NOVIA KOLOPAKING: "SAYA TAKUT... MASIH SUKA NANGIS."

 
RADIO: SAUR SEPUH. Pada saat berusia 15 tahun, pengalaman apa yang istimewa? Kalau pertanyaan ini ditujukan kepada pembaca tabloid ini (Monitor-red), mungkin tak banyak yang tersisa. Novia Sanganingrum Saptarea Kolopaking, yang bertinggi-berat (waktu itu) 160-48 juga begitu. Namanya dikenal lewat tokoh Dewi Anjani, generasi kedua dalam tokoh-tokoh Saur Sepuh, sesudah Mantili dan Brama.

“Saya nggak bisa komentar soal cowok. Saya belum ngerti.” Memang malah aneh kalau ia (waktu itu) mengerti banyak. Lalu, bagaimana menjiwai lagu cinta, seperti dalam Salah Tingkah?

“Saya cuma menyanyikan saja. Dikasih begitu, ya saya terima.” Ia bersepeda, menyukai olahraga, dan main dengan anak kecil (era itu) tetangganya. Ia tak beda dengan yang (waktu itu) biasa membaca majalah HAI. Generasi yang (kala itu) sedang tumbuh, yang (waktu itu) belum tahu persis apa yang ddiinginkan, dan (saat itu) mulai sedikit tahu apa yang tak diinginkan.

Barangkali itu sebabnya, selalu ada mamanya yang menyertai. Dalam kegiatan sekolah, atau diwawancara, atau dipotret. Kalau tak ada mama? “Saya takut. Saya masih suka menangis kalau nggak ditemeni.” Ah, beruntunglah kamu, Novia. Tapi, remaja (era itu) yang lainnya, yang jumlahnya jutaan, siapa yang menemani? Kalau pertanyaan ini ditujukan ke pembaca, apa jawabnya? (Tentang yang lain, hal. 7 Monitor No. 65/Tahun II/minggu ke-5 Januari 1988/27 Januari-2 Februari 1988).

VIA DEKAT MAMA, TANYA TENTANG HAID SEGALA

BANDEL. Novia, selanjutnya ia minta dipanggil Via saja, kelahiran Bandung, 9 November 1972, memang bukan gambaran remaja (era itu) yang sarat prestasi. Yang rada istimewa, yakni juara III ‘pop singer’ pelajar se-DKI Jakarta dan juara harapan III ‘pop singer’ remaja 1987. Selebihnya? “Ah, cuma dulu waktu SD sering mendapat rangking lumayan di kelas.”

Kesenangan menyanyi tertampung di Sanggar Prathivi. Sesuai dengan umumnya – kala itu 10 tahun sebelum bacaan ini dimuat Monitor (1978-red), Via menyanyikan lagu anak-anak. Sempat rekaman 2 album, sebelum kemudian beralih ke rekaman cerita anak-anak yang diproduksi Sanggar Cerita.

Tapi sebelum itu, Via dua kali muncul di televisi (TVRI-red) mengisi acara Taman Indria. Lalu bergabung dengan Keluarga Sari, drama untuk anak yang biasanya disiarkan TVRI pada Sabtu sore, sampai satu setengah tahun. Ikut Bina Vokalia pimpinan Pranadjaja 3 bulan, selanjutnya latihan sendiri. Via, 1988 kelas III SMP, adalah tipe remaja (waktu itu). Lincah, ceria, dan kadang bandel.

“Bandelnya sih bandel konyol. Pulang sekolah sama teman-teman suka iseng mencet bel rumah orang. Terus lari. Atau kalau siang nggak boleh keluar. Diam-diam malah jalan-jalan pakai sepeda.” Hanya sifat kekanak-kanakannya (kala itu) memang masih belum dapat ia hilangkan. Hampir segalanya sang mama ikutan. Memilih baju, aksesoris, menunggui rekaman, dan lainnya.

Via mengaku begitu dekat dengan mama. Mama jugalah yang mengurus kontrak rekaman, ‘show’, atau yang menyangkut soal pribadi. “Dulu (jauh sebelum 1988-red), mama yang memberi tahu kalau saya nanti akan mendapat haid. Mama bilang saya nggak usah takut, karena semua wanita pasti akan mendapatkannya.”

Dan benar, Via (waktu itu) telah siap. Kedatangan “tamu” pertama, setahun sebelum bacaan ini dimuat Monitor (1987-red), tak membuatnya kaget. “Pertamanya saya cerita sama teman. Lalu akhirnya saya ceritain juga sama mama.” Hanya terkadang yang membuat merasa rada menghambat kegiatannya, “Kalau pas begitu bawaannya males aja.”

