MUTIARA-MUTIARA: "KEMBALI BERTANYA PERIHAL KODRAT WANITA" (FILM CERITA AKHIR PEKAN, TVRI PROGRAMA 1 - SABTU, 22 APRIL 1989 Pkl: 22.30 WIB)
‘DOOR Duisternis Tot Licht’, karya Kartini, yang lalu
di-Indonesia-kan jadi Habis Gelap Terbitlah Terang, yang disunting J.H.
Abendanon itu, berapa jauh pengaruhnya terhadap wanita Indonesia? Jawabnya:
kenyataan sejarahlah yang menjawab.
Kenyataannya: pikiran Kartini masih menimbulkan pro dan kontra. Seperti juga dalam sinetron Mutiara. Mutiara yang menceritakan dua gadis – Asih, dokter, dan Mutiara, mahasiswi. Setelah lulus dari fakultas kedokteran, Asih mengabdikan ilmunya pada masyarakat desa.
Ia menyadari, sebagi dokter harus mengabdi pada kemanusiaan, terutama di pedesaan yang kurang pelayanan medisnya. Idealisme Asih ini sampai mengorbnakan kepentingan dirinya. Ia korbankan cintanya pada Andri. Andri sendiri telah gagal merajuk Asih untuk meninggalkan desa antah-berantah itu. Pupuslah harapan Andri mempersunting Asih.
Andri hanyut dalam pola pikir bahwa seorang dokter harus tinggal di kota, karena di kotalah pusat perekonomian. Dan pola pikir Asih? Dikesankan mendapat inspirasi dari pikiran Kartini. Toh, Asih terlalu jauh melewati batas kodrat keawnitaan. Pertemuan Asih dengan Mutiara, merupakan titik singgung pola pikir Kartini yang dipertanyakan. Mutiara memutuskan hubungan cintanya dnegan Hendra, karena kena penyakit kanker rahim.
Sebagai wanita, Mutiara menilai dirinya tidak sempurna. Mutiara berniat mengadopsi anak. Tindakan Mutiara mengadopsi anak itu menimbulkan problem bagi orangtuanya. “Masa seorang mahasiswi, masih gadis, kok mengadopsi anak?,” tanya pak Barnas. Pemikiran Mutiara yang tidak bisa diterima orangtua ini dijelaskan pada Asih.
“Saya tidak bisa hamil. Kalau sekarang (1989-red) saya tidak
mengadopsi anak, pada umur 50 tahun, saya tidak ada yang merawat. Dan saya akan
masuk panti jompo. Sampai berapa jauh masyarakat yang abdi menolong kita?”
Mutiara ingin praktis. Ia bayangkan, jika kawin dan suaminya takut dirinya tak
bisa hamil, suaminya akan kawin untuk kedua kalinya.
Kesimpulannya, sosok Mutiara dan Asih saling bertanya: adakah lelaki yang akan melmar gadis Mutiara yang sudah punya anak angkat? Adakah lelaki desa melamar Asih yang intelektual? Titik singgung Mutiara dan dr. Asih ini memang bukan suatu konflik, tapis ama-sama tak mampu merumuskan eksistensi seorang wanita. Dr. Asih dan Mutiara memang memiliki jalan pikiran yang berbeda dalam merumuskan dirinya sebagai wanita.
Tapi, mereka tidak pernah berani menyatakan pemikiran yang benar. Asih yang mengabdi pada ilmu kedokteran, akhirnya merasa perlu menggugat keyakinannya setelah berdialog dengan Mutiara. Sedangkan Mutiara, setelah perlu berdialog dengan Asih, malah mantap dengan pendiriannya. Intelektual wanitakah yang jadi kendala? Atau malah ketidakmampuan memberikan keturunan? Alangkah susahnya jadi wanita, ya?
Ditulis oleh: Bujang Praktiko
MUTIARA-MUTIARA
Dr. Asih – Pipiet Sandra
Mutiara – Arnie Kasidi
Andri – Nugraha
Iwan – Hendry Hidayat
Pak Barnas – Syamsuri Kaimpuan
Bu Barnas – Sri Rejeki
Skenario: Boyke Muhammad B.
Pengarah acara: Vick Hidayat
Produksi: TVRI Pusat Jakarta
Dok. Monitor – No. 129/III/minggu ke-3 April 1989/19-25 April 1989, dengan sedikit perubahan




Komentar
Posting Komentar