LANGSUNG MENUJU SEOUL, KOREA SELATAN, NHK PASANG SATELIT DI KALIMANTAN

 BUKTI. Di stadion inilah Korea Selatan membuktikan mampu menjadi tuan rumah Olimpiade ke-24. Ya, inilah olimpiade yang terbesar dalam abad 20 ini.

BERITA. Rasa-rasanya Anda berada di stadion nasional Seoul, Korea Selatan, ketika melihat betapa gagahnya atlet tenis meja Tony Meringgi membawa bendera merah putih. Lalu di belakang Tony, Anda pun dapat menyaksikan kontingen Indonesia. Tampak atlet anggar, Alkidi yang mengenakan pakaian daerah Aceh, serta atlet panahan, Silvia Kuswandi. Seterus, beberapa orang ofisial plus para atlet yang berdefile secara rapi, mereka memang melangkah tegak dan mencolok mata.

Walau tidak pergi ke Seoul, toh melalui pesawat televisi, Anda bisa juga menengok mereka dari dekat. Apa yang pantas dikatakan kalau bukan mengucapkan terima kasih pada TVRI? Kendati menonton lewat pesawat televisi ukuran kecil (tanpa parabola lagi), kita bergembira dapat – bertutur sapa sama kontingen Indonesia yang berlaga di Seoul. Tidak hanya yang di Jakarta, juga yang di kota kecil sekalipun.

Dengan masa siaran saban harinya selama 2-3 jam harus diakui porsinya terlalu kecil untuk ukuran peristiwa olahraga dunia. Apalagi bila dibandingkan SBC (Singapura) yang setiap hari mengudarakan liputan olimpiade 9,5 jam. Lantas RTM (I) 10 jam seharinya, yang rinciannya 5 jam siaran langsung, dan sisanya berupa jurnal khusus.

“Itu pun setelah mendapat sponsor dari perusahaan pabrik coklat susu,” ujar seorang pjeabat teras RTM kepada M. (Monitor) via telepon. Sayang, berapa jumlah sponsor yang diterima, pejabat yang enggan ditulis namanya itu, tidak mau “buka mulut”.

Segalanya bermula dari sponsor. Begitu pula TVRI yang dalam hal ini (waktu itu) masih tetap mengandalkan dari dana KSOB/TSSB. Biaya yang dikeluarkan TVRI utnuk tayangan olimpiade 1988 ini Rp 800 juta (110 jam), dan hal itu diperoleh dari RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia) sebanyak 200 juta. Sedang dari KSOB/TSSB sebesar 400-500 juta.

Selain mereka membantu TVRI, pihak Perumtel ikut andil. Yakni berupa biaya penyewaan Palapa dengan harga sangat murah. Dalam upacara pembukaan Olipmiade yang dimulai pukul 10.30 waktu setempat, atau pukul 07.30 WIB, 17 September 1988, jelas sekian milyar mata penduduk dunia (waktu itu) bakal menatap layar televisi.

Pasti terpesona dengan penampilan para penari misi kesenian dari 12 negara, termasuk Indonesia yang diwakili grup Bagong Kussudiardja, yang memperagakan kebolehannya sembari mengikuti irama lagu ‘Hand In Hand’ (Bahu Membahu). Diperkirakan (waktu itu) 3 milyar warga jagad – selama 16 hari penuh – setia nonton pesta olahraga dunia itu di televisi.

Buat jaringan televisi, kejadian tersebut tak lain suatu persaingan besar. Hongkong Television Broadcasting yang membikin siaran langsung paket pembukaan itu sekaligus menampilkan Fauline Yeung. Siapakah dia? Ialah “ratu” Hongkong 1987. Fauline bertindak sebagai wartawan. Saban hari di layar gelas memberikan komentar plus jadi penyiar berita.

Betapapun persaingan siaran televisi pada Olimpiade ke-24 ini sangat ketat. Bukan lantaran jaringan televisi Amerika, NBC yang 1988 (pada Olimpiade ke-23 dipegang ABC) memegang hak monopolinya. Tetapi, masing-masing negara dunia ingin pula mengetengahkan segala yang terbaik.

Contoh, televisi Jepang, NHK, dapat dipastikan mengetengahkan siaran langsung sepanjang 249 jam 30 menit. Berarti sekitar 15 jam 30 menit sehari. Bandingkan dengan NBC yang cuma mengambil siaran langsung 179,5 jam siaran dari 2.300 jam (dari 23 cabang olahraga ditambah 5 pertandingan demonstrasi).

Maka, demi keperluan itu, pihak NHK memasang satelit khusus, kabarnya ditaruh di atas pulau Kalimantan. Kata lain, berjarak 36.000 kilometer dari daratan negeri Sakura. Dan yang membuat kita di sini terperangah, NHK tak memungut bayaran tambahan dari pemirsa. Hanya, untuk menangkap siaran langsung itu, mesti di setiap pesawat televisi dipasang antena ‘disk’ (biar gambarnya bersih). Saat itu, di Tokyo, penjualan antena ‘disk’ larisnya tak kepalang tanggung.

Ukuran sana harganya 1.470 dolar AS atau (kala itu) Rp 2,5 juta. Termasuk murah. Di sini, untuk berangkat ke Seoul, kita bisa membeli antena parabola yang harganya begitu variatif, tergantung mutunya, tapi minimal Rp 4 juta.

Memang, karena Olimpiade ke-24, persaingan penjualan parabola ikut terangkat. Beberapa perusahaan menawarkan dengan cara jitu: menuju Seoul langsung tanpa hambatan. Dengan merogoh kocek Rp 4,5 juta bisa menangkap 16 ‘channel’. Sedang bila mengeluarkan Rp 9 juta, ada 32 ‘channel’ yang dapat ditangkap.

Atau Anda tak membeli parabola, namun mengandalkan siaran TVRI yang sehari menayangkan 2-3 jam? Suatu pertanyaan yang bisa dijawab pada tahun 1992. (Perkiraan pada 1988) siapa tahu pada Olimpiade ke-25 di Barcelona, Spanyol, TVRI bisa lebih hebat dari NHK, SBC, atau malah NBC? Siapa tahu, ya?

Ditulis oleh: Syamsuddin Noer Moenadi

Dok. Monitor – No. 99/II/minggu ke-3 September 1988/21-27 September 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer