MENGGOSOK-GOSOK BINTANG LEWAT DI ANTARA BINTANG (TVRI)
BINTANG, BIMBANG. Bintang itu cemerlang. Itu setidaknya yang
tersirat dari syair lagu anak-anak. Maka tidak salah, setiap orang di setiap
lapangan, selalu berusaha jadi “bintan”. Namun, rupanya tidak semua bintang bernasib
cemerlang. Beberapa di antaranya, bahkan seperti tak memiliki “sinar”.
Gambaran macam ini muncul dari para bintang nyanyi hasil adonan BRTV (Bintang Radio dan Televisi). ‘Event’ penting untuk dunia olah suara negeri ini yang diselenggarakan tiap tahun, agaknya belum begitu menjanjikan (sampai saat itu) bagi para “bintang”-nya. Para bintang yang mendapat predikat yang kegiatan ini, banyak di antaranya yang langsung “tenggelam” seusai dinobatkan.
Dunia rekaman yang semestinya menjadi langkah lanjut para bintang ini, sepertinya enggan bermanis-manis padanya. Jadilah ia hanya bintang di atas kertas penghargaan yang “tenggelam” di antara sosok-sosok piala kenangan yang menjadi saksi bisu kemenangannya.
Padahal, untuk sampai ke tingkat juara BRTV Nasional, sekian perjuangan dari perjalanan berat mesti ditempuh. Dari seleksi di tingkat daerah, berjuang keras di tingkat provinsi dan akhirnya berlaga di ajang lomba tingkat nasional.
BINTANG TERANG. TVRI dengan acara Di Antara Bintang-nya yang ditayangkan sebulan sekali itu, agaknya mencoba menjembatani penyelesaian masalah di atas. Menyiasati persoalan bintang tak bersinar untuk keluar dari kemelut yang dihadapi. Sebulan sekali, para bekas bintang dipanggil secara bergiliran.
Menampilkan kemampuannya sebagai penyuara nada dan kata. Dari bintang keroncong, seriosa, sampai yang pop. Dari yang sukses berkutat di dapur rekaman, yang sekali dua masuk dapur rekaman namun tumbang, sampai yang tidak pernah sama sekali direkrut industri rekaman.
Hasilnya? Suara dan teknik menyanyi yang dibawakannya sesuai dengan predikat seorang unggulan. Bahkan kalau boleh jujur, rata-rata kemampuan mereka jauh di atas. Apalagi jika harus disejajarkan dengan para penyanyi yang mampu bercokol di pelataran musik kita lantaran cuma punya wajah cantik. Gambaran TVRI perihal kemampuan bekas bintang BRTV lewat Di Antara Bintangnya, jauh di atas kemampuan para penyanyi tersebut.
Jika Di Antara Bintang yang hadir lewat lensa TVRI sebulan sekali itu dimaksudkan untuk mengangkat citra sang bintang, sungguh ini suatu upaya yang patut dipuji. Hingga bintang-bintang yang tampak memudar itu bisa tergosok dan menjadi cemerlang. Di sisi lain, dari acara ini, masyarakat pemirsa bisa terajak untuk menjadi terbiasa mengapresiasi lagu-lagu secara benar. Sebagaimana kemampuan yang ditampilkan para bintang yang diundang dalam paket acara tersebut.
Yang akhirnya (waktu itu) akan menjadi selektif dan memiliki selera dengar yang lebih baik ketika akan membeli suatu produk rekaman. Dengan kata lain, produk yang cuma menawarkan sampul penyanyi cantik tanpa bobot suara, dapat menjadi produk yang dihindari konsumen.
TAYANG, SAYANG. Seperti semula, gagasan penyuguhan paket acara ini sungguh positif. Sayang visualisasinya yang kurang menarik. Bahkan terkesan ala kadarnya. Tak seimbang dengan obyek yang ditayangkan. Biar bagaimanapun, bintang yang dikemas dalam warna suram tak dapat menyemburatkan sinar cemerlang. Terlebih pengambilan gambar dengan latar alam. Bagaimanapun, alam lebih menyerobot minat perhatian mata. Hingga penyanyi bisa tidak menjadi objek sentral.
Akan lebih hidup lagi, jika paket ini dikemas seperti paket ‘live’ acara untuk musik jazz. Greget dari penayangan semacam ini lebih muncul dibandingkan gambar penyanyi tanpa gambar pengiring. 1988, tinggal bagaimana acara ini bisa berkelanjutan secara baik, agar mampu menarik produser rekaman untuk berbuat dan mengubah trend penyanyi yang berkembang selama itu.
Ditulis oleh: Marsis Santoso
Dok. Monitor – No. 95/II/minggu ke-4 Agustus 1988/24-30 Agustus 1988, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar