segalanya teratasi. Muncul sosok pak Bardan – bapak sahabat yang ditolongnya – yang menjadi ‘partner’ kerjanya.

Singkatnya, semua warga desa tahu siapa sesungguhnya Jaka. Jaka pemuda yang punya idealisme, tidak mau mementingkan dirinya sendiri. Yang dia lakukan diserhakan untuk desanya. Dia mengabdi pada desanya. Maka berakhir pula sinetron Ombak ini dengan suasana biasa-biasa saja. Dan dengan berat hati pula dapat dikatakan, Ombak tanpa harus berombak.

Ditulis oleh: Syamsuddin Noer Moenadi

OMBAK-OMBAK PUTIH

Jaka – Nugraha

Pak Kadir – Tarzan

Juragan Danu – Panji Anom

Pak Bardan – H. Masbuchin

Bu Kadir – Sri Rejeki

Narti – Rita Apolonia

Wati – Hetty Hendro P

Bandot – H. Kosim Betawi

Daud – Rahman Yakob

Jumadi – Anton Samiat

Pak Jalil – Amir Gadjahnata

Bakir – Darsa W.P.

Pengarah acara: Vick Hidayat

Skenario: Boyke Bagya Moch

Produksi: TVRI Sta. Pusat Jakarta

Batas umur: 13 tahun ke atas

Dok. Monitor – No. 151/III/minggu ke-4 September 1989/20-26 September 1989, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer