BENNI SETIAWAN “BULU = ASYIK” (KELUARGA RAKHMAT, TVRI PROGRAMA 1 - TIAP RABU Pkl: 20.05 WIB)

 
BENNI Setiawan, pemeran Purnomo dalam Keluarga Rakhmat (TVRI Programa 1) yang senang dengan cewek berbulu, yang mengaku (saat itu) sudah punya pacar, tapi ogah menyebutkan namanya, yang senang makan apa saja – tapi itu bukanb erarti melihat apa saja lantas ia makan – ternyata ada satu hal yang paling ia takuti: mati! Soal cewek berbulu gimana sih ceritanya? “Nggak tahu deh. Pokoknya suka aja melihat cewek berbulu. Kayaknya asyik.”

(Soal buah tangan di hal. 9 – Monitor No. 150/III/minggu ke-3 September 1989/13-19 September 1989) 

JIKA NONTON PENAMPILANNYA DI TELEVISI, BENNI SETIAWAN SUKA GELI 

BUAH TANGAN. Tatiek Maliyati dan Fritz G Schadt disebutnya sebagai orang yang pantas ia terimakasihi atas segala prestasi yang ia raih. Tatiek-lah yang mendorong nya untuk ikut tes ketika Keluarga Rakhmat (TVRI) akan diproduksi. Beruntunglah ia lolos dari seleksi dan menyisihkan sekian banyak saingan. Sementara Fritz adalah orang yang banyak membimbingnya dan mendorongnya untuk terus kreatif.

Episode Jalan Masih Panjang adalah buah tangannya. Selain menulis cerita untuk Keluarga Rakhmat, bujangan (era itu) yang merasa daya tariknya ada di bibir ini, juga punya keterampilan lain: menulis lagu. Dari beberapa lagu yang sudah berhasil ia ciptakan, memang (waktu itu) belum ada yang direkam.

Beruntunglah ia punya orangtua yang tak melarang-larangnya ketika ia memutuskan untuk kuliah di Institut Kesenian Jakarta dan bergiat di bidang seni. “Orangtua memberi kebebasan penuh pada anak-anaknya. Tentu, harus bertanggung jawab.” Benni adalah sulung dari tiga bersaudara (dua laki-laki satu perempuan) yang lahir dari pasangan R. Ruddi Somadiharja dan Tati, pada 28 September 1964.

Sebelum terlihat dalam Keluarga Rakhmat, ia ikut main dalam seri ACI-SMA (juga diputar TVRI-red). Di sini ia berperan sebagai kakak Sylvana Herman. Juga ikut main dalam beberapa film layar lebar sebagai figuran. “Kita sudah seneng-seneng, eh giliran filmnya diputar tampang kita nggak nongol.” Ia juga ikutan mengisi suara sandiwara radio Rini Tomboy sebagai pengisi suara Yosef.

 

Benni suka mengamati lingkungannya dan memetik pelajaran dari sana 

BUAH MALAS. Memerankan sosok Purnomo, anak keempat keluarga Subangun, tidak terlalu sulit baginya. “Dalam beberapa hal, memang sih ada yang mirip. Seperti soal menganggur, saya pernah mengalaminya, biar nggak terlalu lama.”

Tentang anak-anak muda (era itu) yang (waktu itu) masih nganggur, lalu menghabiskan waktunya dengan nongkrong di pinggir jalan, mabuk-mabukan, atau bahkan terlibat dalam tindakan kriminal, dia bilang, “Saya tidak bisa menyalahkan mereka begitu saja. Persaingan dalam mencari pekerjaan yang kian hari kian tajam, memang tidak memberikan pilihan terlalu banyak buat mereka. Tapi itu tergantung orangnya juga sih. Kalau dasarnya memang males, ya gimana lagi?”

1989, usia Benni 25 tahun. Walau (saat itu) sudah punya calon yang mantap, ia (waktu itu) masih merasa terlalu muda untuk merencanakan perkawinan. “Kalau modalnya cinta aja, terus kawin, memangnya mau makan cinta?” Itulah Benni Setiawan yang suka geli kalau melihat kembali penampilannya di TV. “Kenapa gua mesti begitu? Kenapa nggak begini?,” begitu dia sering berkata kalau dirasa aktingnya sendiri tidak sreg.

 


Usahanya untuk ikut menulis skenario dalam serial Keluarga Rakhmat demi tanggung jawab moral untuk membuat seri ini lebih bisa menarik penggemar lebih banyak, mungkin juga satu hal yang membanggakan.

“Yang terpenting yang harus saya lakukan saat ini (1989-red) adalah berusaha main sebaik-baiknya dan berdisiplin dengan waktu. Soal hasilnya bagaimana, nantilah biar penonton yang memberi penilaian.” Ketika diminta berkomentar tentang Jojo, “saudaranya” yang dari serial Jendela Rumah Kita, dia bilang, “Jojo itu kayaknya kurang ajar nya kelewatan, apalagi kalau sama orangtua. Tapi saya suka kok sama karakter Jojo itu.” Sungguh mati, ini bukan iri kok. Iya khan, Ben?

Ditulis oleh: Yanto Bhokek

Alamat Benni Setiawan (waktu itu):

Jln. Palang Merah no. 7

Biak, Roxy – Jakarta Pusat

Dok. Monitor – No. 150/III/minggu ke-3 September 1989/13-19 September 1989, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer