LEO KRISTI (CHANDRA KIRANA, TVRI - KAMIS, 30 JUNI 1988 Pkl: 21.30 WIB)
LEO Imam Sukarno alias Leo Kristi, biduan patriotik Surabaya yang (sampai saat itu) belum kawin juga, memboyong cewek-cewek manis bersuara apik dan cantik. Merekalah pendukung Konser Rakyat-nya (belaknagan itu). Lantas mendendangkan Nyanyian Nusantara.
Selain tetap setia dengan drum karbit untuk perangkat penampilannya, ia (waktu itu) masih setia dengan jubah hitam dan burung garuda. Tapi, peralatan musik yang dipergunakan bertambah. Buatannya sendiri. Dua buah tali busur yang diberi batok kelapa di tengahnya. “Saya berusaha menggunakan instrumen khas.” Saat-saat itu, Leo kerap mondar-mandir Jakarta-Surabaya.
Mempersiapkan dua paket album berisi lagu-lagu baru (era itu). Termasuk mempersiapkan pergelarnanya di Gedung Kesenian Jakarta, 17-18 Agustus 1988 (yang saat itu akan) datang. “Tidak di TIM lagi, karena sudah banyak rekan-rekan yang mengisi di sana.” Selain itu, TIM juga sudah bergeser sekarang (1988-red).”
Masih pentas di Istana Merdeka, Leo? “Sudah lima tahun (1983 hingga 1988-red) tidak.” Berbeda dengan tahun-tahun yang (waktu itu telah) lalu, kali ini untuk kebutuhan penampilan dan pergelarannya, Leo lebih banyak muncul dengan cewek-cewek manis yang (kala itu) belia itu. “Mereka tidak dari Surabaya semua. Gabungan, dengan yang dari Jakarta, Ujungpandang, dan Palu.”
Untuk sementara, memang (sampai saat itu) belum ada yang baru lagi dari Leo. “Saya masih tetap seprti biasa. Terus mencari yagn lebhi baik dan lebih punya makna.” Tentu, tak termasuk jubah yang sudah ditambal punggungnya dan membuat salah seorang anak Diah Iskandar, menjadi takut. Leo cuma tersenyum, ketika sang bocah (era itu) menyebutnya drakula.
Ditulis oleh: N. Syamsuddin Ch. Haesy
Dok. Monitor – No. 67/II/minggu ke-1 Juli 1988/29 Juni-5 Juli 1988, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar