MERTUA-MENANTU SALING BERPACU (BERPACU DALAM MELODI, TVRI PROGRAMA 1 - SABTU, 17 MARET 1990 Pkl: 21.30 WIB)
PERTARUNGAN antara mertua dan menantu di sebuah rumah
tangga, boleh dikata merupakan hal yang lumrah. Tapi, kalau pasangan mertua bertarung
dengan pasangan menantu dalam hal kepandaian menebak lagu, kayaknya baru
terjadi kali ini, dalam acara Berpacu Dalam Melodi (TVRI Programa 1).
Sang mertua, Annie dan Hidayat, malam itu mau tak mau harus menghilangkan sungkan atau rasa mengalah terhadap menantunya. Sebaliknya, sang menantu pun, Tiene dan Gunarso, juga harus menghilangkan rasa rikuh atau ‘pakewuh’ terhadap sang mertua. Soalnya, kalau perasaan ini timbul, bisa-bisa mereka berempat, tidak ada yang memencet bel.
Tapi, tidak kok, mereka tetap bermain seperti apa adanya. Tak ada sungkan-sungkanan. Bahkan Tiene, putri Annie, pada babak awal melaju dengan penuh semangat, meski sang ibu kemudian menyusulnya dengan langkah yang pasti. Bahkan sempat meninggalkan hingga nilai 50. Sementara sang menantu dan suami baru meraih nilai 10 dan 20. Dalam hal ini, pertarungan yang terjadi memang hanya di bagian putri.
Sementara masing-masing suami lebih terlihat sebagai pendamping, meski tak mengurangi kemeriahan acara, seperti yang ditunjukkan pasangan Hidayat-Annie dengan berduet bersama menyanyikan lagu Euis dari daerah Sunda. Yang kemudian disambung oleh pengunjung yang datang menonton secara langsung, biarpun Koes Hendratmo sempat meledek akrab pada mereka, bahwa sebagian penonton cuma menumpang mangap tapi tak bersuara.
Sebuah ledekan akrab yang cukup menghidupkan suasana (harapan waktu itu – mudah-mudahan tak dihilangkan penyunting gambar). Gampangnya saja, Berpacu kali ini cukup menarik. Paling tidak, melalui acara ini telah disuguhkan suatu kekompakan, dan keharmonisan sebuah keluarga.
Di tengah galaunya isu yang menyatakan bahwa banyak keluarga di Jakarta ini sudah cenderung senewen dengan urusan pribadinya, maka embusan angin ini cukup menyejukkan hati. Apalagi ditingkah oleh musiknya Ireng Maulana All Stars dan suara lembut bintang tamu Iis Sugiyanto dan grup Masnait.
Dan karena pesertanya satu keluarga, maka untuk kali ini di antara mereka tak ada yang mundur. “Jangan pisahkan kami….” Mungkin begitulah pinta mereka, yang dalam hal ini disiratkan oleh ucapan pembawa acara Koes Hendratmo. Pernyataan ini pun diterima oleh Ani Sumadi. Bahkan bu Ani juga mengisyaratkan hal ini, bahwa mulai Maret 1990 tak ada lagi peserta yang mundur. “Sepertinya kok lebih meriah kalau mereka tetap berempat.”
Pilihan demikian juga ada baiknya. Artinya, keguyuban mereka tak hilang. Memang, terkadang mereka yang pintar belum tentu bisa bergaya di depan kamera. Sebaliknya, terkadang yang pengehauannya pas-pasan malah bisa menghidupkan suasana. Hanya saja, kalau yang ini menjadi pilihan, apakah darah kompetitif masih mengalir di tubuh mereka?
Mengingat mereka kayaknya tak tergiur akan adanya hadiah, meski (belaknagan itu) hadiah TV 20 inci diganti menjadi 29 inci. Ini bisa dibuktikan dengan banyaknya peserta yang menyumbangkan hadiah yang didapat dari bahan-bahan tertentu. (Harapan waktu itu) mudah-mudahan dugaan ini tak benar, sehingga Berpacu tak terlihat seperti sebuah sandiwara yang berselimutkan kuis. Itu saja.
Ditulis oleh: Gregorius “Gege” Sarsidi
Dok. Monitor – No. 193/IV/Minggu, 18 Maret 1990, dengan sedikit perubahan




Komentar
Posting Komentar