MELIHAT AMOS, MELIHAT SISI LAIN RUMAH MASA DEPAN

 
SEDIH, SEPI. Luar biasa. Teirma kasih pada TVRI, yang telah menayangkan kisah Amos. Berbobot dan sarat dengan pesan dan kesan yang mendalam. Amos merupakan suatu pribadi yang unik, menjelang usia senja dia seringkali diliputi keseidhan dan kesepian, terutama bila mengingat putranya yang telah gugur di medan pertempuran. Bahkan pada hari ulang tahun putranya, dia menjadi sangat depresif.

Alam perasaannya menjadi kelabu. Sehingga mempengaruhi perilaku dan penampilannya saat mengemudikan mobil beserta istrinya, sehingga terjadilah kecelakaan yang menewaskan istrinya. Dan Amos sendiri tidak sadarkan diri untuk waktu yang cukup lama.

Kesepian, suatu derita batin yang mencekam banyak orang. Terutama sering menyusup ke dalam lubuk hati para orangtua yang telah ditinggalkan anak maupun para cucunya, walaupun mereka masih berada di tengah kesibukan dan keramaian kota. Ketika Amos sadarkan diri, hampir tak ada lagi yang tersisa pada dirinya.

Istrinya tewas, harta bendanya habis terjual untuk menutup biaya pemakaman istri dan pengobatan dirinya, dan… seusai dengan peraturan yang berlaku dia harus masuk ke rumah jompo milik negara. Masuk ke sebuah “Rumah Masa Depan” bagi para lanjut usia yang menjanjikan banyak keakraban, kemudahan, dan kegembiraan serta perawatan yang memadai.

UNIK, FISIK. Namun, dalam kasus Amos, kenyataan jauh berbeda. Amos merasa tidak membutuhkan lembaga tersebut. Dia masih memiliki surat berharga yang bernilai jutaan rupiah dan walaupun pincang, Amos masih merasa mampu mandiri.

Peraturan dalam panti yang ketat, larangan untuk bekromunikasi dengan dunia luar, membuatnya makin kesepian, bahkan kini disertai kecemasan akibat terisolir dan terpisah dari lingkungannya. Dari sanak keluarga dan kerabat semula. Di sini Amos mengalami deprivasi dan alienasi yang mengguncangkan jiwanya dan dapat berakibat buruk pada ketahanan fisiknya.

Fenomena di atas sewajarnya dihayati oleh para pengelola rumah jompo, karena kita tidak hanya berhadapan dengan keadaan fisik seorang lanjut usia, namun juga berhubungan reat dnegan reaksi psikologik yang menyertainya. Kemudian, Amos melihat pembunuhan terhadap teman sekamarnya, yang dilakukan oleh kepala perawatan, yang memberikan suntikan maut pada Johny.

Di sini kembali Anda dan juga penulis bacaan ini (dr. Hindrayanto I., baigan psikiatri RSCM-UI), dihadapkan pada problema zaman modern, yaitu prinsip efisiensi dan efektivitas serta euthanasia. Dapatkan nyawa seorang dilenyapkan., walau dengan rasionalisasi dmei penghematan dan kepentingan nasional?

Masih segar dalam ingatan (kala itu), pada kurang dari setengah abad sebelumnya, pada zaman NAZI, jutaan manusia dieliminasi, baik yang cacat, yang jompo, maupun yang berasal dari ras “rendahan”, dan katanya itu semua demi kepentingan nasional.

Menjadi harapan kita semua, agar jangan lagi ada penguasa di muka bumi ini, yang terjerumus dalam filosofi edan seperti itu. Konsep euthanasia, bukan hanya sekadar mengakhiri kehidupan, namun harus diletakkan dalam konteks yang semestinya, yaitu bukan hanya mengurusi persiapan mati yang baik, ataupun kesediaan, ataupun hak untuk mati, namun harus menjangkau masalah kesehatan, hidup dan kehidupan yang lebih baik, serta keutuhan nilai-nilai moral yang berlaku.

Kembali pada kisah Amos, beban penderitaannya lengkap sudah. Semua laporannya pada polisi maupun pada walikota, dianggap suatu delusi yang tidak sesuai dengan kenyataan. Amos menjadi tanpa daya, apalagi setelah diketahuinya bahwa dirinya mengidap kanker paru yang sudah parah, stadium terminal.

Bila diukur dengan skala stresor psikosiosial dari Holmes, tampaknya sudah mencapai tahap maksimal, yaitu sudah memasuki taraf stressor yang tidak mungkin dapat ditanggulangi oleh manusia pdaa umumnya, telah memasuki taraf malapetaka. Amos memang suatu pribadi yang unik dan khusus, berbeda dengan rekan-rekannya yang lain sesama lanjut usia.

Dengan tegas ditolaknya tawaran sang cucu untuk pulang dan dengan tegar dan terinci direncnakana suatu strategi untuk menejbak suster Daisy dengan mengorbankan kehidupannya. Suatu jurus Kamikaze dengan tujuan mati bersama musuh.

Pada akhirnya Amos memang berhasil menang, yaitu berhasil menyeret suster Daisy ke pengadilan dengan tuduhan pembunuhan Tingkat satu disertai bukti yang tak dapat dibantah, walau Daisy sesungguhnya tidak membunuh Amos. Kematian Amos memang tidak berbeda dengan yang lain, namun demi tujuan apa dia mati, itu yang membuat Amos menjadi pahlawan.

Dok. Monitor – No. 77/II/minggu ke-3 April 1988/20-26 April 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer