KISAH TRAH BISA TERJADI PADA SIAPA SAJA, KAPAN SAJA, DAN DALAM NASKAH MANA SAJA. ARTINYA: TAK BEGITU ISTIMEWA (TRAH, TVRI - KAMIS, 21 JANUARI 1988 Pkl: 21.30 WIB)

TRADISI. Upaya ‘tedhak siten’ alias turun tanah, upacara tradisi Jawa, yang membuka kisah Trah

KALAU mau mencari kelebihan sinetron Trah, itu terletak pada ‘setting’-nya. Sebuah ‘setting’ atau latar yang agak langka: lingkungan ningrat. Namun, kalau kita mencoba melihat persoalan yang ditampilkan, skenario garapan Alex Suprapto Yudho ini tak banyak berbeda diandingkan dengan sandiwara-sandiwara yang lain: kisah kasih yang terhalang selera orangtua, dan selera yang hanya didasarkan pada derajat pangkat.

Dari segi cerita yang tak banyak berbeda dengan cerita-cerita lain di tayangan televisi, ada 2 hal yang bisa ditarik sebagai kesimpulan. Pertama, kisah kasih macam demikian, memang universal sifatnya. Terjadi di mana saja, terjadi kapan saja, dan terjadi terhadap siapa saja. Dan kedua, penulisnya memang tak banyak tahu tentang problem lain selain yang itu-itu saja. Jadinya, ‘setting’ yang langka ini tak lebih dari sekadar tempelan yang bisa digonta-ganti dengan ‘setting’ lain.

Bisa jadi, ketunggalnadaan – termasuk konflik sampai pada jalan ceritanya – itu dikarenakan tema yang kadung digariskan (secara tidak tertulis) bagi tayangan drama setiap Kamis. Selama itu, TVRI selalu menyiratkan bahwa hari Kamis adalah hari sandiwara keluarga berencana. Tak perduli itu drama yang dibilang modern maupun yang secara gampang diistilahkan sebagai drama tradisional. Bedanya, Trah tak terlalu menggebu-gebu menggarap tema KB itu.

TUDUH, TUDING. Pesan sponsor itu – sekalipun agak ditempel-tempelkan – hanya terbersit di akhir ceritanya: “Kita akan memberikan satu atau dua anak untuk eyang putri. Laki-laki atau perempuan, bagi kita sama saja. Soal trah…”

Dan lampu dimatikan. Frame jadi kelam. Padahal, sebleumnya, salah seorang tokohnya sudah hampir dicerai mertuanya gara-gara tak juga memberikan satu putra sebagai penerus trah, penerus dinasti. Dan seorang lelaki yang dikesankan impoten dengan cepat dapat diselesaikan lewat keterangan seorang dokter – bahwa lelaki itu bisa kembali punya potensi.

Artinya, problem yang awalnya sudah cukup memberi janji ini jadi pupus oleh penutupan cerita yang begitu enteng. Seperti menjadi kecenderungan drama atau film Indonesia, sebuah akhir harus ada penyelesaian. Agak langka atau kurang memungkinkan naskah yang membiarkan akhir cerita agak terbuka.

Hayati (Anastasia Astutie), istri RM Permadi (Hendra Cipta), selalu disindir oleh mertuanya, Retno Dumilah (Netty Herawaty) dan RM Djojonegoro (WD Mochtar), karena Hayati tak juga bunting, sementara keluarga lain sudah dikaruniai 3 putra.

Ketidakhamilan Hayati ini menjadi buah mulut bagi keluarga besar Raden Ayu Poerwodiningrat (Dhalia). Tubuhan mandul bahkan dengan cepat ditudingkan ke Hayati, sekalipun sesungguhnya justru RM Permadi-lah yang selalu gagal menunaikan kewajibannya sebagai suami. Beban batin Hayati makin berat ketika Retno Dumilah mencurigai kedekatan Hayati dengan Rukmini (Anny Kusuma) yang dikira sebagai germo.

 

SELIR. Ray Poerwodiningrat, RM Djojonegoro, dan Retno Dumilah membicarakan kemungkinan Djojonegoro mengambil lagi selir untuk meneruskan kelangsungan dinasti 

MITOS, STATUS. Memang, bukan hanya itu persoalannya. Jika RM Permadi tak punya keturunan, itu sama artinya dengan menumpaskan kelangsungan trah atau dinasti Poerwodiningrat.

Agak mengherankan, memang, mengingat Permadi bukanlah anak Tunggal. Artinya, dari saudaranya yang lain – keluarga Raden Ayu Palupi dan RM Tranggono sendiri sudah beprutra sampai 3 – dinatsi itu tak akan pupus. Atau saudara kandung Permadi hanya Palupi, sehingga Retno Dumilah-RM Djojonegoro hanya punya dua anak?

Jika demikian halnya, jika Permadi merupakan dua bersaudara, kenapa program KB mesti ditiup-tiupkan pada keluarga ningrat ini? Lagin, apa iya sih, keluarga-keluarga ningrat itu problemnya hanya soal keturunan? Tentu, pertanyaan ini bisa dijawab bahwa ningrat dalam Trah hanyalah salah satu dari sejumlah ningrat lain. Tetapi, persoalannya, kenapa hanya yang model ningrat ini saja yang digarap?

Soal status simbol yang kemudian dihadapkan pada realitas perkembangan zaman – yang sesungguhnya juga punya mitos titel, kendati yang terakhir ini lewat akademi – sepertinya tak pernah dirambah. Gampangnya, selama itu, hanya dari sisi non-ningrat para penulis menggarap kisah. Tak pernah ada sudut pandang dari dunia keraton. Dan itu bisa dimaklumi, karena banyak penulis naskah yang tak berasal dari lingkungan ningrat.

Jadinya, ketika mereka memaksakan diri untuk menggarap masalah keningratan – karena dunia ningrat itu sesungguhnya asing bagi dirinya – hasilnya, ya seperti itu tadi: permukaan belaka. Toh, Trah tak bisa dibilang jelek. Alex Suprapto Yudho sendiri termasuk penulis potensial – yang jumlahnya sedikit – jika dibandingkan dengan penulis-penulis naskah televisi lainnya.

Para kru:

RM Permadi – Hendra Cipta

RM Djojonegoro – WD Mochtar

Dr. Sarodjo – Teddy Kabul

Hayati – Anastasia Astutie

Rukmini – Anny Kusuma

Retno Dumilah – Netty Herawaty

Ray Poerwodiningrat – Dahlia

Mimin – Rini

Mbok Darmo – Mbah Surip

Penulis skenario: Alex Suprapto Yudho

Pengarah acara: T. Afyudin

Dok. Monitor – No. 64/II/minggu ke-4 Januari 1988/20-26 Januari 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer