LENNY MARLINA (KUGAPAI CINTAMU, FILM CERITA AKHIR PEKAN/TVRI - SABTU, 2 JULI 1988 Pkl: 22.30 WIB)
BAGI Lenny Marlina, Sabtu, merupakan hari bubur ayam. Karena apapun yang terjadi, pada hari Sabtu itu dapat dipastikan ia membuat bubur ayam. “Istimewa, memang. Karena mas Gatot (Teguh Arifianto-red), pengennya begitu.” Selebihnya, kesehariannya mengurus 3 anak – 2 perempuan dan 1 lelaki. Lalu, memasak dan senam. “Kebetulan, saya ada tempat di sini. Daripada senam sendirian, lebih baik khan rame-rame dengan tetangga.”
Sudah 4 tahun terakhir (belakangan itu/1984 hingga 1988-red), Lenny Marlina tak punya kesibukan lain, kecuali itu semua. “Sekali-sekali nonton pameran produksi dalam negeri, atau mondar-mandir ke Ciputat cari barang antik.” Main film? Kembang Kertas, garapan Slamet Rahardjo Djarot, 1985, disebutnya film terakhir. Menutup begitu banyak film (bioskop-red) yang pernah dia mainkan sejak Adinda, garapan H. Usmar Ismail almarhum.
Tak ada impian menjadi penulis skenario dan sutradara? “Nggak tuh. Pendeknya, dunia film sudah mulai ditinggalkan. Indah memang. Tapi sekarang (1988-red) ada yang lebih penting: anak-anak.” Untuk mereka pula, profesi sebagai humas sebuah perusahaan pakaian dalam wanita, cuma sanggup diurus setahun. “Untuk bisa terus di film, sebaiknya memang sendiri. Nggak perlu punya anak. Karena, ya mesti total dong. Konsentrasi nggak boleh terpecah-pecah.”
Karena itu, ia benar-benar tak lagi memimpikan lagi dunia indahnya itu. “Selain itu khan sudah bukan zaman saya lagi. Sekarang (1988-red) zamannya yang muda-muda dong.” Kalau masih ada yang diimpikan, 1988, sederhana saja. “Saya ingin naik haji, terus ngebangun mesjid di desa, dekat makam orangtua di Banjaran, Bandung. Tanahnya sudah saya beli.” Ingin mengurangi dosa masa lalu? “Nggak juga sih.”
Ditulis oleh: N. Syamsuddin Ch. Haesy
Dok. Monitor – No. 67/II/minggu ke-1 Juli 1988/29 Juni-5 Juli 1988, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar