KEHILANGAN JEJAK BADAK DALAM MEREKA DI UJUNGKULON (MANUSIA DAN LINGKUNGAN, TVRI - MINGGU, 31 JULI 1988 Pkl: 12.15 WIB)
MENYAKSIKAN paket dokumenter yang diberi judul Mereka Di
Ujung Kulon, dengan masa putar 25 menit, sutradara Johan Syahfril, maka ingatan
kita langsung tertuju pada film Crocodile Dundee dan miniseri Return To Eden
(di Indonesia diputar TVRI-red).
Barangkali, ingatan itu berlebih-lebihan. Namun, bagi kalangan pencinta alam, wilayah Ujungkulon tidak lain merupakan surga terakhir. Menyebut Ujungkulon kita pun teringat pada Binatang badak bercula satu yang dewasa itu nyaris punah.
Tetapi, dalam paket Mereka, hewan itu sama sekali nggak nongol. Pasti Johan kesulitan mengikuti jejaknya. Sebagai gantinya, sang sutradara muda (era itu) yang pernah menghasilkan paket Mentawai dan Suku Laut (di Batam), mengetengahkan satwa liar lainnya, macam rusa liar di pulau Peucang, ular, dan buaya.
Banyak aspek yang bisa direkam dari jazirah di tepi Samudera
Indonesia itu. Tetapi, Johan sepertinya kebingungan, sehingga paket Mereka ini
ibarat suatu cuplikan yang tidak utuh. Setidaknya Johan maunya banyak
keinginan. Jadinya, kita seperti menonton film pendek tentang pariwisata.
Sejarah tercatat, sampai awal abad ke-19, daerah Ujungkulon yang luasnya puluhan ribu hektar, belum dijamah manusia. Baru setelah Junghuhn, seorang ahli ilmu tumbuh-tumbuhan pada tahun 1846 menemukan, lalu segalanya menjadi berubah. Pakar biologi dari berbagai penjuru dunia berbondong-bondong ke sana.
Bahkan Presiden Suharto dan Pangeran Bernhard dari Belanda tidak terhitung beberapa kali datang. Dalam satu sisi paket Mereka mengetengahkan juga profil tiga orang pengawas Taman Nasional Ujungkulon. Yaitu: Sutisno, Priyono, dan Ashari. Pada bagian ini menarik. Tapi toh Johan tidak mengemas komplit .Mereka bertiga tentu punya pengalaman suka-duka yang unik.
Sayang, mereka tampil begitu formal. Keformalan itulah yang menyebabkan sosok 3 orang tersebut tidak tergambar jelas. Bagaimana mereka merasakan rasa sepi, hidup di alam yang sunyi jauh dari hiruk-pikuk suasana kota, dan apakah mereka kerja terpaksa atau muncul dari hati nurani? Semuanya tidak terkuak.
Lantas, di paket Mereka ini diperlihatkan kalau mereka menemukan anak rusa yang luka karena diserang biawak. Anak rusa yang baru lahir ini akhirnya ditolong, dan mereka pun mencatat segala peristiwa itu secara detil. Kalau pemirsa merencanakan berpetualang di sana, hendaknya minta izin dulu ke Direktorat Perlindungan dan Pelestarian Alam (PPA) di Bogor.
Setelah itu, pemirsa bisa berangkat dari Labuhan. Dari sini langsung ke pulau Peucang dengan naik perahu – waktu yang dibutuhkan 6-7 jam. Baru kemudian, Anda (sebaiknya – saat itu – menginap) bisa meneruskan ke Ujungkulon – juga dengan naik perahu.
Musim kemarau adalah saat yang terbaik: April hingga Oktober. Selain Anda dapat dengan mudah mengamati segala rupa jenis binatang, pada musim itu jalan tidak bece. Jazirah di ujung barat pulau Jawa itu terdapat tidak kurang 200 jenis binatang. Angin berhembus keras sepanjang hari. Ombak terus-menerus bergulung-gulung bagai konser musik abadi.
Berbeda dengan pantai sebelah utara yang ombaknya sangat tenang. Di teluk Peucang, ombak tak besar. Waktu laut pasang, air naik membasahi daerah yang tertutup tumbuh-tumbuhan. Bila air surut, bekasnya kelihatan jelas memanjang bagai garis.
Sedikitnya, satu minggu Anda berlibur di Ujungkulon. Juga setidaknya paket Mereka tidak cukup dibuat dalam satu episode saja dengan waktu sekitar 25 menit. Bisa dibuat secara serial. Banyak hal yang bisa ditonjolkan dari situ.
Ditulis oleh: Syamsuddin Noer Moenadi
Dok. Monitor – No. 91/II/minggu ke-4 Juli 1988/27 Juli-2 Agustus 1988, dengan sedikit perubahan




Komentar
Posting Komentar