MAX SOPACUA

 
REPORTER OLAHRAGA. Tour de Jawa (waktu itu) telah berlalu. Tapi, bagi Max Sopacua, reporter olahraga TVRI, meninggalkan kesan banyak. Karena selama 14 hari, dia harus kerja mati-matian untuk meliputnya.

“Badan rasanya capek sekali, tapi saya merasa puas karena mampu menayangkan Tour de Jawa hampir setiap hari, sehingga dari segi aktualitas lebih baik dibandingkan dengan liputan tahun 1985,” tutur bapak 3 anak yang wajah dan suaranya sering nongol dalam Dari Gelanggang Ke Gelanggang, Arena dan Juara, maupun Monitor Olahraga ini.

Pengalaman berkesan lainnya, di hotel, banyak yang mengajaknya berkenalan, malah ada yang menawari makan gratis. “Saya sendiri nggak mengira, kalau penonton begitu antusias. Yah, paling tidak itu sebagai baromter bahwa siaran olahraga TVRI begitu memasyarakat sampai di pelosok-pelosok.”

Max Sopacua dulu (jauh sebelum 80an-red) petinju. Kalau (belakangan itu) menjadi reporter olahraga. Max, tak bisa pisah dari olahraga. Profesi barunya (kala itu) ini ia tekuni sejak tahun 1984. Walau risikonya terkadang ia harus meninggalkan keluarga berhari-hari. Sehari berada di rumah, lalu tugas lagi.

Istri nggak pernah cemburu? “Istri begitu pengeritan terhadap karir saya, walaupun kita jarang ketemu keluarga, tapi kita tetap komunikasi lewat telepon. Dengan demikian, kita tetap selalu berhubungan.” Jauh di mata dekat di hati ya, Max?

Ditulis oleh: Idi Pranoto  

Dok. Monitor – No. 140/III/minggu ke-1 Juli 1989/5-11 Juli 1989, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer