LEBIH 100 ARTIS KUMPUL DI STUDIO MENYANYI TENTANG PAK HARTO (JURNAL SU MPR, TVRI - JUMAT SIANG, 11 MARET 1988)

 TOKOH. Suasana rekaman di studio VII. Meriah, apalagi dihadiri beberapa tokoh

USAI pelantikan Presiden Suharto, 11 Maret 1988 nantinya, lebih 100 artis di bawah bendera Safari (waktu itu) akan menghadirkan satu lagu bertemakan rasa bangga pada Presiden Suharto yang telah membuktikan karya nyata dalam pembangunan negeri selama menduduki kursi kepresidenan. Jika biasanya jadwal rekaman bisa mundur-maju di TVRI, khusus kali ini, (waktu itu) tak bakal terjadi. Pengarah acara Sofyan Arnold Siregar mencoba menggarapnya sebaik mungkin.

Layaknya penyanyi koor, artis berjumlah besar itu berjejer pada sebuah panggung bertingkat. Cukup semarak, apalagi masing-masing mengenakan pakaian tradisional dari beragam suku. Baik lirik maupun aransemen tak ada perubahan sejak pertama kali lagu itu dinyanyikan di ulang tahun Golkar, tahun 1987 lalu, sampai di Aneka Ria Safari (TVRI).

KEBUT. Titiek Puspa terpaksa ngebut dalam waktu setengah jam 

Sekadar mengulang, Titiek Puspa cukup berhasil mengolah lagu bertema ini. Tidak sekadar sanjung-menyanjung, tapi sentuhan yang diolah dari sisi jiwa sangat bisa mengena. Titiek pulalah yang menjadi solois pembuka lagu ini yang kemudian disambut koor lainnya. Menggema dan mempesona.

Titiek sendiri merasa bangga, dalam waktu yang begitu sempit, cuma sekitar 3 hari bisa mengumpulkan sebegitu banyak artis. “Kita cuma bilang jadwal rekamannya dan harus mengenakan pakaian tradisional. Mereka urus sendiri-sendiri.”

 

JIWA, JAWARA. Lagu Bapak Kami Suharto (Bapak Pembangunan) ini cuma tercipta dalam waktu setengah jam. Ketika Golkar mau merayakan HUTnya di Balai Sidang, pengurus artis Safari mendengar Presiden Suharto mau datang. Maka membuat kesepakatan memberi sesuatu pada Presiden Suharto. Para pencipta lagu dihubungi, ternyata sampai menjelang acara berlangsung, tidak ada yang sanggup membuat sesuatu.

Akhirnya, Titiek yang diserahi. Jiwa seninya mendidih. “Kita juga harus akui, ada saja yang kurang. Tapi, kalau dibanding dengan situasi negara lain, kita ini cukup beruntung,” komentar Titiek Puspa.

 

Maka, jawara cipta lagu yang (waktu itu) sudah gaek ini pun mengolahnya sampai jadi. Temanya pun tak sekadar melihat sosok yang menjadi objek atau mendengar pujian orang. Ia menambah perbendaharaan ide dari desa-desa yang pernah dikunjungi selama kampanye (yang waktu itu baru) lalu. “Sungguh beda dari desa-desa yang pernah saya tahu sebelumnya. Berkembang pesat.”

 

Pihak TVRI sendiri tidak berbuat banyak. Maksudnya, karena 100 lebih artis itu harus desak-desakan di atas panggung, maka (waktu itu) akan lebih banyak ditampilkan ‘long-shoot’.

 

“Tapi, saya juga akan berusaha mencari potongan-potongan inset tentang pak Harto (Presiden Suharto-red),” kata Sofyan Arnold. Teknisnya, setelah pelantikan Presiden Suharto, penyiar di lokasi sidang umum mengajak penonton kembali ke studio (Senayan, Jakarta-red), dan Bapak Kami Suharto (Bapak Pembangunan) pun bergema. “Kepadamu, bapak kami Suharto…”

Ditulis oleh: Hans Miller Banureah

Dok. Monitor – No. 71/II/minggu ke-2 Maret 1988/9-15 Maret 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer