LINDA EVANS: "SAYA MENDAMBA JADI IBU RUMAH TANGGA..." (DYNASTY, TVRI - SETIAP RABU Pkl: 22.30 WIB)

ITULAH yang dikatakan pemeran Krystle Carrington, ketika istirahat sejenak dari pengambilan adegan yang cukup serem. Krystle dibebaskan dari penjara, di sebuah loteng, di mana ia disekap karena “Terkena roh jahat”. Evans kemudian istirahat, duduk di kursi sutradara. Studio 7 Warner, Hollywood tetap sibuk. Ada yang mengatur rambut, memilihkan sederet pakaian mana yang dipilih, memasang giwang berlian untuk adegan berikutnya, satu set dengan cincin dan aksesori lain.

Kerja yang “gila”. Tapi jawaban Linda Evans lebih gila lagi ketika ditanya apa yang paling diinginkan. “Sepuluh kali saya ditanyai, demi Tuhan jawaban saya sama. Ingin jadi ibu rumah tangga. Mmepunyai suami, mempunyai anak, dan bisa memasak untuk mereka. Tuhan, alnagkah bahagianya wnaita seperti itu.”

Linda Evans memang tak bisa melahirkan anak, tak bisa mengandung, meskipun awal 1989 ini sedang berusaha keras. Bahkan para perawat dan dokter pribadi mendampingi. “Jangan ingatkan hal itu,” tuturnya dengan mata bening, tapi tanpa senyuman. M. (Monitor) jadi salah tingkah, karena waktu yang diberikan sangat pendek.

Wanita adalah wanita. Linda Evans yang bekerja 10 hari untuk 1 episode menerima bayaran langsung 150 juta rupiah, belum kegiatan lain, yang bisa berdamai dengan bekas-bekas suaminya, yang tetap menjulang namanya, ingin menjadi ibu rumah tangga. Betapa sederhana, betapa sering alpa menjaga, bagi yang telah memiliki. (Tentang peran dan hidupnya, hal. 6 – Monitor, No. 115/Tahun III/minggu ke-2 Januari 1989/11-17 Januari 1989).

LINDA EVANS BANGKIT DARI KEHANCURAN. POTRET WANITA ULET DAN AGAK MENGAGUMKAN

CINTA AYAH. Tanggal lahirnya 18 November 1942. Rambutnya pirang, bahunya, kata pria sono, kelewat seksi. Yang jelas matanya bneing, menerawang seperti sekujur kulit tubuhnya, yang tertutupi atau tidak. Wajahnya seperti selalu tersenyum.

“Ini pembawaan saya. Saya memang sangat capek. Dalam setiap ‘scene’, saya selalu muncul. Menangis, ketakutan, teror… padahal saya ini sebenarnya orang yang bahagia. Mungkin itu sebbabnya saya selalu kelihatan tersenyum, seperti yang Anda katakan.”

M (Monitor): “Sekarang (1989-red) Anda sudah menjadi artis tenar, padahal dulu (jauh sebelum 80an-red) katanya tidak brecita-cita jadi artis?”

LE (Linda Evans): “Sampai sekarang (1989-red) saya tidak bercita-cita jadi artis, saya hanya melakukan kerja yang baik. Dulu (jauh sebelum 80an-red) saya khawatir bahwa dunia artis akan membuat saya sepi, sekarang (1989-red) nyatanya tidak, saya dekat dengan kebahgiaan. Anda sudah tahu riwayat saya khan?”

M: “Sudah, Linda.”

KELUARGA CARRINGTON. Alexis, Blake, serta Krystle yang merupakan sumber konflik dalam Dynasty 

Nomor dua dari tiga putri bersaudara, semula ingin menjadi penari, tapi kehidupan memaksanya lain. Ayahnya hanya tukang cat dan ibunya tinggal di rumah. Linda masih sendirian dan main boneka sampai usia 15 tahun, usia di mana kakaknya menikah. Kedua orangtuanya jatuh sakit yang bersamaan. Ayahnya terkena kanker, dan terbaring terus selama 9 bulan. Mereka sekeluarga hidup dari tunjangan sosial.

Sewaktu SMA, ia memilih teater karena kebetulan tempat tinggalnya sekitar Hollywood. Untuk makan, ia bekerja sebagai penyobek karcis di gedung bioskop.

LE: “Saya tidak berada di samping ayah ketika ayah meninggal. Sampai sekarang (1989-red) saya masih menyesali.”

M: “Boleh nggak bertanya soal perkawinan yang dulu (jauh sebelum 1989-red)? Ini ada hubungannya dengan peranan ayah. Anda menikah dengan John Derek yang 16 tahun lebih tua, karena mencari sosok ayah?”

LE: “Semua mengatakan begitu, psikiater saya juga bilang begitu, mungkin juga. Tetapi saya memang mencintai John. Saya masih berbicara dengan mereka, juga dengan Mary.”

John yang dimaksudkan adalah John Derek. Mary adalah nama Bo Derek sebelumnya, yaitu Mary Cathleen Collins. Mary inilah yang menjadi istri John kemudian.

Bersama Richard Cohen, yang menurut Evans “pacar sementara” 

CINTA HIDUP. Perpisahan dengan John bagai neraka. “Sama beratnya dengan kehilangan ayah dan ibu. Saya hanya punya pilihan dua, mati atau hidup. Saya pilih hidup.

Kejadian itu mengajarkan pada saya. Betapapun kamu mencintai seseorang dan berbuat sangat baik padanya, kamu tak bisa menahan kalau ia memang taau pergi. Saya pernah bercerita pada Susan dari ‘TV Guide’ juga. ‘Okey’? Saya cinta hidup. Karena bisa berkembang, karena itu membutuhkan kita bisa berdiri sendiri.”

Evans menikah lagi dengan Stan Herman, seorang pengusaha ‘real estate’. Dua tahun bubar. “Stan terlalu lama membujang, dia sudah dua kali berumah tangga, tapi juga gagal. Saya masih baikan dengan dia. Saya baru saja membeli dua rumah lagi dari perusahaannya.” Mrs. Evans, apa artinya perkawinan bagi Anda?

“Jangan bertanya seperti itu, karena saya gagal dua kali dalam perkawinan. Saya mendamba mempunyai suami dan anak-anak dan keluarga yang kekal abadi. Itu harapan semua wanita. Saya gagal karena saya mengharapkan seseorang yang mengistimewakan saya. Yang beprikir tentang saya, yang membahagiakan saya. Dan jika seseorang itu mempunyai pandangan lain, akhirnya gagal.”

Nggak merasa sunyi sendirian begitu? “Nggak, memang ada pacar sementara, tapi saya tak pernah merasa kesepian. Kalau makan pun, di sini, saya tak mau sendirian, meskipun saya bisa begitu. Saya selalu bersama kru. Forsythes? Blake? Ia sahabat yang Istimewa. Ia yang pertama mengajak saya ke film. Dari dulu (jauh sebelum 1989-red) say atak pernah dapat tawaran main. Untuk komersial, siaran iklan saja tidak. Forsythes yang mengajak pertama kali.”

Menurut sekretarisnya, bisa dibuktikan sendiri di rumahnya bahwa Mrs. Evans memang sendirian. Kecuali dengan tiga ekor kucing yang dimanjakan lebih dari ankanya sendiri.

CINTA WAJAR. Wanita memang tanda tanya besar. Setidaknya bagi lelaki, atau kaumnya sendiri. Di tengah popularitasnya dalam Dynasty, yang menampilkan keanggunannya, ia justru main dalam The Last Frontier, film untuk TV, ia malah tampil tanpa apa-apa. Maksudnya, bukan hanya tanpa segala berlian, tanpa pakaian mewah, bahkan tanpa tata rias. Di lokasi yang membakar kulit, dengan yamuk, dengan lumpur, dengan peranan yang menyedihkan.

Kenapa diseling itu? “Saya mencintai hal yang wajar. Dalam film itu saya tampil apa adanya. Kalau itu berhasil, akan memberi kepercayaan diri lebih kuat. Selama ini kepercayaan diri saya dibangun dari pakaian, perhiasan, yang saya kenakan. Kadang saya merasa asing kalau tidak memaki apa-apa. Kalau terus-menerus berperasaan begitu, tragis sekali.”

Kewajaran! Bukankah 1989 ini juga masih bisa dibilang wajar? Dengan gaya dan kehidupan seorang artis sekaliber kamu? “Terima kasih….” Linda Evans balik bertanya, apakah di Indonesia, Dynasty juga populer seperti di 100 negara lain, dan bagaimana komentar M. (Monitor)? Di Indonesia mah, mana saja bisa populer. Asal tidak jelek-jelek amat. Tentang serial itu sendiri, yaaaah, namanya ‘soap opera’, yang gitu. Diramu mencandu.

Satu hal benar, kalaupun Dynasty turun pamor, aplaagi (belakangan itu) kisahnya mulai kacau, Mrs. Evans masih bertahan. Setidaknya dibandingkan dengan Joan Collins, yang “selalu begitu aktingnya.” “Oh ya, terima kasih, Anda pintar memuji.” Ini serius kok. “Terima kasih banyak, salam…” Sama-sama dah, kalau gitu.

Ditulis oleh: Arswendo Atmowiloto

Dok. Monitor - No. 115/Tahun III/minggu ke-2 Januari 1989/11-17 Januari 1989o. 150/III/minggu ke-3 September 1989/13-19 September 1989, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer