MEREKA YANG TERPISAH KARENA CAMPUR TANGAN MERTUA (RMD, TVRI - MINGGU, 28 AGUSTUS 1988 Pkl: 12.30 WIB)
SEJAK menggarap Rumah Masa Depan (TVRI), Ali Shahab terasa
bagai sedang menemukan suasana baru dalam kehidupannya. Kontemplasi rohaninya
terasa mengalir. Itu tercermin jelas dalam tema-tema dan pesan yang ditawarkannya
dalam berbagai episode RMD. Mereka Yang Terpisah, satu contoh lain, di mana Ali
secara serius menawarkan pesan-pesan rohaniahnya, meski tetap dengan
menyodorkan pendekatan emosional.
Antara lain, karena bahasa yang dipergunakannya sebagai titian pemahaman keseluruhan cerita yang ditawarkannya adalah bahasa agama. Tapi pada episode yang merupakan kelanjutan episode Yang Lepra Yang Terhina ini, Ali mulai mempersoalkan norma-norma agama dengan kenyataan sosial kehidupan sehari-hari.
Arkian, pak Kosim yang terhina dan diasingkan penduduk Cibeureum, karena mengidap penyakit lepra, sudah betul-betul diyakini sembuh. Warga desa Cibeureum pun sudah menerima dia seperti sediakala. Namun, ada persoalan lain yang belum selesai. Keinginannya untuk kembali hidup di tengah-tengah anak dan istrinya bleum juga terkabul.
Raden Sumantri, mertuanya, masih menolak kehadiran Kosim sebagai menantunya. Bahkan Nana, istri pak Kosim, yang mencoba meyakinkan bapaknya itu tak sanggup memberi keyakinan pada Raden Sumantri bahwa pak Kosim betul-betul sudah sembuh. Kosim pun gagal membawa pulang kembali anak istrinya, sementara Raden Sumantri makin kukuh saja bersikap, bahwa lepra itu cermin kutukan Tuhan.
Keluarga pak Sukri dilibatkan. Karena pak Kosim menghendaki begitu. Gerhana, putri pak Sukri bersukacita, ketika mengerti ayahnya mau membantu pak Kosim, sahabatnya itu. Kelanjutannya bisa ditebak. Raden Sumantri murka, apa urusan pak Sukri ikut campur urusan intern keluarga pak Kosim. Tapi, pak Sukri tak perduli. “Tahukah bapak, anak bapak dan suaminya adalah mereka yang saling mencintai dan diridhai Allah?,” tanya pak Sukri. Hubungan keduanya suci dan diberkati Allah.
Pak Sukri kembali mengingatkan, setelah keduanya menikah, Nana bukan lagi putra R. Sumantri. Tapi, istri sah dari pak Kosim. Artinya, sejak mereka menikah, R. Sumantri tak punya hak apapun atas anaknya itu, kecuali hubungan darah. “Bisa bapak bayangkan, betapa murkanya Tuhan terhadap orang yang sengaja memisahkan keduanya ini,” lanjut pak Sukri.
Bila dalam Yang Lepra, Ali Shahab menggugah kesantunan sosial dengan menyentuh kesadaran utnuk melihat problema kemanusiaan dalam suatu format yang kecil. Dalam Mereka Yang Terpisah, Ali melihatnya dalam format yang lebih luas. Karena di sini, ia juga menawarkan penampang yang jelas gambarannya tentang keterlibatan seseorang dalam kehidupan orang lain. Terutama dalam hubungan-hubungan antar pribadi di dalam masyarakat.
Ali Shahab memberikan suatu rentang batasan kebolehan dan ketidakbolehan seseorang memasuki kehidupan internal orang lain. Meski dalam kaitan hubungan bapak dengan anak. Episode ini, meski tak seluruhnya apik, menarik ditonton keluarga.
Setidaknya untuk para orangtua yang kebanyakan (waktu itu) masih terlampau terpaku dengan rumusan-rumusan hubungan orangtua-anak. Sehingga masih hendak mendominasi pengaruh dan kekuasaan emosionalnya pada sang anak. Melalui episode ini, Ali menawarkan penyadaran tentang hubungan antar pribadi yang semacam itu.
Khususnya penyadaran tentang batas kekuasaan emosional itu. Karena, seperti ‘nash’ agama menyangkut hubungan semacam ini, memang jelas digariskan bahwa ketika seseorang wanita sudah menikah, maka pada saat itu, ia sudah menjadi tanggung jawab suaminya. Dan bukan lagi tanggung jawab orangtuanya.
Akan halnya hubungan perkawinan, memisahkan pasangan suami-istri yang sah, merupakan perbuatan yang memercikkan dosa. Lantaran perceraian itu sendiri merupakan perbuatan halal yang dibenci Tuhan.
Ditulis oleh: N. Syamsuddin Ch. Haesy
MEREKA YANG TERPISAH
Pak Kosim – Bung Salim
Pak Sukri – Deddy Sutomo
Gerhana – Andi Anzi Septavi
Bu Sukri – Aminah Cendrakasih
Produser/penulis skenario/sutradara: Ali Shahab
Produser pelaksana: Hj. Rahayu Effendi
Produksi: Sepro Karya Pratama – TVRI
Dok. Monitor – No. 95/II/minggu ke-4 Agustus 1988/24-30 Agustus 1988, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar