NAMANYA KETERAMPILAN KELUARGA (TVRI PROGRAMA 1). EH, MALAH KURANG KETERAMPILANNYA
MASKER, MAWAR. Akhir tahun 1988, pernah ada rencana dari
TVRI Stasiun Pusat Jakarta menghapus acara Keterampilan Keluarga yang
sebelumnya bernama Acara Untuk Keluarga, dari susunan acara. Tapi tidak jadi.
Hanya frekuensi siarannya saja yang dikurangi. Dari tiap minggu, jadi 2 minggu
sekali. Tidak jadi lagi. Dan disiarkan tiap minggu seperti semula, sampai saat
bacaan ini dimuat Monitor (pertengahan 1989-red).
Perubahan nama, dari Acara Untuk Keluarga menjadi Ketermapilan Keluarga, dapat disimpulkan sebagai upaya penyusun acara untuk mempersempit ruang lingkup pembahasan. Yang fokusnya menyangkut keterampilan. Entah keterampilan memasang sanggul, atau ketermapilan membuat meja dapur. Memasak berbagai kue, atau aneka hidangan. Menjahit baju tanpa pola sampai membuat tutup ranjang yang diisi busa.
Lulur melulur badan, masker-maskeran wajah, sampai perawatan sesudah melahirkan. Cara merangkai bunga, dari Ikebana, atau mawar sampai rangkaian tanpa nama. Membuat bunga dari daun lontar, sampai dari kantong plastik bekas. Toh dalam penyajian, unsur keterampilan kurang terasa dalam beberapa acara. Perawatan kecantikan dengan ramuan tradisional misalnya.
Temulawak yang konon punya khasiat mengobati jerawat, menurunkan kolesterol, disajikan begitu umum. Sampai tak ketahuan juntrungannya. Mau memberikan resep ramuan, komposisi bahan tidak disebutkan. Mau dibilang ketermapilan mengutak-atik wajah, trik, dan tekniknya tidak dijelaskan.
Dan yang terasa kurang unsur ketermapilannya. Sebagian masih tertolong karena mengandung informasi yang bisa digunakan masyarakat. Misalnya, bagaimana merawat muka berjreawat. Atau cara memilih sampo. Di sini, keterampilan fisik memang taka da. Tapi setidaknya ada penuntun praktis bagi para pemirsa.
Pemilihan materi, terkadang juga terasa seadanya. Bagi pihak TVRI, daripada tidak ada materi. Kalau hasil akhir bagus, ya jadilah. Bagi pengisi, pokoknya bisa tampil di layar TV, ditonton orang se-Indonesia. Mungkin juga ada motif, pesan terselubung. Yang ini masih bisa ditolerir, kalau para pemirsa bisa memetik manfaatnya. Tambah terampil, tambah pinter.
Untuk kategori indah, tapi manfaatnya kurang terasa, bisa
disebutkan contoh, bunga dari daun lontar. Atau ketupat hias berbentuk aneka
satwa. Lontarnya sendiri tidak terdapat di semua tempat.
Pemrosesannya juga cukup rumit. Perlu pemutih dan zat kimia lainnya. Juga perlu solder Listrik yang harganya variatif, antara Rp 3.000,00 sampai Rp 30.000,00. Uang segini, untuk kalangan tertentu mungkin jadi masalah. Padahal, ada bahan lain yang lebih mudah didapat, manfaatnya lebih optimal, dan biayanya murah.
KANTONG, SELONGSONG. Ketupat berbentuk aneka satwa hanya
populer untuk kalangan tertentu. Di luar kalangan itu, dalam kehidupan yang serba
sibuk ini, orang mungkin lebih senang membeli. Toh, selongsong ketupat yang
dijual di pasar harganya (wkatu itu) masih terjangkau kantong.
Kalaupun materinya sulit dicari, atau memerluakn ketekunan dan waktu untuk mengumpulkannnya, sebaiknya pengisi acara memberikan pilihan bahan lain. Hiasan kolase dari biji-bijian, misalnya, tak harus dengan biji saga, atau biji salak.
Untuk daerah tertentu, biji salak mungkin bisa diganti dengan biji karet yang warna dan bentuknya kurang lebih sama. Untuk mudahnya, mungkin bisa memakai biji-bijian yang dipakai di dapur. Dari cengkeh, biji lada, yang putih maupun yang hitam. Kacang hijau atau kacang kedele. Atau kacang tolo. Disertai penjelasan proses pengawetannya supaya tidak rusak dimakan binatang-binatang kecil.
Karena tidak semua pemirsa berbakat menggambar, sebaiknya disertakan juga contoh sketsa dengan beberapa variasinya. Komposisi yang asimetris itu yang seperti apa. Yang sentral atau horizontal itu yang bagaimana. Kalau ingin membuat variasi, cara mengubahnya bagaimana.
Ada materi yang sebetulnya memerlukan penyajian bertahap. Membuat anjing-anjingan dari benang wol, misalnya. Bagi yang tak bisa merajut, pasti akan mengalami kesulitan. Lalu ramai-ramai menulis surat ke pengisi acara, minta diajarkan secara tertulis.
“Kalau ngomong lewat surat khan susah ngajarinnya. Mestinya datang dan dicontohin,” begitu Ny. Elylia, yang sehabis siaran, menerima setumpuk surat pemirsa. Yang asal Jakarta maupun yang luar kota. Sebaiknya, pertama kali disiarkan cara merajut. Dari membuat tali air atau rantai sampai membuat berabagai tusukan. Kemudian baru meningkat. Membuat anjing-anjingan yang sederhana sampai panda yang rumit misalnya.
Kalau perlu, ragakan sekalian cara memegang jarum. Atau cara menarik benang supaya rajutanya tidak terlalu kendor, juga tidak terlalu ketat sampai ketarik-tarik. Untuk acara masak-memasak yang belakangan itu terasa agka langka, sebaiknya mengetengahkan masakan dari bahan-bahan yang mudah didapat dan cara masaknya tak memerlukan peralatan modern.
Kalaupun peralatan seperti itu tak mungkin ditinggalkan, pengisi acara sebaiknya mencontohkan peralatan pengganti. Lalu jelaskan perbedaan yang terjadi dan apa yang harus dilakukan supaya hasil jadi tak meleset jauh. Untuk memanggang misalnya. Oven gas bisa diganti dengan oven biasa yang ditumpangkan di atas kompor minyak, misalnya.
Sesekali, mungkin bisa dijadikan ketermapilan yang bisa dijadikan usaha sampingan. Membuat bantal hias, yang di dalamnya diisi busa miaslnya. Atau pita aneka motif dan corak untuk hiasan rambut.
Tentang kurangnya pengisi acara, mungkin bisa diumumkan seperti model pengumuman acara Berpacu Dalam Melodi (juga diputar TVRI-red). Kalau mau jadi pengisi acara, surat-surat harus dikirimkan ke mana? Atau TVRI mungkin (waktu itu) sudah memikirkan imbalan honor yang ckup menarik? Bagi produsernya sendiri, dituntut kepekaan membaca kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, acara ini menjadi acara yang ditunggu setiap saat. Eh, setiap minggu…
Ditulis oleh: Irene Suliana
Dok. Monitor – No. 135/III/minggu ke-5 Mei 1989/31 Mei-6 Juni 1989, dengan sedikit perubahan





Komentar
Posting Komentar