KEMENANGAN INDONESIA-6 TANPA GEMBAR-GEMBOR, TAPI DI GEDUNG PBB ADA YANG BIKIN GEMPAR (MUSIK MALAM MINGGU, JAZZ, TVRI – SABTU, 9 JANUARI 1988 Pkl: 20.30 WIB)

BANGGA. Melampiaskan rasa bangga sambil berpose di samping mobil 

ENAM jawara musik muda (era itu) – Budi Iradiadi, Yovie Widianto, Yani Danuwidjaya, Desi Arlan Lahat, Hentriesa Yulmedia, dan Iwan Wiradz – membuka harapan baru (waktu itu) musik TV tahun 1988. Selama 30 menit, anak-anak muda (era itu) Indonesia 6 ini, menghadirkan 5 lagu, beberapa di antaranya dinyanyikan 2 vokalis Elfa’s Singers.

Indonesia 6 inilah yang awal November 1987 lalu mengharumkan nama Indonesia di festival Tingkat dunia. Pada Band Explosion ’87, suguhan Yamaha Music Foundation, di Budokan Hall, Tokyo, Jepang, dua dari mereka, terpilih sebagai pemain terbaik dunia. Yani Danuwidjaya, (saat itu) 15 tahun, pemain keyboard, dan Desi Arlan Lahat, (saat itu) 20 tahun, pemain bass.

Tak ada gembar-gembor tentang keberhasilan mereka. Barangkali karena festival band sedunia ini (waktu itu) baru pertama diadakan. Tapi soal si mungil Yani Danuwidjaya, banyak yang tahu keasktiannya. Sejak kecil, sudah menyatu dengan keyboard. Rambutnya dulu dikepang dua dan dengan lucu menjentikkan jari di tuts keyboard.

Sebelum ke Jepang, Yani sempat menggegerkan gedung PBB setelah memainkan lagu Phinisi ciptaan Andi Rosyid. Yani, Andi, dan Steven waktu itu bergabung dalam Yunior Original Concert. Jepang, bagi Yani, bukan negara yang (waktu itu) baru dikunjungi. Sebagai pemusik Yamaha, dia sering mangggung di sana. Light Music Contest, satu festival yang melahirkan mereka jadi duta Indonesia, pantas pula dibanggakan.

Sejak festival ini diselenggarakan tahun 1983, mereka yang mencuat sebagai juara, bisa bertahan, dan mendapat tempat. Urut-urutan pemenang sejak awal: Elfa Music Studio, Black Fantasi, Sqquairel, Krakatau, Emerald, dan terakhir Indonesia 6.

 

APIT. Sembari makan, Indonesia-6 mejeng bersama, mengapit Nathan East, pencabik bass di kelompok Al Jarreau 

TIRU. Pengarah acara Syam NM, yang menggarap MMM kali ini terpaksa pusing. Bentuk sajian ‘live sound’ sebetulnya sudah memadai. Tapi, keinginan untuk juga menampilkan panggung Tokyo, justru melahirkan kesulitan. “Saya sudah lihat rekamannya, tapi sulit kemungkinan memasukkannya sebagai inset.”

Kesulitan Syam, pita yang ada tidak mudah ditransfer. Padahal, selain sebagai variasi gambar, mestinya kita bisa meliaht mereka menerima piala gelar juara dunia. Atau melihat wajah Yani dan Desi yang bersorak ketika namanya disebut sebagai pemenang. Di Budokan Hall, tampaknya Indonesia 6 cukup puas. Selain ditonton para jagoan musik yang khusus diundang Yamaha, fasilitas panggung, alat, dan ‘lighting’ pun cukup memadai.

 

HARUM. Seperti tak ada yang tahu dan mau tahu bahwa Indonesia-6 mengharumkan nama bangsanya 

Sehari setelah World Pop Song Festival, yang meroketkan nama Guruh Sukarno Putra lewat lagu Kembalikan Baliku, gedung Budokan langsung disulap. Ribuan lampu berkelap-kelip, puluhan TV monitor disusun berbentuk piramid di tengah panggung. Dan lagu All The Things U Are, berstandar jazz, yang diaransir jadi 6 menit (waktu terpanjang yang ditentukan penyelenggara, mengalir lancar. Ada kesempatan Desi menunjukkan kebolehannya main bass, begitu pula Yani di keyboard.

 

FASILITAS. Sebelum malamnya berlaga, siang hari mereka memanfaatkan fasilitas yang ada untuk mencoba menjajaki panggung 

BARU. Kahitna, merupakan kelompok yang bervokalis Trie Utami. Vokalis ini akhirnya ikut di Krakatau, dan Kahitna berubah nama menjadi Indonesia 6, sejak Yani bergabung, pas menjelang final Light Music Contest di Jakarta. Merekalah kemudian berhasil keluar sebagai jaura grup.

Di Budokan Hall, enam anak Indonesia ini tampil prima. Atraksi musiknya manis. 22 grup yang bertarung, dan yang keluar sebagai juara: Ventilators dari Amerika, sekaligus vokalnya: Jaime Segel, meraih ‘Vocal Award’. Lalu, gitaris terbaik, Stephan Golser dari kelompok Blue Noise, Jerman, sedangkan pemain drum terbaik, Sergio Hernandez, kelompok Omar Jasso & Serpentario dari Meksiko.

“Selain mereka bisa bermain mapan, juga mengerti cara kerja kita,” Syam berkomentar soal syuting. Tapi, kegemasannya masih saja ada: tak bisa berbuat banyak selain ‘live sound’, bersahaja, dan menggunakan ‘dry ice’. Meski dia lihat bagaimana bagusnya TV Fuji, yang punay hak siar Band Explosion ’87, menggarap gelaran itu.

Ditulis oleh: Hans Miller Banureah

Dok. Monitor – No. 62/II/minggu ke-2 Januari 1988/6-12 Januari 1988, dengan sedikit perubahan 

Komentar

Postingan Populer