GURUH & NINIEK L. KARIM
LAGU, LAGI. Kembalikan Baliku, lagu karya Guruh Sukarno Putra menang di Tokyo. Dan 13 Januari 1988, di rumahnya, ada rame-rame. Ternyata, rame-rame ini bukan untuk mensyukuri kemenangan lagu itu, melainkan si bujang (era itu) ini merayakan hari jadinya ke-35. Karena ulang tahun, ada potongan tumpeng dan nyanyi.
Tak seperti tahun sebelumnya, menjelang tahun naga ini, tanpa kehadiran Dewi Sukarno dan Karina – istri dari putri ayahnya. Yang masih tetap seperti tahun sebelumnya adalah membeirkan potongan tumpeng kepada seseorang yang dianggap dekat dengan hatinya.
Tahun 1987, potongan itu jatuh pada Happy Suryajaya, wanita yang dianggap menyimpan nostalgia cinta pertamanya. 1988? Laksminto Rukmi, (saat itu) 88 tahun, yang disamperin Guruh. Siapa dia? “Ia itu eyang, guru tari saya.”
Potongan tahun 1989 lagi? Kalem jawabnya, “Waktu yang menentukan.” Lain lagi dengan Niniek L. Karim yang sehari kemudian merayakan hari jadinya yang ke-39. Bukan tumpeng yang dipotong, melainkan kue. Ia memotongnya bersama-sama dengan Jen SK. Nama yang belakangan (ketika itu) ini bukan siapa-siapa, kecuali sesama anggota Teater Populer yang juga kebetulan pas berusia (waktu itu) 23. Tentu bukan lagu Swara Mahardhika yang mengalun.
Dan Niniek sempat kaget dibuatnya. Pasalnya, hajatan di studio II TVRI Jakarta (Senayan-red) ini diawali lagu Padamu Negeri (Bagimu Negeri karya Kusbini-red). Teguh Karya yang berulah. Karena dilangsungkan di kawasan televisi – kru TVRI pun banyak ikut menyalaminya. Dan latihan sinetron Pulang arahan Teguh Karya kembali dilanjutkan. “Selamat ulang tahun, kami ucapkan. Selamat panjang….”
Ditulis oleh: Gunawan Wibisono
Dok. Monitor – No. 64/II/minggu ke-4 Januari 1988/20-26 Januari 1988, dengan sedikit perubahan




Komentar
Posting Komentar