MARINI SARDI: "BUNTUT SAYA SUDAH 6...." (SINETRON PULANG, TVRI - SABTU, 12 MARET 1988 Pkl: 22.30 WIB)
R.A. Soemarini Sardi, tampil gres dalam sinetron Pulang
(TVRI) sebagai penyanyi. Usia (waktu itu) 40 tahun, 2 November 1987 lalu, tak
setitik pun mengubah sorot matanya yang teduh menentramkan, tak menggoyangkan
seujung rambutnya yang dulu (jauh sebelum 80an-red) panjang.
Ia tetap Marini yang bibirnya basah, yang seluruh wajahnya mendengarkan dan memperhatikan, yang suaranya mengalir dari endapan pergolakan yang galak di masa lalu (jauh sebelum 1988-red), kandasnya dua perkawinan.
“Ibarat perjalanan, ada yang kejegal, ada yang lewat jalan tol, ada yang kesandung batu, sayalah yang kesandung itu.” Kesandung apa? “Dulu (jauh sebelum 1988-red), dorongan cinta itu tak kuat. Terlalu terpaku pada ego. Sekarang (1988-red) nggak bisa, buntut saya sudah enam.”
Buntut itu, tiga dari dua suaminya yang dulu (jauh sebelum
1988-red), dan tiga dari Idris Sardi. Tapi, yang terasa mengalir dari wanita
ini hanyalah kearifan, kesadaran arti perkawinan. “Ini akan menjadi yang
terakhir, bahkan sampai risiko terburuk. Saya makin tahu arti memberi dan
menerima, melakukan sesuatu untuk berdua, untuk mengerti pasangan kita.
Kadang orang bilang, kita harus berbohong untuk kebaikan. Saya nggak percaya itu. Betapapun sakitnya, harus dihadapi. Saya kenal banyak orang yang masing-masing sudah 5-6 kali pacaran dengan orang lain. Tapi untuk menjaga citra, nggak berani bercerai….”
Tapi, bukan orang lain yang dinilai artis penyanyi yang masih sempat membuat ‘bothok’, masakan khas Jawa ini. Ia sedang menilai dirinya, dan sungguh berharga merekam dinamika hidup yang dialami. (Main layang-layang, hal. 11 Monitor No. 71/Tahun II/minggu ke-2 Maret 1988/9-15 Maret 1988).
ADALAH MARINI YANG DULU MENAIKKAN LAYANG-LAYANG WAKTU HAMIL
BAKTI. Penampilan Marini kali ini barangkali karena digaet Teguh Karya. Tapi, lebih pas lagi karena Idris Sardi, suaminya, juga ikut menangani Pulang dan ikutan main piano. Mereka bagai truk gandengan, di mana ada Idris, di situ ada Marini, juga dini hari di saat rekaman, saat Idris selalu sibuk. Untuk mengingatkan memakai jaket dingin, makan, walaupun menurut Marini, “Jangan kata diajak omong, dilirik pun tidak.”
24 jam hidup Marini untuk suami dan keluarganya, “Rasanya masih kruang.” Sebuah perjalanan yang jauh. Putri Ir. K.R.M.H.S. Soeryosoemarno dan dari ibu Dolly Zegerius, mulai mengenal musik ‘live’ di rumahnya sendiri. Lalu, di tahun 1963 ia muncul menyumbang lagu di TVRI yang (waktu itu) masih “bayi”.
Di sinilah ia mulai kenal dunia ‘show’, yang empat tahun kemudian dimasuki secara profesional. Sejak itu pula, ia malang-melintang hingga rekaman di Singapura, bersama The Steps, yang salah satu pemainnya menjadi suami kedua, setelah ia menjanda dari Tinton Suprapto selama 5 tahun.
Dunia film menjadi bagian dari hidupnya. Dibukukan dengan Cinta yang menyabet Piala Citra, 1975, sebagai pendatang baru terbaik, dan ‘Twin Lion Award’ sebagai pemain terbaik FFA di Pusan, Korsel, 1976. Tentu ada sejumlah besar album kaset dan judul lain yang juga disiarkan ulang oleh TVRI. Rekaman Tembang Lestari dilakukan 3 tahun sebelum bacaan ini dimuat Monitor (1985-red). Surutkah Marini (waktu itu)?
“Nyanyi itu seumur hidup, zaman bisa berubah, ‘beat’ bisa berganti, tapi seorang penyanyi tetap seorang penyanyi.” Kalau ia jarang muncul, karena ia membaktikan seluruh hidupnya untuk kedamaian dan kebahagiaan keluarga. Karena segala macam urusan musik, Marini ikut menangani penyelenggaraannya.
EMOSI. Penyantap lalap, rujak, asinan, dan ikan, yang (waktu itu) bertinggi-berat badan 160-54 ini tak mengelak, bahwa ia (waktu itu) masih gampang emosi. Kendati yang (belakangan itu) diwujudkan dalam bentuk lain. Anak-anaknya sering jadi sasaran kecerewetan, atau kena Hardik.
Ia ngotot mengajak anaknya rajin minum obat, membentak anak yang main teriak minta minum pada pembantu, atau memarahi anaknya yang tak mau menyemir sepatu. Semuanya dia lakukan, demi si anak sendiri, dan terbukti.
Ia begitu bangga, kalau anak-anaknya yang tak mau menyemir sepatu. Semuanya dia lakukan, demi si anak sendiri, dan terbukti. Ia begitu bangga, kalau anak-anaknya saling menghargai, saling minta izin kalau masing-masing berkepentingan. Tak jarang pula, pembantunya kena marah karena terlalu menuruti perintah si anak.
Alasan Marini, pembantu sekadar berfungsi membantu, tidak lebih dan tidak kurang. Maka janganlah diperlakukan sebagai budak. Dalam rangka ini pula Marini sering bilang pada pembantunya, “Kamu pergi saja kalau nggak mau bantu saya mendidik anak-anak!”
Perlakuan pada anak-anaknya, mungkin mencerminkan latar belakang kehidupannya. Ia mewarisi didikan dan masa lalu yang dia bilang, serba enak. Justru karena pengalaman dulu (jauh sebelum 80an-red), ia bertanya-tanya, “Apa sih kebahagiaan itu? Di materi? Enggak. Dulu (jauh sebelum 80an-red), lingkungan saya memberikan segala yang saya maui, mau makan, mau ngapain, juga bisa.”
Justru karena kebisaan dan kebebasannya, ia jadi korban, karena tak sempat berkembang. Sampai usia 14 ia tak bisa masak, bahkan sekadar nyeplok telor. Menikah pertama pada usia 18, menggagalkan rencananya untuk sekolah lagi. “Saya ambil kursus jahit, 3 bulan. Setelah itu selesai, saya mau ngapain? Saya merasa, hidup saya nggak positif.” Selama hampir 6 tahun sesudahnya ia pergi. Mencari sesuatu yang tak jelas, sambil membawa Rama, anak sulungnya.
Saat itu ia disiksa oleh kesendiriannya. Susah tidur, susah dimengerti, atau berbagai macam gejala psikosomatik sejenisnya. Malam hari nyanyi, dan siang hari main di pantai. Hidupnya tak terkontrol, sampai berat badannya tinggal 44 kg. Ia menghabiskan waktu dengan menggiilir gedung bioskop, berjalan naik trem, atau apa saja yang serba dicari-cari, lantaran tak bisa tidur.
Akhirnya, tahun 1973, ia tergugah oleh film Valley of The Dolls (1967), lantas melakukan penyembuhan diri. Caranya, dengan berendam air es, kemudian mengguyurkan air panas. Begitu berulang-ulang selama beberapa bulan. Akhirnya sembuh. Hidupnya masih berlanjut dengan kegagalan dan kegagalan. Tapi setiap saat dianggapnya sebagai pelajaran.
“Saya lebih suka yang saya lakukan, biarpun itu sejelek apa, tapi saya sudah jujur pada diri sendiri, orang suka atau nggak suka, ‘it’s my life’.” Ketiadaan tujuan hidup, mungkin (belakangan itu, 1988-red) sudah terjawab. Apa yang dulu (jauh sebelum 1988-red) dirasanya sama sekali tidak positif, belakangan itu (1988-red) tinggal cerita saja.
Barangkali, Marini adalah produk sejati seorang bintang yang bergulat di dunianya, melawan dirinya sendiri. 1988, ia tinggal mensyukuri. “Sedikitpun, saya nggak pernah menyesali apa yang sudah terjadi,” ucap pengagum bung Karno (Presiden Sukarno-red), Margaret Thatcher (PM Inggris-red), Anwar Sadat (presiden Mesir-red), pak Harto (Presiden Suharto-red), dan membenci pendeta Dorna ini, datar.
Sedatar ia mengarungi hidupnya (belakangan itu) nyaris jauh dari hiruk-pikuk dan sensasi. Tak berlebihan apabila suatu saat nantinya, ia terpekur memikirkan kembali, sekian panjang langkah-langkahnya, sekain rumit perjalanannya. Ia diam dan tenteram, di sela-sela kesibukannya mengurusi anak-anak dan rumah tangganya. Di sebuah rumah di kompleks keluarga peninggalan orangtuanya.
“Bapak dulu (jauh sebelum 80an-red) punya cita-cita tak mau pisah dengan anak-anaknya. Ia nggak mau minta apa-apa dari anaknya. Asal mereka mau tinggal di kawasan ini.” Begitulah Marini, yang tak pusing oleh ambisi, yang selalu tak bisa lain, kecuali mensyukuri. Segalanya. Termasuk kebiasaan unik, seperti main layang-layang di genting sewaktu mengandung, berenang, atau masak. Sempurna atau belum, ia lebih suka disebut sebagai ibu rumah tangga biasa.
Ditulis oleh: Emilia Contessa/Slamet Riyadi
Dok. Monitor – No. 71/II/minggu ke-2 Maret 1988/9-15 Maret 1988, dengan sedikit perubahan






Komentar
Posting Komentar