JOEDO WIBOWO
OLIMPIADE SEOUL. Setelah 30 tahun tidak ketemu, akhirnya Joedo Wibowo Poerwowidagdo, (saat itu) 46 tahun, ketemu mantan kawan sekelasnya.
Pertemuan itu berlangsung di arena reuni SMA I Kristen, Solo, lalu berlanjut ketika pekan ketiga September 1988 lalu dia bersama rombongan Padepokan Seni Bagong K berpamitan pada Menpen Harmoko. “Pak Joedo ini dulu kawan saya sekelas. Saya tahu persis siapa dia. Karenanya saya berani menjamin, kalau pimpinan rombongannya pak Joedo, pasti lancar,” kata Harmoko di depan 30 anggota padepokan.
Oleh Bagong Kussudiardja, rektor Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) ini memang didaulat sebagai “panglima” Duta Budaya Indonesia yang (waktu itu) akan melawat ke-5 negara Asia. Tetapi kalau dia membacakan sejumlah puii di layar kaca, itu bukan karena didaulat siapa-siapa. “Cuma ngecek, apakah saya masih mampu,” tutur bapak 3 anak (1 – waktu itu sudah – meninggal) yang semasa SMA pernah jadi juara deklamasi ini. Dan nyatanya, kualitas vokalnya pantas dipuji.
Barangkali lantaran sudah cukup terlathi sebagai pendeta di sejumlah gereja, di Yogya. “Kalau ada waktu longgar, saya tetap aktif memimpin kebaktian.” Menulis puisi? “Tidak lagi. Soalnya, tidak ada waktu untuk mengendapkan permasalahan.” Baginya, puisi itu bukan sekadar inspirasi dan kata-kata. “Tapi, harus ada jiwanya.”
Dan puisi yang ada “jiwa”nya itu, dia jumpai pada sejumlah puisi Rendra yang diulasnya dalam Lembar Sastra Budaya, TVRI Yogya. “Rendra dengan jitu menampilkan paradoks antara nilai-nilai agama dan realitas sosial.”
Hal ini ia dapati pada antara lain Khotbah, Nyanyian Angsa, Sajak Ibunda, Amsal Perjalanan ke Golgota. Lalu, doktor yang sanga tmeminati kesenian ini pun membaca puisi-puisi Rendra. Tak apa, sementara penyair sebenranya belum memperoleh lampu hijau, biarlah syairnya lolos berkumandang.
Ditulis oleh: Butet Kartaredjasa
Dok. Monitor – No. 99/II/minggu ke-3 September 1988/21-27 September 1988, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar