KARYA GOMBLOH MASIH ADA, BIARPUN AGAK BEDA (ANEKA RIA NUSANTARA, TVRI - JUMAT, 22 JANUARI 1988 Pkl: 22.30 WIB)

 

Maya Rumantir


MENJELANG kematiannya pun, Gombloh tetap merakyat. Kesederhanaannya, kelugasannya merangkai kata-kata jadi lirik lagu selalu memudahkan orang menyimak apa yang ditemakan. Pada ARN kali ini, Muka Tembok, ciptaannya, (waktu itu) akan dinyanyikan Andy Mulya.

Gombloh adalah pencipta yang tak perduli. Memilih kata sesukanya, hingga, maaf, tai kucing pun, dimasukkan dalam lirik lagunay. Semenjak Kugadaikan Cintaku melambung, nama Gombloh kian melejit. Pencipta dan penyanyi cuek itu, semakin produktif, meski dia bilang, yang dikerjakannya belakangan itu khusus buat cari duit.

 

Acan

Lantas, proses pencarian duit itu apakah juga mengubah sikap Gombloh dalam berkarya? Menurtu sebagian orang, “ya”. Dia memang berubah, tapi yang menonjol sebetulnya cuma pada tema. Kalau dulu (jauh sebelum 1988-red) orang mengenal Gombloh dengan tema sosial, kadang-kadang menyulut api semagnat, (belakangan itu) lebih menonjolkan tema cinta remaja. Pemilihan kata-katanya, tetap bertahan. Dan dia sebetulnya tak begitu saja melempar ciptaannya.

Meski titik pandangnya dari kata cinta, perbedaan penggarpaan dnegan “komposer cinta” lainnya, tetap kentara. Jika komposer lain menganggap, menerjemahkan cinta dengan keagungan dan keindahan, Gombloh justru menganggap hal itu biasa.

 

Endang Wijayati 

Jika komposer lain memilih kata-kata terindah untuk ungkapan rasa cinta, Gombloh justru tidak. Apa adanya. Pada Muka Tembok, salah satu karya terakhirnya, kata-kata pasaran yang digemarinya tetap ada. Simaklah bagian ‘reffrain’-nya, “Jangan heran pria macamku/Tak punya harga diri/Walau engkau sering memaki/Muka tembok.” Tapi dia tidak terpaku pada kekonyolan sepert iitu.

Pada bait terakhir dia menulis: “Kucoba berbenah kalau mau bercinta/Koreksi diri sendiri/Sebelum aku yakin lelaki yang mandiri…” Percintaan yang menjadi tema Gombloh, lebih banyak terangkat dari kalangan bawah. Maka jangan heran jika pada lagu Lepen, Lelucon Pendek, kekocakan tokoh yang diangkatnya adalah kekocakan manusia kere.

Simak lagi potongan lirik Lepen: “Dengan tiga batang Dji Sam Soe/Yang kusimpan di saku ‘blue jeans’-ku/’Kickers’ loakan menambah angker tampangku…” Muka Tembok, bertema sederhana. Tapi ternyata tak sembarang orang bias bagus menyanyikan ciptaan Gombloh. Andy Mulya punya vokal bagus. Namun, ini yang melemahkan lagunya. Simaklah kalau Gombloh menyanyikan lagunya sendiri, ada khasnya. Ini tak dimiliki banyak orang. Penampilan cueknya, atau jenis vokalnya.

Barangkali Tyas Drastistiana bisa sukses karena lagu Gombloh yang dinyanyikan, bekas Gombloh sendiri. Atau alasan lain, dia cewek, dan Gombloh kayaknya tahu persis membuat lagu kayak apa untuk dia. Pada ARN kali ini, di antara 10 penyanyi yang tampil, ada nama DKSB (Depot Kreasi Seni Bandung) yang dikenal orang lewat nama pendukungnya, Harry Roesli. Judul lagu mereka, Dunia. Yang membuatnya menarik adalah komposisi bunyi-bunyian yang teratur dan tergarap hati-hati.

Sementara dari sisi vokal, Dunia tak istimewa. Justru yang jauh lebih menarik, adalah penampilan Acan dan kawan-kawan lewat gerakan enerjiknya. Lalu pemilik vokal sendu, Nur Afni Octavia, menghadirkan Kasih, ciptaan Wahyu OS. Satu lagu yang cukup manis dan pas untuk Afni. Lewat Kasih, Afni mampu menonjolkan ciri vokalnya serta kebolehannya berekspresi memelas.

Ditulis oleh: Hans Miller Banureah

Penyanyi/judul lagu (dalam Aneka Ria Nusantara edisi 22 Januari 1988): 

1.       Liliek MS – Demam Dangdut

2.       Nita Wibowo – Undangan Biru

3.       Andy Mulya – Muka Tembok

4.       Maya Rumantir – Di Hatinya Masih Ada Rindu *

5.       Endang WIjayati – Dr. Cinta

6.       Harry Roesli – Dunia *

7.       Hanna Pertiwi – Setan Jalanan

8.       Naina Lucy – Satu Bantal Dua Kepala *

9.       Pance Pondaag & Deddy Dores – Rindu Kehadiranmu *

10.   Nur Afni Octavia – Kasih **

**** = Istimewa, *** = Bagus sekali, ** = Bagus, * = Cukup

GRUP GIDEON MELUCU LEWAT MINANG NEWS SERVICE (LAWAK ANEKA RIA NUSANTARA, TVRI – JUMAT, 22 JANUARI 1988 Pkl: 22.30 WIB)


SEBAGAI wajah baru (kala itu), grup Gideon telah membuktikan bahwa mereka punya potensi untuk membanyol. Setelah beberapa kali mengisi Senyum Sejenak, grup yang terdiri dari Ginanjar, Deri, Iyon dan Jimmy ini sampai juga mengisi selingan Aneka Ria Nusantara, selain juga dalam Ragam Desa.

Penampilan di acara Nusantara, Gideon mampu menyajikan bentuk lawakan yang lumayan kocak. Letak kekuatan grup ini, pada permainan kata-kata – celetukan atau main ledek-ledekan. Seperti waktu Ginanjar yang bertubuh mungil itu diledek Derry. “Kecil orangnya, mainnya lama…,” saut Ginanjar spontan. Penonton pun gerrr. Memang, ucapan Ginanjar tadi bisa mengarah ke “sono”, maka cepat-cepat ia menetralisir. “Maksudnya, main catur.”

Atau lagi, cara Ginanjar melancarkan rayuan dalam bahasa ilmu eksakta. Macam, “Rambutmu bergelombang seperti gelombang longitudinal. Hidungmu seperti segitiga sama kaki, gigimu sebangun dan sama sisi.” Banyolan model begini sesungguhnya tak terlalu asing di kalangan anak mdua (era itu), tapi justru itulah kelebihan Gideon, yang personalnya (waktu itu) masih muda-muda.

Humor-humor yang sangat dekat dengan dunia remaja (era itu) lebih mudah mereka sentuh dibanding grup-grup lain. Jimmy yang mleontarkan lawakan dengan meniru penyiar English News Service (TVRI Saluran 8 – sebelum berubah jadi TVRI Programa 2, red), program bahasa Inggris, sanggup pula menggelitik. Bahasa Inggris yang ia selewengkan ke bahasa Minang lumayan menggelikan. Sedangkan Iyon yang pandai menyanyi India tak kalah bikin gerrr.

Dibanding dengan penampilan mereka sebelumnya dalam Aneka Ria TVRI, pemunculan kali ini, jauh lebih baik. Mungkin lantaran di ARN ini, mereka tak dititipi peasn atau misi. Kalaupun masih ada yang kurang, spontanitas dalam pemancing tawa dengan memanfaatkan situasi dan benda-benda di sekitar mereka, (waktu itu) belum cukup dimanfaatkan. Tak apa, kepekaan bisa dilatih. Gideon (saat itu) telah hadir, dan (harapan waktu itu) mudah-mudahan akan terus mengalir.

Ditulis oleh: Tavip Riyanto

Dok. Monitor – No. 64/II/minggu ke-4 Januari 1988/20-26 Januari 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer