HARRY MUKTI (PANGGUNG GEMBIRA, TVRI - JUMAT, 29 JULI 1988 Pkl: 21.30 WIB)
HARRY Mukti, (saat itu) 31 tahun, belakangan itu sibuk dengan kamera yang ditenteng ke mana-mana. “Lagi suka, siapa saja saya potret, dan hasilnya saya kasih. Khan bisa menyenangkan hati orang?”
Di acara Panggung Gembira (TVRI) yang rekaman di Cirebon, dia menyanyi 3 kali. Satu berjudul Lupus, lagu yang pernah direkam Panggung, tapi tak disiarkan karena rekaman kaset. Lalu mendueti Nani Sugianto untuk lagu Hati Yang Luka (karya Obbie Messakh-red), dan berduet dengan Bangkit Sanjaya untuk lagu 1-2-3.
Menunggu giliran ke panggung, anak muda (era itu) kelahiran Cimahi ini selalu bikin ulah sendiri. Dia loncat-loncat, atau berteriak. Bahkan belum lama (waktu itu) ia mengaku terkencing-kencing menahan gugup. Harry selalu mengaku sebagai penyanyi kecil, walau lewat Laron-Laron sebetulnya (saat itu) sudah menanjak. Ditambah lagi aksi panggungnya yang atraktif.
Belum lama (waktu itu) Harry diundang menyanyi ke Medan. Untuk pesta sunatan. Semula dia bingung, tapi diterima juga. Honornya? Seuntai kalung 40 gram. “Tak ada duit, tapi saya suka, karena nilai pemberian seperti ini cukup tinggi.”
Lantas, ketika pulang ke Cimahi, maminya melihat kalung itu. Harry menghadiahkannya. Alasannya, pengen berbuat banyak selagi bisa. Tapi, 1988 ini, Harry masih merasa gundah. Usia membuatnya berpikir tentang rumah tangga. Lantas, sembari memperbaiki letak aksesori di tangan, dia bilang, “Saya mau menikah pada usia 35.” Berarti 3 tahun lagi (dari bacaan ini dimuat Monitor, 1991-red). Tapi, dia bilang, (saat itu) masih bingung cari calon.
Ditulis oleh: Hans Miller Banureah
Dok. Monitor – No. 91/II/minggu ke-4 Juli 1988/27 Juli-2 Agustus 1988, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar