LA ROSE (BERPACU DALAM MELODI, TVRI PROGRAMA 1 - SABTU, 22 APRIL 1989 Pkl: 21.40 WIB)

 
UMUR? “Apalah artinya umur? Yang penting kita selalu mengisi kehidupan dengan karya nyata untuk kita dan lingkungan sekitar!” Luas dan tegas ungkapan La Rose, novelis, pelukis, dan pimpinan radio swasta Nusantara Jaya. Juga diplomatis. Termasuk juga saat ditanya nama aslinya.

Makanya, tambah La Rose, ada kematian setelah kehidupan. “Kalau nggak ada mati, mungkin kita nggak akan habis-habisnya dan tak ada puas-puasnya.” Puas dalam hidup? “Mana ada sih manusia yang puas? Untuk itu kita syukuri aja apa yang sudah kita dapat, biar nggak takabur.”

Sedikit petuah, memang. Dan itu juga yang tiga minggu sekali dilakukan La Rose, tinggi-berat (waktu itu) 160-56, dalam acara Busana Mode, Pribadi Mempesona, dan Dari Hati Ke Hati setiap Selasa, Rabu, Kamis, di Nusantara Jaya. Novelis yang pernah bercita-cita menjadi penyanyi dan suka makan buah ini, bersama tiga wanita op lainnya – Dewi Motik, Yaumil Agoes Achir, dan Rae Sita – duel dalam BDM (Berpacu Dalam Melodi, diputar TVRI Programa 1-red).

Keempat wanita hebat ini, dalam acara itu melepaskan baju kebesarannya dan tampil riang. Kalau perlu joget-jogetan. “Waktu itu, kita semua udah nggak merasa ada di TV. Ketawa, ya ketawa aja. Lepas nggak ditahan-tahan. Malah seperti anak-anak. Suasana akrab dan kita menyatu dalam suasana itu. Saya sampai lupa, kalau kita tuh nantinya dilihat jutaan masyarakat di teve.”

La Rose yang suka warna hitam, putih, dan kuning ini bilang, “Ada yang saya tahu lagunya, judulnya lupa. Tahu judul dan lagu, kalah cepat mencet bel.” Acara BDM kali ini sedikit istimewa. Ditayangkan dalam rangka Hari Kartini dan semua pesertanya wanita. Tidak harus mengenakan kebaya dan baju nasional. “Saya diundang. Kalaupun nggak diundang, saya tetap mau ikut acara itu, dengan produser yang berlaku!,” tandas La Rose sungguhan.

Ditulis oleh: Ida M. Palaloi

Dok. Monitor – No. 129/III/minggu ke-3 April 1989/19-25 April 1989, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer