MENYAMAR AGAR TERLAKSANA ASMARA YANG BERGELETAR (CONDRO KIRONO MURCO, TVRI - RABU, 31 AGUSTUS 1988 Pkl: 17.55 WIB)
KALI ini Sanggar Candra Laksita menampilkan cerita wayang
Condor Kirono Murco. Ini wayang versi Gedog. Karenanya, simbolisasi dan
struktur certitanya agak berbeda. Terutama ‘ending’-nya. Walaupun secara garis
besar hampir sama dengan versi cerita wayang lainnya.
Sarag alias Ratu Jin bertemu Prabu Klono yang ambisius untuk menguasai kehidupan manusia dengan segala cara. Ratu Jin itu gatal ingin menjelma menjadi Condro Kirono. Dengan segala tipu dayanya, Klono mengipas-ngipas Ratu Jin. Tapi untuk menjadi Condro Kirono tidak gampang. Apalagi cinta antara Condro Kirono dan Panji sudah kadung lengket seperti karet.
Untuk itu, Klono dan Ratu Jin meminta nasihat kepada Umo untuk merebut Condro Kirono. Umo sangat mendukung gagasan Klono dan ratu Jin yang edan itu. Ratu Jin dan Klono pun mulai mengadakan serangan. Ia menyuruh bala-bala setan untuk menyirep penjaga-penjaga Condro Kirono. Rencana ini berhasil dengan gemilang. Tapi untuk menundukkan suami-istri Panji, Ratu Jin mengubah ujdunya menjadi Condro Kirono.
Condro Kirono palsu ini berhasil mengelabuhi Panji, bahkan ia kemudian bermain asmara. Tapi, lama-kelamaan Panji merasakan keanehan pada diri “Condro Kirono”. Maka setelah semedi, ia berhasil mengetahui identitas Condro Kirono palsu itu. Cerita wayang umumnya menampilkan sosok hitam-putih. “Selalu saja yang hitam itu kalah," ujar Haryono, pengasuh Sanggar Candra Laksita ini.
Cerita Condro Kirono Murco memiliki identitas yang dalam dengan gerak tarian. Apalagi peran-perannya kebanyakan sudah permanen, sehingga Haryono tidak merasa sulit untuk mengatur laku. “Mereka sudah tahu persis dengan karakternya masing-masing,” ujar sarjana muda bahasa Jawa ASTI (Akademi Seni Tari Indonesia) ini. Toh, ruang ‘setting’ yang sempit membuat para penari kurang leluasa.
Ditulis oleh: Bujang Praktiko
Dok. Monitor – No. 96/II/minggu ke-5 Agustus 1988/31 Agustus-6 September 1988, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar