INES SUKANDAR: "ENAK DIPAKAI"

 
PENYIAR ENS. Selain pembaca berita ENS, English News Service (TVRI Programa 2/TVRI Stasiun Denpasar-red), Ines Sukandar juga mengawal Dian Rana – acara teve (TVRI Programa 1, red) tayangan tanggal 30 tiap bulannnya. Dian Rana banyak menyiarkan laporan ‘human interest’.

Sejak menyiar, ia jadi suka pakai rok. Biasanya, lebih memilih baju ‘sport’ dan celana panjang. “Saya jadi suka dandan, tapi saya nggak mau dibilang glamor. Pokoknya, yang penting, baju itu sopan dan enak dipakai.” Soal kesukaan, ia juga suka warna biru dan ‘pink’. Eh, masih soal kesukaan, banyak pemirsa lho suka kau… “Saya memang milik masyarakat. Milik teve. Di rumah, milik diri sendiri.” Milik pacar, kapan dong?

(Yasser Arafat di hlm. 8, Monitor No. 136/III/minggu ke-1 Juni 1989)

BEKAS MASA KECIL INES SUKANDAR ADA DI DENGKUL


YASSER ARAFAT, CHUCK NORRIS. Lahir di Beijing, 4 November 1963, Ines Purbasari Sukandar, punya tinggi 167. Putri kedua dari empat bersaudara, kesemuanya laki-laki, ini mengaku, menjadi penyiar TVRI sejak Februari 1985 – tidak pernah diimpikan. Sejak kecil ia ingin jadi dokter. Tapi kandas dan beralih ingin jadi diplomat – sampai bacaan ini diturunkan Monitor (1989-red). Namun, saat itu tidak ada pekerjaan yang paling meneynangkan, selain menjadi penyiar dan reporter.

Alasannya? “Saya jadi banyak kenalan. Saya juga tidak ketinggalan dengan berita-berita yang ada. Saya jadi tahu ada perang Iran-Irak. Tahu Yasser Arafat dan teman-temannya.” Selain baca berita, Ines kadang membuat ‘feature’ dan wawancara. “Syuting keluar, entah wawancara atau membuat ‘feature’ membutuhkan waktu dan pengetahuan ekstra. Pekerjaan yang butuh tantangan.”

Soal tantang-menantang ini bukannya tanpa sebab. Putri pasangan Dadang Sukandar dan Djuharni ini besar di lingkungan pria. Ini juga yang membuatnya suka nonton film horor ‘action’. “Saya suka yang alur ceritanya kakak dan adik saya yang suka nonton film jenis ini.” Lingkungan ini juga yang membuat gadis (era itu) yang menyenangi Chuck Norris dan Clint Eastwood ini waktu kecil saling main mobil-mobilan. “Sampai sekarang (1989-red) bekasnya masih ada di dengkul.”

Mulanya, melamar jadi penyiar hanya iseng. Saat itu, ia baru tiba dari Brussel, dan sempat menganggur setahun sebelum kuliah di FSUI, jurusan sastra Perancis – (belakangan itu) semester ke-8. “Daripada nganggur, saya ikut tes di teve (TVRI-red). Saya pasrah, diterima syukur, nggak ya udah.”  Pengalaman pertama berhadapan dengan kamera, ia sempat kebat-kebit. Pasalnya, studio yang dinginnya minta ampun menjadikannya grogi. Setengah tahun ia mampu melewati masa krisis itu.

SETIA. Gadis (era itu) satu-satunya dalam keluarga, kadang suka kesepian. Kalau sudah gini, buku bisa jadi “teman kencan” Ines yang setia 

PRANCIS, INGGRIS. Walau senang, Ines yang punya hobi baca dan makan pasta ini, tidak mau bekerja ‘full time’ di teve. “Setelah lulus kuliah, saya mau bekerja ‘full time’ di tempat lain.”

Menetap di Jakarta sejak Maret 1984, sebelumnya berpindah dari negara satu ke negara lain – mengikuti orangtua. 1989, “Saya sudah besar, kalau ikut orangtua terus, saya nggak bisa ngapa-ngapain dong. Mulanya sih sibuk. Segala sesuatunya mesti diurus sendiri. Kalau nggak gitu, segalanya akan ketinggalan.”

Ketinggalan pacar? “Ah, nggak usah ungkit soal itu. Yang jelas, teman pasangan sudah ada. Saya sih maunya sebelum 4 tahun dari sekarang (1989 ke 1993-red), saya sudah nikah.” Siapa sih? “Rahasia, dong.”

Bagi Ines – anak wakil dubes di Wina – tidaklah sulit untuk berkomunikasi dalam pelbagai bahasa. Apalagi bahasa Perancis. Anehnya, biar sudah bisa omong Perancis, ia memilih jurusan Perancis untuk studinya. “Saya butuh tahu latar belakang kebudayaan Perancis. Tentang sastranya maupun linguistiknya, bukan sekadar bisa ngomong.”

Ines yang tidak dapat bahasa Indonesia sampai umur 3 tahun, ikut orangtua ke Indonesia. Itu yang membuatnya lupa bahasa Mandarin, karena ia mesti belajar bahasa Indonesia. Bahasa yang dikuasai pun tinggal 3: Indonesia, Inggris, dan Perancis.

Kecewa menghadapi orang Indonesia, Cuma soal jam “karet”. Sementara ia sendiri terbiasa takut janji. Tapi tidak mampu tepat waktu. Baik janji bertemu dosen, wawancara, atau janji sama teman. Dalam hidup, Ines punya prinsip, “Hidup itu menuju target, tujuan, lahir, belajar, kerja, lantas nikah, itu aja.” Kalau tidak tercapai? “Wah, nggak tau ya. Yang jelas, kita ada usaha menuju ke sana. Ngeri sih kalau sampai nggak kesampaian.”

Ditulis oleh: Ida M. Palaloi

Alamat Ines Sukandar (waktu itu):

Tebet Timur Dalam 8 no. 15

Jakarta Selatan

Dok. Monitor – No. 136/III/minggu ke-1 Juni 1989/7-13 Juni 1989, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer