LAGU YANG JADI TUAN RUMAH DI NEGERI SENDIRI, LAGU YANG MENJIPLAK DIRINYA SENDIRI (ANEKA RIA SAFARI, TVRI PROGRAMA 1 - MINGGU, 3 JULI 1988 Pkl: 21.30 WIB)
ADA berita baik (waktu itu) buat pencipta, karena
perlindungan atas hak cipta makin terpikirkan. Tak kurang dari PAPPRI, wadah
yang membawahi artis pencipta dan penyanyi mengatur strategi untuk urusan ini.
Barangkali, ini baru langkah awal. Toh, hal itu cukuplah meyakinkan orang-orang yang selama itu resah – sebentar lagi (dari bacaan ini dimuat Monitor-red) semua bisa beres. Kita tak bisa menyangkal, selama itu komposer Indonesia tak hanya leluasa menggerogoti hak cipta orang luar, sesama kita pun salin gsikat. Ada yang menyikat teman dan ada pula yang menyikat diri sendiri.
Kalau belakangan itu Hati Yang Luka punya Betharia Sonatha (diciptakan Obbie Messakh-red) berjaya, yang lain pun ikut tema serupa. Dalam Safari kali ini, ada lagu Baru Tiga Bulan, dinyanyikan Hetty Koes Endang. Kalau Hati Yang Luka ngomong tentang keberingasan suami. Baru Tiga Bulan pun ngomong soal itu. Baru tiga bulan dari penghulu, suami sudah menyakiti istri.
Oddie Agam memperkokoh nama perancang mode yang jadi penyanyi, Itang Yunasz, lewat album keduanya, Aku Cinta Padamu. Padahal, lagu sejenis dan sama persis, Cuma sedikit beda lirik telah dibawakan Vonny Sumlang dengan judul Ku Tak Mencintaimu Lagi dalam album Ratu Sejagat.
Membicarakan peraturan memang tak segampang yang
dibayangkan. Tapi, mumpung (waktu itu) masih hangat dan belum rampung,
sepertinya perlu disadari untuk menckaupnya dari yang paling kecil. Kita boleh
bangga bahwa lagu Indonesia makin kokoh jadi tuan rumah di negeri sendiri. Tapi
akan lebih bangga lagi kalau kreativitas yang jernih, murni, dan berangkat dari
kejujuran makin menonjol.
Selama itu, kita terlalu leluasa menciptakan lirik untuk ditempelkan di lagu asing. Ini banyak itemukan dalam percaturan lagu-lagu daerah. Satu contoh, Loving Her Was Easier punya Jose Feliciano, liriknya diganti dengan bahasa Tapanuli Utara, dengan judul Nungga Sappulu Taon, dan melambunglah nama penyanyinya, Victor Hutabarat.
Kalau dulu (jauh sebelum 1988-red) kita cuma bicara moral,
1988, begitu masuk dalma turan main internasional, persoalan jadi lain.
Pengetatan menjadi identik mempersulit. Tak apa. Memang sudah saatnya (waktu
itu) berdiri ketegasan kalau kita memang punya niat menjadi orang yang bisa
dipandang.
Dalam seminar yang diadakan PAPPRI di Sahid Jaya Hotel – bulan Juni 1988 lalu – misalnya, kesepakatan untuk menentukan batasan bajakan belum tercapai. Tapi, nia tmembicarakan ini saja sudah pantas kita banggakan, asal jangan hangat-hangat tahi ayam.
Dengan munculnya aturan main yang pasti, maka (waktu itu) akan muncul kreasi yang sebetulnya pantas dipertanggungjawabkan. Dan dengan demikian, kita pun tak jadi tempat sasaran sernagan pencipta luar maupun dari dalam sendiri. Dan ARS kali ini tak cuma menampilkan tema keganasan suami. Ada Rano dan Nella yagn mencoba duet kembali mengulang sukses.
Lantas, Hamdan ATT yang semakin menggenjot produksi, serta Nola Tilaar yang (sampai saat itu) masih berputar di sekitar reggae. Kesimpulannya, semua (waktu itu) masih menomorsatukan pasar.
Ditulis oleh: Hans Miller Banureah
Penyanyi/judul lagu (dalam Aneka Ria Safari edisi 3 Juli 1988)
1.
Rano Karno/Nella Regar – Jangan Kau Dustai Cinta
Kita
2.
Deasy Arlina – Apa Sih?
3.
Latif Khan – Basah-Basah Bibir*
4.
Rahmat Kartolo – Mana Janjimu
5.
Ateng (lawak dan lagu) – Ding Dong
6.
Hamdan ATT – Berkawan Dalam Duka*
7.
Connie Constantia – Kini Kamus Cinta Sang
Primadona
8.
Shitta Devi – Biar Miskin Asal Bahagia
9.
Hetty Koes Endang – Baru Tiga Bulan*
10.
Nola Tilaar – Reggae Pong
11. Dewi Purwati – Bangku Tua Jadi Saksi
Dok. Monitor – No. 87/II/minggu ke-1 Juli 1988/29 Juni-5 Juli 1988, dengan sedikit perubahan





Komentar
Posting Komentar