KASIDAH TANPA KAIDAH, MEMUJA TUHAN LEWAT GOYANG-GOYANG

 

LARANG. Grup Nida Ria, salah satu grup kasidah modern. Dulu (jauh sebelum 1988-red), dilarang goyang. Begitu goyang, (belakangan itu) ada yang keberatan 

KASIDAH, KAIDAH. Pada mulanya, ia adalah lagu puja-puji terhadap Tuhan dan rasulNya. Lalu, menjadi nyanyian para sufi, ketika menghablur diri, merambah jalan perkhidmatan. Tapi kemudian, menjadi sekadar dendang Pelepas lara para musafir di padang pasir. Celakanya, konsep musik ritmik yang bermula dari tanah Arabia, mengubah segalanya. Dan kasidah, musik yang semestinya religius itu, kehilangan makna spiritualnya.

Di Indonesia, nasib kasidah menjadi tak jelas lagi junturungannya. Kecuali Bimbo, Lingga Binangkit, El Bitrul, dan Sanggar Pravitasari yang biasanya ditayangkan di gelas kaca TVRI dan pentas-pentas peringatan hari-hari besar Islam. Kasidah lantas bersekutu atau dianggap persekutuan dengan musik dangdut. Didendangkan sambil menggoyangkan buhul. Syair-syair yang memuji Tuhan dan rasul, lantas kehilangan makna.

Dan celakanya, sambil mendendangkan puja-puji terhadap kemahabesaran Ilahi dan kesucian rasul, para penyanyi kasidah yang biasa ditayangkan TVRI acap Kamis malam setiap minggu, usai acara Mimbar Agama Islam, seringkali melakukan “penghinaan” terhadap Tuhan. Betapa tidak. Puja-puji untuk Tuhan ditampilkan sambil menggoyang buhul dan penampilan seronok yang norak.

Semestinya, ada pemahaman. Lagu kasidah, betapa pun bukan musik Islam, ditayangkan TVRI dalam konteks siaran agama yang hendak membangun kesadaran pemirsa terhadap kaidah-kaidah agama. Terutama menyangkut akhlak, alias norma. Karena syairnya toh mengajak orang untuk melakukan proses penempaan kesadaran diri terhadap berbagai dimensi ajaran agama. Tanpa memahami kaidah. Apa lantas makna kasidah?

PEMBARUAN, PEMBAURAN. Untuk bisa menampilkan kasidah yang tak kehilangan kaidahnya di layar TVRI, boleh jadi, ada patron tertentu yang digariskan dengan pertimbangan-pertimbangan etik dan estetik. Selain itu, ya boleh juga ada suatu tim khusus yang bisa memberikan pertimbangan, penampilan macam mana yang pas dan cocok untuk siaran semacam itu.

Selain itu, kalangan musisi dan pendendang kasidah sendiri, perlu dilakukan pembaruan. Khusunya dalam visi dan persepsinya terhadap hakikat nilai kasidah sebagai cabang seni yang diamksudkan sebagai produk yang dikehendaki mengandung nilai dakwah. Pembaruan visi dan persepsi ini penting artinya agar citra tidak menjadi buruk. Kalau perlu, lakukan pembauran dengan konsep musik tradisi yang memang pas untuk itu.

Misalnya konsep musik Parahyangan semacam Cianjuran. Bisa juga konsep musik tradisi Minang yang secara falsafi memang merupakan kesatuan budaya yang berorientasi pada prisnip adat bersendi syara’, syara’ bersendi kitabullah. Pembaruan itu bahkan bukan suatu hal yang harma, bil amengandaikan konsep musik yang lain, semacam irama keroncong.

Ini lebih pas ketimbang konsep musik dangdut yang selain ritmik, juga tak cukup jelas juntrungannya. Sekali-sekali bahkan boleh dicoba mengandalkan konsep musik yang memang religius, seperti alunan musik klasik semacam yang diciptakan oleh Mozart, Bach, Beethoven, dan lain-lain. Dan terus-terang, mungkin musik klasik semacam ini, yang lebih pas untuk disebut kasidah sebnear-benarnya.

PAS, PANTAS. Semestinya, memang pembauran dan pembauran semacam itu dipikirkan. Sehingga bisa benar-benar memajukan derap perkembangan kasidah yang memang religius dan enak sebagai santapan Rohani. Ini tentu amat berbeda dengan tampang dan juntrungan kasidah yang serin gkita saksikan, yang sebagian besarnya memang memalukan.

Mata acara yang disediakan TVRI sebenarnya sudah cukup positif dan efektif untuk memajukan kreativitas dan perkembangan kasidah yang lebih pas dan lebih pantas. Tetapi karena kemandegan kreativitas dan kaburnya visi para musisi dan pendendang kasidah yang mengisi siaran itu selama itu, acara itu jadinya, ya… memalukan begitu. Apa tak memalukan, kalau orang menggoyangkan buhulnya, sementara mulutnya mengucapkan syair semacam ini:

“Ya-Habi-bi ya Muhammad

Pendamai barat dan timur

Yang disegani dan dipatuhi

Pemimpin dunia dahulu dan sekarang

Berbahagialah yang pernah melihat wajahmu

Sebagai seorang Bapa yang penuh kasih sayang

Bengawanmu bening, sejuk menyegarkan,

Air minum kami di hari pembangkitan”

Sesuatu yang mestinya, ya didendangkan dengan perasaan yang penuh dan punya elan penghormatan. Ooo…

Ditulis oleh: N. Syamsuddin Ch. Haesy

Dok. Monitor – No. 62/II/minggu ke-2 Januari 1988/6-12 Januari 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer