NYANYIAN PERNAK PERNIK KEJUJURAN, MEMANG LUCU. SOAL MUTU, TUNGGU DULU (PONDOKAN, TVRI - RABU, 1 JUNI 1988 Pkl: 21.30 WIB)

TEMPEL. Suasana rekaman gambar Pondokan. Asal tahu saja, loteng Pondokan memang bukan loteng asli. Enak saja pengarah acara Agus Wijoyono menginjak genteng memberi pengarahan. Habis gentengnya nempel lantai studio

DUA penulis skenario Pondokan (TVRI), Daniel Conk dan Alex Suprapto Yudho, (waktu itu) rupanya belum serasi. Tokoh tetap Pondokan yang (waktu itu) baru ini memang sudah muncul sebelum Serenada. Malah sebagai tokoh utama. Dipasangkan dengan anak bu Dedeh yang jadi pelaut dan pulang karena patah hati. Gito Rollies memainkannya.

Eh, tiba-tiba (belakangan itu) nongol lagi. Lulus Ebtanas, lagi. Ke mana dia ngumpet selama Neno Warisman numpang sebentar di Pondokan tidak diseibut-sebut. Bisa saja sebeutlnya Conk mengoreksi kelalaian Alex. Dialog apa kek. Tapi, begitulah. Yang lebih ngeri lagi setelah tayangan kali ini, Pernik-Pernik Kejujuran (PPK), seorang penulis baru (kala itu) untuk Pondokan dicoba. Entah bagaimana jadinya kalau kerjasama antar penulis (waktu itu) masih begitu-begitu juga.

Ide Conk agar ada satu pengawas berkesinambungan cerita, tampaknya (waktu itu) masih sekadar ide. Maka, jangan heran kalau nantinya terjadi kelainan lagi dalam prewatakan tokoh, juga tema yan gitu-itu saja, seperti yang tampak dalam PPK. Cinta, cemburu, dan salah paham, sepertinya tidak habis-habisnya. Begitu pula adegan baca surat, melamun, dengar lagu di radio, dan lagu yang ditempelkan di akhir cerita.

Setelah set diperbaiki, mutu gambar, dan tata lampu jadi perhatian, para pemain juga kebagian ketenaran. Kok malah di segi cerita jadi berantakan? Kedisiplinan tampaknya juga (waktu itu) mulai kendor. Kekompakan juga melorot. Serenada Biru, menurut pengarah acara Irwinsyah, mulur lebih karena ketidakdisiplinan pemain mematuhi jadwal syuting.

Beberapa episode Pondokan memang ditayangkan oleh RTM, minggu kelima Mei 1988 lalu. Tapi, tunggu dulu. Jangan buru-buru bicara soal mutu. Kerepotan masih banyak. Soal lagu, soal lokasi, dan produk tertentu. Produser tampaknya mulai melirik untuk memanfaatkan. Kejelasan sikap TVRI, ketegaran sikap pendukung Pondokan (waktu itu) sedang dalam ujian. Pemirsa nantinya (waktu itu) akan bisa menyaksikan sendiri semuanya ini.

 

SOLIDARITAS. Winda dan Enny bicara solidaritas. Sayang keliru. Padahal, tata cahayanya sudah bagus, lho 

PECAH, PERANG. Tidak jauh berbeda dengan Pondokan sebelumnya. Conk memasukkan penghuni baru, Nuning. Diperankan oleh Nindy Ellese yang aslinya penyanyi. Muning jadi ganjalan buat Winda.

Pasalnya, dua-duanya latihan nyanyi. Siapa lagi pembimbingnya kalau bukan Rio alias Sys NS, sang calon pacar Winda? Nah, dasar anak-anak, Winda curiga Nuning mau merebut Rio. Padahal, Rio juga belum apa-apanya. Jadi, serba salah dia. Melamun, dengerin radio, dan sebel melihat Nuning yang tidak tahu persoalannya.

Repotnya lagi, cuma ada dua calon penyanyi yang akan dikirim dalam lomba cipta lagu dan ovkal. Nuning atau Winda. Dan Winda takut tersingkirkan. Sahabat kentalnya, Enny, mulai tahu perkaranya. Selain prihatin, juga ikut kesal pada Nuning, Enny mulai ngoceh.

Namanya cerita, Nuning mendengar di tangga loteng. Perang mulut pecah. Seharusnya seru kalau mereka berkelahi betulan. Sayang, Wenny yang tinggi dan kuat datan gmelerai. Ditambah kedatangan bu Dedeh dan bu Entin, keramaian cuma berlangsung sebentar.

Di kampus, Nuning mencoba bicara dengan Winda. Di situ baru kteahuan sikap Nuning. Ia belajar vokal hanya untuk menopang karir. Kedengarannya lucu. Mahasiswi – entah fakutlas apa – belajar vokal untuk menopang karir.

Tapi siapa tahu memang betul begitu. Masih banyak Nuning-Nuning lain yang karirnya malah belajar vokal? Dan seterusnya. Winda jadi serba salah. Rio menelanjangi segala kekurangan Winda. Habis-habisan! Walaupun di akhir kalimat, sempat saja Rio membuat celoteh kecil “Kalau kamu mau marah, marah deh. Aku terima, karena aku sayang sama kamu, kok.”

Tapi, solidaritas antar teman sudah berlanjut. Gadis pengiring yang dipimpin Mira ngambek. Tinggal Nuning dan Rio, pemain band dan satu gadis pengiring yang tidak tahu persoalan Winda. Latihan gagal total. Nuning pulang dan langsung masuk kamar Winda. Berhadapan muka.

Di sini rupanya Conk memberikan teknaan sesuai dengan judulnya. Menyanyi sebagai karir, menutup Pondokan. Padahal, kata Irwinsyah, lagu di Pondokan dulu-dulunya (sebelum 1988-red) sebetulnya dimasukkan sekadar untuk mengganjal lemahnya naskah.

Ditulis oleh: Rachmat Riyadi

Dok. Monitor – No. 83/Tahun II/minggu ke-1 Juni 1988/1-7 Juni 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer