LOSMEN (TVRI) BUBAR, MEMANGNYA KITA SUKAR RUJUKAN?
BUYAR. Pemirsa yang budiman, Losmen (waktu itu) sudah buyar. Gosip resmi mengatakan begitu. M. (monitor) sendiri mencoba ikutan mempretemukan yang terlibat untuk mencari jalan keluar. Yang ketemu jalan buntu. Sayang, memang.
Sayang, karena tayangan terakhir (kala itu), 17 Februari 1988, set, musik, dan bagian lain sudah dibenahi. Sebelumnya, di luar TVRI, mereka berjaya di puncak peringatan Hari Ibu, juga menjadi sajian saat Presiden Suharto dan ibu Tien Suharto merayakan ulang tahun perkawinan di Taman Mini, Jakarta. Saat itu, Hombing, nama akrab Wahyu Sihombing, pimpinan Studio 17 yang menangani grup teater ini, berkisar: “Losmen sipa main di mana saja.”
Memang main di mana saja. Cuma bedanya, ada yang bergerak tanpa sepengetahuan Hombing-Tatiek. Baik soal tokohnya jadi model iklan dengan nama yang diperani, ataupun kaset audio. Srimulat yang (saat itu) sedang buka cabang baru di Semarang, mengundang beberapa pemain untuk pertunjukan perdana. Surat peringatan untuk Ida Leman dan Mieke Wijaya mengawali perpecahan.
Puncaknya terjadi bulan Feburari 1988 lalu. Dicky Zulkarnaen ikut memanfaatkan ‘show’ di beberapa kota. Sebagai koordinator, penulis naskah, dan juga pemain, Dicky merasa tidak perlu minta izin karena naskah ia buat sendiri.
Mulailah “perang” pembenaran diri lewat media massa antara pimpinan Studio 17 dengan produser, dan beberapa pemain yang terlibat ‘show’ tersebut. Akibatnya, tayangan untuk tanggal 16 Maret 1988 berjudul Cinta Kembali Bersemi Di Losmen Srikandi gagal diproduksi. Dicoba diganti dengan tayangan sebelumnya atas usul Wahyu Sihombing: Gaduh Di Losmen Srikandi. Tapi toh TVRI juga tidak menayangkannya. Sejak itu Losmen cuma muncul sebagai berita di media massa.
TUKAR. Tanggal 23 Maret 1988, isyarat baik muncul “Losmen
jalan terus,” kata Hombing dan Tatiek Maliyati setelah pertemuan dengan
direktur TVRI, Drs. Ishadi SK, M. Sc. Dengan judul Ketika Losmen Srikandi
Kembali Berdandan (KLSKB), tayangan ini direncanakan muncul hari Rabu tanggal
18 Mei 1988. Toh, akhirnya gagal lagi. Tatiek mendapat telepon dari TVRI.
Rekaman KLSKB diundur sampai tanggal 23 Mei 1988. Juga tidak jadi lagi.
Dalam KLSKB, pemain tetap tinggal Dewi Yull alias jeng Sri dengan Sutopo HS alias pak Atmo. Pak Broto, bu Broto (Mieke Wijaya), mbak Pur (Ida Leman), semuanya ke Jakarta. Tarjo (Mathias Muchus) kuliah kerja. Jarot (Eeng Saptahadi) ke Bali, Sampai Juni 1988 belum jelas kapan bisa rekaman. Dalam rangkuman semua ini, Hombing-Tatiek sepakat memutuskan: Losmen “mati”! Apa tidak ada maaf lagi? Saat Lebaran 1988, seluruh pemain tetap, kecuali Drs. Purnomo (pemeran mang Udel-red) bermaafan di rumah Hombing.
Jawaban Tatiek maupun Hombing senada. “Lebaran untuk bermaaf-maafan. Tapi jangan lalu dipakai untuk bicara Losmen.” Dan itulah yang terjadi. Sehari setelah bertemu dengan direktur TVRI (Ishadi-red), tanggal 25 Mei 1988, Hombing memutuskan kematian Losmen. “Sayang tapi apa boleh buat. Sudah sukar untuk kembali lagi. Satu-satunya jalan, membuat seri baru dengan pemain baru sama sekali.”
Bekerjasama dengan Departemen Kesehatan, Hombing-Tatiek mencoba membuat miniseri untuk TVRI, yang rencananya (waktu itu) akan diproduksi Agustus 1988 (yang ketika itu akan) datang, dan ditayangkan sekitar bulan September 1988. Seri pengganti Losmen (waktu itu) akan diproduksi Oktober 1988 (yang saat itu akan) datang, dan ditayangkan tahun 1989.
Dengan sistem produksi enam tayangan sekaligus, Hombing juga (waktu itu) akan menyiapkan bentuk kerjasama yang lebih konkret, untuk mencegah peristiwa yang sama terulan glagi. Tema dan judulnya? Hombing cuma ketawa.Losmen “mati” tanpa pemberitahuan kepada para pemain. Alasan Hombing, pemain bukan anggota Studio 17. “Sifatnya cuma kekeluargaan.”
Bagaimanapun, para pemain cukup kaget. Ida Leman cuma bilang, “Sayang, tapi mau apalagi?” Dewi Yull lebih diplomatis. “Daripada Losmen ditinggalkan masyarakat, lebih baik Losmen yang meninggalkan masyarakat.” Ada benarnya. Cuma benarkah kita bangsa yang pemaaf dan murah hati, kalau begini akhirnya?
Ditulis oleh: Rachmat Riyadi
Dok. Monitor – No. 83/Tahun II/minggu ke-1 Juni 1988/1-7 Juni 1988, dengan sedikit perubahan




Komentar
Posting Komentar