NOVARIS
BAGI Guntur Novaris Arifidiatmo – yang kemudian lebih suka menyingkat namanya menjadi Novaris saja – tidak ada kesulitan yang mengganggu kendati Keluarga Rakhmat (TVRI Programa 1) disutradarai oleh beberapa orang bergantian. Selain Novaris, ada Putu Wijaya dan Fritz G. Schadt. “Semua karakter tokohnya sudah jelas. Dan ke mana arah serial ini, jauh-jauh hari kita sudah bicarakan,” ujar ayah tiga anak, yang waktu kecil bercita-cita jadi pelukis ini.
Tentang komentar-komentar sumbang yang dialamatkan ke Keluarga Rakhmat, dia bilang, “Serial ini punya misi khusus: pola hidup sederhana. Jadi, ‘setting’-nya, juga ceritanya, kita buat sesederhana mungkin. Umumnya orang khan lebih suka melihat impiannya daripada melihat kenyataan sehari-hari?”
Apa bukan karena naskahnya yang kurang mendukung? “Sebelum naskah sampai ke saya, terlebih dulu diperiksa oleh ‘story editor’, Tatiek Maliyati. Yang harus saya lakukan, bagaiman abisa berbuat maksimal dari bahan yang ada itu. Kalau hanya ada bambu, masa saya bermimpi pengen buat rumah megah?”
Sampai saat itu, laki-laki kelahiran Jakarta, 13 November 1949, ini sudah malang-melintang di dunai film, 12 kali menjadi asisten sutradara. Tetapi ketika diminta menyebutkan judul-judul film tempatnya menjadi astrada. “Itulah, saya ini orangnya pelupa. Tapi yang terakhir yang masih ingat Irisan-Irisan Hati.”
Menurutnya, menjadi sutradara di PFN adalah yang membuatnya bahagia. Ia merasa bias berekspresi maksimal. “Tuntutan komersialnya khan nggak ada. Jadi, kita merasa ada sesuatu yang positif yang bisa kita sampaikan kepada penonton.” Menurut lulusan jurusan sinematografi IKJ ini seorang sutradara harus punya kepekana untuk menyerap apa yang ia lihat dari lingkungan. Ngomong-ngomong, kenapa tidak jadi pemain saja?
Ditulis oleh: Yanto Bhokek
Dok. Monitor – No. 150/III/minggu ke-3 September 1989/13-19 September 1989, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar