IBARAT BAYI, TVRI BANDUNG BELUM BERANI "NIMBRUNG"

PERTAMA. Antena pemancar yang menyiarkan acara pertama TVRI Stasiun Bandung 

BERDIRI. Ibarat seorang bayi, seharusnya TVRI Bandung, yang (kala itu) telah beroperasi selama setahun, sudah bisa mengangkat seluruh tubuhnya sampai posisi berdiri. Lantas, sudah bisa pula memperhatikan keadaan sekelilingnya. Sambil sekali dua, ikut “nimbrung” menyela pembicaraan orang di sekelilingnya.

Tapi, lantaran bukan seorang bayi, ya semestinya dalam usia setahun sejak diresmikan operasinya oleh Menpen Harmoko, ianya sudah bisa berjalan dan mengejar stasiun-stasiun lain. Semestinya. Tapi kenyataannya demikian, TVRI Bandung, (waktu itu) masih merangkak-rangkak. Bisa juga dikatakan (waktu itu) masih mencari-cari momen buat berdiri.

Siaran-siaran yang dipancarkannya – kecuali siaran anak-anak, bina seni budaya daerah – terutama Siaran Berita Daerah-nya masih teramat kaku (waktu itu). Selain itu, ya tampaknya (waktu itu) belum memiliki jadwal siaran berupa acara yang baku. Siaran Berita Daerah yang dipancarkannya pada pukul 17.00 WIB, (kala itu) baru sebagian saja yang (ketika itu) sudah bisa menggunakan ilustrasi berupa gambar yang hidup.

Selebihnya (waktu itu) masih menggunakan gambar-gambar mati, seperti layaknya surat kabar dan majalah. Gambar-gambar hidup itu pun, sebagian, tampaknya (waktu itu masih dipasok oleh humas pemda Jawa Barat. Kecuali untuk peristiwa-peristiwa yang terjadi di Bandung Raya, kepala biro humas/juru bicara pemda Jabar, H.S.A. Jusacc, merasa hal semacam itu perlu dimaklumi. Katanya, TVRI Bandung (waktu itu) masih mengalami berbagai kendala penyiaran.

Terutama, karena keterbatasan-keterbatasan yang dihadapinya. Termasuk keterbatasan laboratorium yang bisa memproses film-film yang dipergunakan untuk meliput acara-acara di berbagai daerah tingkat II kabupaten atau kotamadya. Selain itu, sebagian peralatan studio pada stasiun ini, (waktu itu) masih terus menerus dirampungkan secara bertahap.

Ia memang punya harapan, nantinya, setidaknya TVRI Bandung bisa menyusul prestasi yang bisa dijangkau TVRI Surabaya dan Yogyakarta. Karena itu, pola yang dipergunakan di Surabaya, misalnya, dijadikan tolok ukur untuk memproses pola kebijaksanaan siaran. Apalagi ada tim pemda yang diikutkan untuk ikut merumuskan kebijaksanaan baku pola penyiaran. Dalam tim ini, duduk pula berbagai ahli, termasuk dari kalangan perguruan tinggi semacam ITB.

BERANI. Sekalipun begitu, TVRI Bandung bukannya tidak memiliki keberanian untuk berbuat, lalu berdiri seperti stasiun lainnya. Melalui pendkeatan yang dilakukannya bersama-sama pemda Jabar, terutama pada kalangan seniman Jawa Barat, (belakangan itu) sudah bisa dipancarkan secara berkala, programa berupa acara pembinaan seni budaya tradisional yang bersifat apresiatif.

Juga sebuah acara semacam Berbalas Pantun, yang mereka sebut Sisindiran. Gaya khas masyarakat Sunda melakukan sindir-sindir bergaya pantun. Selain itu, juga pelajaran bahasa Sunda yang mereka beri nama Kandaga. Mirip sebuah rubrik di sebuah surat kabar lokal. Keberanian begitu, boleh juga diberi dorongan semangat. Apalagi kalau hubungan TVRI Bandung, pemda Jabar, dan seniman-seniman di daerah ini bisa semakin mesra.

Karena setidak-tidaknya, melalui kemesraan itu bisa dilakukan kerjasama. Umpamanya, dengan ASTI (Akademi Seni Tari Indonesia) Bandung, studi teater Bandung-nya Suyatna Anirun, pun dengan seniman-seniman beken macam Bimbo, Harry Roesli, D’Kabayan, Nano S, dan lain-lain. Tentu, juga kerjasama dengan kalangan budayawan dan ilmuwan. Apalagi di Bandung, nongkrong beberapa perguruan tinggi beken: ITB, Unpad, dan lain-lain, selain ahli-ahli komunikasi yang baik juga.

Keberanian TVRI Bandung, memang ditantang jadinya. Terutama, ya itu, buat memproduksi siaran dan programnya yang benar-benar menarik dan memikat. Selain tentu memupuk kreativitas macam yang dilakukan TVRI Yogya dan Surabaya.

Padahal, semangat yang muncul saat peresmian di Soreang cukup memberi harapan. Bagian musik misalnya, bisa menyebut Jakarta bakal tidak ada apa-apanya mengingat Bandung menjadi salah satu gudang artis nyanyi. Beberapa kali pihak TVRI Bandung memang mencoba menghadirkan paket lumayan. Tapi benturan jadwal siaran selalu menjadi persoalan. Bidang lain pun begitu.

Maka, seperti ‘gerundelan’ beberapa penduduk Bandung, TV daerah mereka kadang-kadang cuma bikin acara buka tutup. Maksudnya, dibuka untuk bergabung dengan pusat (TVRI Jakarta-red) sampai acara habis, lantas ditutup. Saat pertama menjabat direktur TVRI, Ishadi SK menyempatkan diri berkumpul dan ngobrol dengan beberapa seniman Bandung, antara Bimbo, Tetty Kadi, dan beberapa lainnya.

SENDIRI. Ishadi sepertinya memberi tantangan: TVRI Bandung sama dengan TV Kanada: “Orang Kanada kalau tidak menyaksikan TV New York, rasanya kurang sreg.” Maka, itulah yang menjadi tantangan agar pihak TVRI Bandung memanfaatkan bahan yang cuku pbanyak, banyak artis yang bisa diajak bekerjasama dan bangga pada TVRI daerahnya.

Tanpa keberanian, barangkali, TVRI Bandung memakan waktu cukup lama buat bisa berdiri. Barangkali, angin segar (waktu itu) akan berhembus dari kebijakan kepala stasiun yang (waktu itu) baru? “Saya baru mempelajari. Yang akan saya lakukan pertama adalah membersihkan gedung yang seperti kandang kerbau ini.”

Pemikiran kedua, mengembangkan jam siaran yang cuma 45 menit menjadi 2,5 jam. Dan Gunawan telah memikirkan upaya penanggulangan dana. Katanya, (waktu itu) akan bekerjasama dengan TVRI Pusat dan pemda setempat. Gunawan telah menyodorkan anggaran 18 juta ke pemda, guna membangun gapura menuju TVRI. Menurutnya, ini penting bagi TVRI sendiri dan pemda.

Dengan adanya pengembangan jam siaran, maka Habib Bari, kepala bagian siaran, harus berupaya pula menyenangkan pemirsa. “Yang penting, harus ada pengembangan budaya setempat,” komentarnya. Selain acara biasa yang bekrembang, pada minggu ke-4 (wkatu itu) akan rutin ditayangkan pergelaran wayang golek. Materi pertamanya adalah rekaman dari HUT yang bermodal 100 ribu – yang belrangsung 19 Maret 1988 (yang saat itu akan) datang.

Ditulis oleh: Syamsuddin Haesy, Dharono Trisawego, Hans Miller Banureah

Dok. Monitor – No. 71/II/minggu ke-2 Maret 1988/9-15 Maret 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer