JELLY TOBING (ANEKA RIA SAFARI, TVRI PROGRAMA 1 - JUMAT, 7 JULI 1989 Pkl: 20.05 WIB)
JELLY Tobing, (saat itu) 39 tahun, mau memecahkan rekornya sendiri. “Saya mau main drum selama 10 jam sebelum yang 8 jam tahun kemarin (1988-red) dimasukkan dalam ‘Guinness Book of Records’,” katanya menjelang rekaman ARS (Aneka Ria Safari) di studio TVRI.
Alasan Jelly menggebu-gebu begitu, terutama karena ingin menunjukkan semagnat. “Saya punya bayangan, kita ini bisa bicara di kancah musik internasional. Jepang punya Loudness, kok kita cuma jadi jagoan di kandang?”
Dan kata Jelly, ini merupakan tantangan bagi musisi yang (waktu itu) sudah tua maupun yang (waktu itu) baru muncul. “Kapan lagi kita menunjukkan kemampuan? Sekarang (1989-red) saja orang-orang sudah makin hebat. Apakah kita sudah puas dengan situasi yang ada sekarang (1989-red)?” Banyak tanya bernada tak puas. Tapi dia juga tetap mencoba berbuat.
Misalnya, bereksperimen menggabung ‘taganing’ Batak dengan drum ber-‘beat’ cepat. “Saya juga masih punya semangat tinggi,” komentarnya. Barangkali, semangat inilah yang mendorongnya bergabung dalam beberapa kelompok musik macam Lipstick, Bharata, Superkid, dan SD Band.
Terus yang menarik di acara pemecahan rekor nantinya, Jel? “Saya lagi berusaha memakai lampu yang dipakai waktu ada kue tertinggi dari Surabaya.” Semangat, tentunya lebih baik dibarengi usaha. Dan acara Jelly yang (waktu itu) bakal digelar di Surabaya itu, (smapai saat itu) masih tuntas. Buktinya dia (sampai saat itu) masih mencari siapa yang menunjang dana. “Tapi saya yakin, kalau diusahakna dan diyakinkan, ada saja yang mau. Ini juga menunjang dunia musik.”
Ditulis oleh: Hans Miller Banureah
Dok. Monitor – No. 140/III/minggu ke-1 Juli 1989/5-11 Juli 1989, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar