NYI BIRAH: "MAYAT YANG KEMBALI BANGKIT" (FCAP, TVRI PROGRAMA 1 - SABTU, 10 JUNI 1989 Pkl: 22.30 WIB)
KETAKUTAN pada hantu, sesuatu yang pernah dialami manusia,
adalah universal. Eksploitasi atas ketakutan ini bisa dikomersialkan, salah
satunya lewat film Malam Satu Suro, Malam Jumat Kliwon, atau Angel Heart. Dalam
Nyi Birah yang disutradarai Darto Joned, diungkapkan sesuatu ketakutan yang
lain, lewat tokoh Raden Cokronanggolo.
Pada 1935, Raden Cokro membeli Perkebunan Van Heaval. Perkebunan di desa Pesanggrahan itu berkembang pesat, sehingga menyedot tenaga kerja. Udara yang dingin dan sejuk itu, membangkitkan nafsu Raden Cokro untuk berhubungan seksual dengan Nyi Birah. Hubungan Cokro dan Birah penuh dengan kemisteriusan. Seorang naak pun lahir: Nila. Setelah itu, Cokro meninggal dunia.
Saat pembagian warisan Perkebunan, Cokro menyerahkan pada anak dari istri pertama: Retna Astuti. Sedangkan Nyi Birah dan Nila diberi beberapa tanah petak. Retna yang merasa memiliki Perkebunan itu secara sah, mengambilnya dari tangan Nyi Birah. Kedaangan Retna ke Perkebunan bersama suaminya, Heri Widodo, disambut dengan kasak-kusuk bahwa Cokronanggolo bangkit dari kuburan.
Penduduk selalu ketakutan bila malam tiba. Semakin hari
penduduk semakin tercekam oleh suara gong yang bertalu-talu dan lolongan
anjing. Bangkitnya Cokronanggolo dari kuburan bukan sekadar isapan jempol. Konon,
ada penduduk yang ditemuinya. Heri tidak mempercayai kasak-kusuk itu. Toh, ia
jadi penasaran.
Penasaran Heri pun terjawab, ketika ia melihat kursi Cokronanggolo bergoyang sendirinya. Tapi, Heri tetap tidak yakin. Maka, Heri menemui Nyi Birah. Tapi Nyi Birah menolak bila tanpa lebih dulu ada perjanjian. Pada saatnya pun, Heri dan Retna dipanggil oleh Nyi Birah. Nyi Birah mengatakan, Cokronanggolo telah bangkit kembali, dan berpesan padanya bahwa perkebunan ini tidak boleh dijual.
Tapi, keyakinan Retna musnah ketika Retna ditemui Cokronanggolo. Heri semakin bingung melihat kenyataan Retna yang semakin tidak menentu keadaannya. Para pembantu di Perkebunan – Danu Suroto, Nila, Gito, dan Tina – semakin percaya kebangkitan Cokronanggolo. Apalagi Nyi Birah pun ingin mempertemukan Cokronanggolo dengan Retna Astuti.
Ditulis oleh: Bujang Praktiko
NYI BIRAH
Retna Astuti – Tetty Liz Indriati
Heri Widodo – Nizar Zulmy
Nyi Birah – Citra Dewi
Danu Suroto – Sarifudin
Nila – Anggraini Joned
Gito – Rengga Takengon
Cokronanggolo – Budi Schwarzkrone
Tina – Gita Triswardani
Penulis skenario: Darto Joned
Sutradara: Darto Joned
Produksi: TVRI Sta. Jakarta
Batas usia: 17 tahun ke atas
Dok. Monitor – No. 136/III/minggu ke-1 Juni 1989/7-13 Juni 1989, dengan sedikit perubahan





Komentar
Posting Komentar