Gadis (era itu) yang doyan bakso, dan tak dapat melepaskan kebiasaan menggigit kuku jarinya ini toh sadar, bahwa kegiatannya menyanyi dan rekaman sandiwara radio, sedikit banyak ada pengaruhnya terhadap pendidikan formalnya. “Kebetulan sekolah saya suka-suka memberi dispensasi. Tapi SMA nanti saya akan minta guru privat. Sebab nggak semua sekolah mau memberikan keringanan, khan? Dan biar saya nggak ketinggalan pelajaran.”

 

BINTIK. Ketiga dari empat bersaudara keluarga Suprapto Kolopaking asal Banyumas dan Rinalty Adenan asal Sumatera Barat. Via ikut mendukung Saur Sepuh sejak 6 bulan sebelum bacaan ini dimuat Monitor (Juli 1987-red), di episode Mutaira Dari Timur.

Komentarnya, “Lebih susah main sandiwara radio daripada menyanyi.” Entah lantaran itu pula atau memang ada alasan lain, terbetik kabar bahwa peran Anjani yang selama itu ia mainkan (waktu itu) akan diganti. “Kalau jadi diganti, ya saya mau berkonsentrasi ke naynyi. Tapi, jika ada tawaran main sandiwara radio lagi, saya sih mau aja.”

Tak tersirat rasa kecewa, tak terlintas keinginan untuk bertanya kenapa, padahal lewa lakon itulah justru namanya mulai akrab di telinga. Apa karena dia tak mengerti? Apa karena ia tak menyadari? Bisa jadi. Senang memakai celana panjang – ukurannya (waktu itu) 27 – dan baju rada kebesaran, Via yang punya kaki untuk sepatu ukuran (waktu itu) 38, kebanyakan berwarna hitam dan putih ini betul-betul (waktu itu) masih hijau.

Jangankan tentang dunia artis, soal cinta monyet ia dengan malu-malu menggeleng (saat itu). “Banyak sih teman cowok, tapi ya cuma teman begitu aja.” Dilaran gmama atau papa? “Ah, enggak, saya saja yang belum kepengen.”

Namun, bukan berarti ia (waktu itu) tak memiliki – katakanlah – dambaan. Tinggi, berbadan atletis, kumis tipis, dan senang berpakaian sportif, itulah idolanya. “Banyak sih yang begitu. Dan saya hanya senang ngelihatnya. Paling-paling dalam hat ibilang, huuh, keren lho. Udah gitu saja.”

Sementara ia merumuskan dirinya sendiri sebagai cewek yang rada cuek. Katanya, ia dapat begitu kalau sama orang yang sudah dikenal. “Sama yang baru kenal pura-pura malu-malu. Eh, udah lama kenal jadi malu-maluin,” candanya.

Terus terang, Via yang sadar akan keindahan matanya bilang, ia sekali-sekali pakai bedak atau ‘lipstick’ baru-baru itu. “Sebelumnya nggak pernah. Risih rasanya kalau pakai.” Termasuk juga anting, gelang, dan kalung. Cuma mau rekaman di TV, ‘show’, atau ada undangan resmi ia mau berdandan. Satu hal yang menyebabkan ia tak suka dengan aksesoris dan kuningan. “Saya alergi. Dipakai sebentar kulit saya bintik-bintik merah kayak kena biang keringat.”

BONEKA. Via benar-benar “anak mami” (waktu itu). Lebih memilih berenang, tinggal di rumah baca buku, atau main boneka-bonekaan, daripada ikut teman kelayapan. “Terkadang saya merasa kesepian juga kalau papa dan mama nggak di rumah. Main sama kakak atau adik terus ya bosan, mau kegiatan di sekitar rumah, orangnya sudah pada gede-gede.”

Bila rasa itu muncul, Via sendiri bingung cara mengatasinya. “Udah sebel banget, tidur saja.” Ingin menyatukan 2 bidang yang berlainan, itu cita-citanya. Di satu sisi ia berharap berhasil dalam studi (“saya ingin jadi insinyur pertanian”), satu sisi lagi bisa terus menyanyi. Seumpama, ini seumpamanya lho, yang terakhir terpaksanya dijadikan pilihan – saat itu sebagai pendatang baru – setidaknya berbagai keuntungan telah ia miliki.

Terlepas dari teknik menyanyi atau warna, suara, paras, dan penampilannya sudah cukup untuk menarik perhatian. Peranan orangtua pun sejalan. Begitu juga kesempatan telah ia dapatkan. Maka, segalanya tergantung padamu, Novia.

Ditulis oleh: Tavip Riyanto

Alamat Novia Kolopaking (waktu itu):

Jl. Bangun Cipta I/F39

Komp. Bumi Harapan Permai

Kramat Jati – Jakarta Timur

Dok. Monitor – No. 65/II/minggu ke-5 Januari 1988/27 Januari-2 Februari 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer