KARLINA
MENURUT Karlina Inawati, pemeran Muryani dalam Ketoprak Sayembara Telik Sandi, TVRI Yogya, hidup itu harus dengan ‘planning’, perencanaan. Dengan begitu, bisa mengantisipasi target yang diburu. “Kalau tanpa ‘planning’, bisa berantakan,” ujar wanita kelahiran Ponorogo, 1 Maret 1966 ini.
Hal ini dibuktikan tatkala dia mulai masuk fakultas kesenian Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Jarak tempuh kuliah diperhitungkan masak-masak. Dengan target lulus tepat pada waktunya, sembilan semester.
“Semester ini saya mulai KKN,” lanjut penari yang sejak setahun sebelumnya (1988-red) bebas bayar SPP lantaran IP-nya selalu membumbung. Tapi, kalaupun kemudian penggemar pecel, gado-gado, dan sayuran segar ini merambah wilayah teater dan ketoprak, itu bukan lantaran ‘planning’-nya bubrah. “Gimana, ya? Soalnya, saya selalu kepengen tambah teman dan tambah wawasan.”
Maka, ia bergabung di Teater Shima, dan dua bulan sebelumnya (Juli 1989-red) ikut tampil dalam lakon Anjing Tercinta. Penampilannya di ketoprak merupakan yang pertama. Sebelumnya, wanita yang mengaku agak bandel ini cuma sekadar senang. Dari senang, biasanya keterusan menjadi cinta. Dan kalau sudah cinta apapun dan bagaimanapun sitausi dan risikonya, niat hati harus terlaksana.
“Nah, dari satu ‘planning’ dirancang lagi,” kilah anak ke-2 dari 6 bersaudara, putri keluarga purnawirawan vs Gondowarsono, yang ketika kecil pengen menjadi polwan ini. Rancangan itu, tentunya, termasuk bagaimana seumpama rampung kuliah, dan bagaimana jika nantinya menjadi ibu. Baginya, menjadi ibu atawa istri mesti didasari kasih. Tanpa itu, rumah tangga yang dibangun jadi tak berarti, kecuali jika orientasinya kepada materi.
Penggemar warna hijau, kuning, dan ‘pink’ yang (waktu itu) masih kos ini, punya keinginan dipetik oleh yang menyirami dan menybuurkan cintanya. Tak jelas siapa yang dimaksud. Barangkali bisa mahasiswa, pelawak, atau bahkan tentara.
“Huss, jangan memancing soal itu, ta. Sekarang (1989-red) ini saya lagi ‘buneg’, ppikiran kusut,” sergah Lina yang punya gangguan sakit maag, tapi sering ‘ndableg’ makan pedas-pedas. “Setelah syuting ketoprak ini selesai, saya akan membereskan ke-‘buneg’-an, menentukan pilihan yang pas.”
Ditulis oleh: Butet Kartaredjasa
Dok. Monitor – No. 150/III/minggu ke-3 September 1989/13-19 September 1989, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar