JACK COLEMAN MEMILIH JADI AKTOR DARIPADA PROFESOR (DYNASTY, TVRI – SETIAP KAMIS, SEJAK 2 JUNI 1988 Pkl: 21.30 WIB)

Bersama Pamela Belwood

JANGAN terkejut jika episode ke-48, sosok Steven Carrington berubah jadi cakep dan gagah. Sebab, pemerannya sudah diganti, bukan lagi Al Corley melainkan Jack Coleman. Dibikinlah cerita, bahwa Steven mengalami kecelakaan di kilang minyak yang meledak. Maka, ia lalu menjalani operasi plastik pada wajahnya.

Tentang pergantian ini, tidak jelas alasannya. Al Corley pun cuma mengatakan, “Semaunya merupakan kebijaksanaan produser yang tak aku mengerti maksudnya.” Apakah berani Al didepak begitu saja? Mungkin juga. Mengingat dari segi penampilan Jack Coleman memang menawan. Meskipun di segi akting belum tentu.

Dan sesungguhnya banyak yang mengatakan, jika Al lebih pas memerankan Steven, dibanding Coleman. Konon, paras Al sudah menggambarkan sikap kaku dan kayak “orang sakit”, yang memang menjadi karakter Steven. Kalau Coleman dinilai terlalu cakep. Apapun komentar yang muncul, toh produser punya pertimbangan sendiri. Nilai jual Coleman yang memang lebih unggul, rasanya menjadi faktor utamanya.

“Yang jelas, lepas dari Dynasty, bukan berarti aku harus merangkak dari bawah!,” ucap Al rada jengkel. “Meskipun aku juga tak akan melupakan bahwa serial itu yang mengangkatku,” tambhanya. Bagi Coleman, ia merasa tidak menyerobot porsi orang lain.

Menurutnya, ia sebenarnya tidak menyangka jika akan memerankan Steven. “Ketika aku ditawari, “Apakah mau ikut dalam Dynasty?” Langsung saja aku katakana ‘sure’. Sungguh, aku kira cuma sebagai bintang tamu saja.” Coleman lahir di Easton, Pennsylvania, 21 Februari 1958, dari keluarga terhormat. Ayahnya, seorang profesor bidang sejarah. Bahkan kakeknya pernah mendapatkan penghargaan Pulitzer pada tahun 1934.

Di lingkungan intelek itulah ia dibesarkan. Jadi, dunia akting sebelumnya jauh dari pikiran. Perubahan terjadi sewaktu ia kuliah di Duke University. Di situ ia mulai tertarik dengan seni peran, yang ia wujdukan dengan bergabung dalam teater kampus. Kegiatan di pentas juga menyebabkan Coleman meninggalkan basket. Padahal, ia termasuk bintang universitasnya.

 


IKAT, LIBAT. Semakin lama, ia semakin “tenggelam”. Sampai-sampai tindakannya dianggap telah mengecewakan orangtuanya, yang berharap Coleman bisa mengikuti jejak ayahnya. Dari tujuh saudaranya, hanya ialah yang terjun ke sini. Yang lainnya bisa dibilang berhasil dalam pendidikan.

Namun, aktor bertinggi 185 ini punya alasan tersendiri. “Kalau sudah cinta, kita akan terjerat. Dan jerat itu kian lama kian mengikat, sulit kayaknya untuk melepaskan. Lagipula setipa orang khan mempunyai jalan sendiri-sendiri.” Kenyataannya, keteguhan sikapnya tak sia-sia. Setelah beberapa kali tampil di panggung, kesempatan untuk muncul di televisi secara teratur tiba. Ia terlibat dalam film seri Days of Our Lives (di Indonesia diputar TVRI-red) selama satu tahun.

Sebagai muka baru, yang langsung kepakai dalam film seri – yang tergolong populer – itu, jelas tak terpisahkan dari nasib baik. Dari sinilah kemudian membawanya ke Dynasty, yang mulai ia libati pada tahun 1982. Ini merupakan langkah terbesar buatnya. Sebab lewat Dynasty namanya melambung ke puncak. “Karena film itu menjadi favorit, maka aku tak perlu banyak berpikir sewaktu tawaran datang.”

Coleman pun mengaku tak terlalu asing dengan karakter tokoh yang ia pernakan. Sebab, ia sering mengikutinya di layar televisi. Cuma, Coleman ogah berkomentar jika ditanya apakah dirinya lebih baik menjadi Steven daripada pendahulunya. “Tak adil rasanya bila aku yang harus memberikan pendapat.”

Harapan pertama Coleman telah terwujud. Selanjutnya? “Banyak yang ingin aku kerjakn. Tapi itu nanti saja. Aku tidak mau mengatakan, karena aku khawatir suatu saat bisa berubah.” Dari hasil Dynasty, ia telah membeli rumah di Los Angeles, yang letaknya dekat dengan laut dan pegunungan. Ada alasan tertentu mengapa ia memilih tempat itu. Tak lain sehubungan dengan kegemarannya berlayar dan main ski.

Hobi lain, Coleman? “Memetik gitar, tapi jangan cepat-cepat berpendapat kalau aku juga ingin jadi penyanyi. Tidak, aku tak punya pikiran ke arah itu, kok.” Coleman yang suka tempat tenang dan suasana romantis ini, berkata singkat bila disinggung soal Christine Kellog, kekasihnya. Katanya, ia suka lantaran pada diri Christine, banyak ia temukan kelebihan. Contohnya? “Tak bisa aku sebutkan satu per satu. Pokoknya banyak.” Iya, deh.

Ditulis oleh: Tavip Riyanto

Dok. Monitor – No. 83/II/minggu ke-1 Juni 1988/1-7 Juni 1988, dengan sedikit perubahan

 

Komentar

Postingan Populer