INDONESIA VISION DALAM BERITA
BEIJING. Beberapa waktu yang sebelumnya, penulis bacaan ini (J.B. Wahyudi), bersama pak Adi Kasno berada di Beijing, guna menghadiri sidang kelompok studi berita ke-14, Asia Pacific Broadcasting Union (NSG-ABU).
Penulis bacaan ini (J.B. Wahyudi) sangat terpengaruh perdebatan yang terjadi, khususnya tentang tarif penggunaan satelit, guna menunjang pelaksanaan Asiavision. Bahkan di luar (waktu itu) sedang terjadi pembicaraan hangat di antara wakil-wakil ASEAN untuk membentuk ASEAN VISION.
Pemikiran penulis bacaan ini (J.B. Wahyudi) saat itu, kenapa penulis bacaan ini (J.B. Wahyudi) harus bingung memikirkan Asia, ASEAN Vision, padahal kita punya satelit Palapa. Kenapa penulis bacaan ini (J.B. Wahyudi) tidak memikirkan Indonesia Vision sehingga peristiwa di Jayapura hari itu, dapat disiarkan di Jakarta hari itu juga?
Bentuk penyiaran berita yang terlihat pada pirsawan, bukan hanya lebih cepat dari media cetak manapun. Akan tetapi sekaligus lebih beremosi, karena langsung dilaporkan dari tempat kejadian. Sistem ini memakai ‘downlink’, yaitu sinyal ditembakkan dari satelit ke stasiun bumi. Jadi bukan materi film atau kaset video yang digotong ke stasiun penyiaran yang jelas-jelas makan waktu lama.
“Selamat petang, Gunung Agung di Bali meletus siang tadi. Ribuan penduduk di sekitar lokasi belum diketahui nasibnya hingga saat ini. Reporter kami, dari TVRI Stasiun Denpasar akan melaporkan langsung peristiwa ini. Dari Denpasar, Bali, kami ajak Anda mengikuti peristiaw-peristiwa aktual hari ini, yang terjadi di berbagai tempat di tanah air. Kita awali dari daerah bencana di provinsi Bali.”
Masih penyiar Uci, muncul dengan foto Gunung Agung di latar belakang. “Ribuan penduduk di sekitar Gunung Agung yang meletus siang tadi sekitar pukul 14.15 WIB, hingga berita ini disajikan, belum diketahui nasibnya. Suara gemuruh dan semburan api dari arah puncak gunung masih sering terdengar. Reporter kami, Ramli Parinduri, melaporkan dari tempat kejadian.”
Muncul di layar TVRI Gunung Agung dengan asap tebal dan kadang-kadang diseling oleh kilatan api dengan suara gemuruh, jelas terdengar. Muncul reporter Ramli Parinduri, melaporkan: “Saudara, suasana cukup mencekam. Awan gelap menyelimuti Gunung Agung diseling kilatan api dan suara bergemuruh.
Kami berada di sekitar 60 kilometer puncak gunung, di pos pengawas satu. Bila kita saksikan di puncak gunung, (kamera bergerak meninggalkan reporter Ramli Parinduri, menuju puncak gunung, sementara suara reporter terdengar terus melaporkan), letusan tampak mengarah ke barat daya, yang padat penduduk. Ribuan penduduk yang tinggal di lokasi itu, hingga saat ini (1989-red) belum diketahui nasibnya…. Dst.”
Berita ini disajikan dengan waktu lebih 4 menit. Penulis bacaan ini (J.B. Wahyudi) sebagai penonton benar-benar ikut tercekam suasana, sambil membayangkan betapa besar penderitana saudara kita yang terkena musibah itu.
BALIKPAPAN. Muncul kembali penyiar Uci, dengan wajah sedikit sedih, selanjutnya mengatakan: “Dari daerah bencana di Bali, kita menuju ke Manado, Sulawesi Utara, sebuah toko swalayan terbesar di kota itu musnah dilalap api sore ini. Reporter Leny Kapoyos melaporkan dari Manado.”
Muncul di layar kobaran api yang membakar toko swalayan yang cuku pmegah, dengan dilatarbelakangi suara sirine mobil pemadam kebakaran. Muncul reporter Leny, melaporkan, “Sekitar 33 buah mobil pemadam kebakaran dikerahkan, untuk mengatasi kobaran api yang belum diketahui sebab musababnya. Toko swalayan termegah di kota Manado yang baru diresmikan tahun lalu (1988-red) oleh menteri dalam negeri, tampaknya sulit diselamatkan lagi… dst.”
Muncul penyiar Uci. “Dari Manado, Anda kami ajak ke Jakarta kembali, guna mengikuti vonis pengadilan, yang mengadili kasus penyelundupan. Reporter Yosta, melaporkan: “…. (dst).
Dari Jakarta, penyiar Uci mengajak penonton ke Aceh, Medan, Palembang, Jayapura, Ambon, Kupang, Yogya, Surabaya, Balikpapan, Banjarmasin, Pontianak, Semarang, yang kesemuanya merupakan peristiwa hari itu, dan disajikan kalau tidak dengan sistem “ROSS” juga dengan ‘voice over’. Pada ‘item’ terakhir, tim redaksi menyajikan sebuah berita ringan dari Pacitan, Jawa Timur, yang disajikan langsung oleh reporter TVRI Surabaya, langsung dari Surabaya.
BESAR. Memang, dana yang disediakan untuk itu termasuk besar. Untuk ikut serta dalam ASEAN VISION, setahunnya diperlukan 1 milyar rupiah. Jumlah yang wah! Tapi, ini misalnya saja, dana itu untuk membuat Indonesia Vision pastilah kita lebih mengenal daerah-daerah di Indonesia dan lebih menyayangi. Besar, memang.
Tapi tidak juga, jika seluruh pemilik pesawat TV membayar iurannya dnegan rajin, dan Perumtel memberikan satu transponder dan sarannya. Mungkin hanya mimpi, karena dalma Impian segalanya bisa terjadi, selama kita lelap.
Dok. Monitor – No. 140/III/minggu ke-1 Juli 1989/5-11 Juli 1989, dengan sedikit perubahan
.jpg)
.jpg)


Komentar
Posting Komentar