MUTIARA SANI (APA YANG KAU CARI ADINDA, SEPEKAN SINETRON/TVRI - JUMAT, 26 AGUSTUS 1988 Pkl: 21.30 WIB)
“BAHAGIA sekali rasanya, sebab, saat-saat ini (1988-red) saya jadi murid TK. Lucu, memang. Saya ini nenek-nenek. Kok ya mau-maunya mengikuti pelajaran di dalam kelas? Ya, sayalah akhirnya murid yang paling tua, murid yang paling alim, yang paling patuh, dan yang mau mendengarkan nasihat,” cetus Mutiara Sani, pimpinan Sanggar Pelakon, Jakarta.
Bukan mengada-ada bila saban pagi Mutiara berbenah diri menyiapkan peralatan sekolah. Maklumlah, si bungsu, Meezan Khalil Gibran, (waktu itu) sudah memasuki TK. Hal ini yang membuat kelabakan – setidaknya – Mutiara dalam memerankan ibu rumah tangga sesungguhnya. “Saya ini khan ibu yang sangat menyayangi anak-anak. Ibu ideal, gitu. Sulit saya pisah dengan Gibran.”
Maka tidak heran jika selain Mutiara menjadi murid yang baik, ia pun menemani si bungsu itu bermain ayunan atau ikut berlari ke sana kemari. Kok kayak adegan di sinetron? “Nyatanya gitu, dan pak Asrul (maksudnya Asrul Sani, suaminya-red) tertawa jika saya ceritakan.” Tapi, omong-omong, apakah kiash tersebut ada dalam skenario?
“Saya tidak bisa menjawab. Tergantung pak Asrullah. Saya ini hanya pemain,” ujar Mutiara yang (belakangan itu) sibuk syuting sinetron Arus Bawah, skenario ditulis – siapa lagi kalau bukan – Asrul Sani.
Ditulis oleh: Syamsuddin Noer Moenadi
Dok. Monitor – No. 95/II/minggu ke-4 Agustus 1988/24-30 Agustus 1988, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar