GOMBLOH DAN LEO KRISTI JUGA PANTAS MENGISI ACARA CINTAKU NEGERIKU (TVRI)

PANTAS. Dengan kesetiaan yang sangat pada lagu-lagu berbau nasionalisme dan patriotisme, Konser Rakyat Leo Kristi, pantas mengisi Cintaku Negeriku. Ya, tapi yang bilang tak pantas siapa?

LEKANG, JUANG. Tidak terlalu sulit untuk menduga acara apa yang (waktu itu) akan ditayangkan pada tanggal 17 setiap bulan, seusai Dunia Dalam Berita. Parade Senja (waktu itu) akan membuka acara rutin itu. Kemudian disusul dengan Cintaku Negeriku yang (waktu itu) akan menyajikan lagu-lagu kepahlawanan dan terkadang diselingi dengan pembacaan puisi yang bertema kepahlawanan juga.

Acara Cintaku Negeriku memang (waktu itu) sudah cukup lama ditampilkan di layar televisi kita (TVRI-red) – kurang lebih sudah berjalan (sampai saat itu) tiga tahun (1985 hingga 1988-red).

Lagu-lagu yang dihadirkan cukup berbobot, dan patut mendapat acungan jempol, karena tema lagu-lagu seperti Bangun Pemudi-Pemuda (karya Alfred Simanjuntak-red), Kepada Temanku Pahlawan, Di Timur Matahari (karya WR Supratman-red), Api Kemerdekaan, Kupinta Lagi (karya Alfred Simanjuntak-red), Tanah Airku (karya Saridjah Niung alias ibu Sud-red), Padamu Bapak Pembangunan (karya Titiek Puspa-red), dan lagu penutup Padamu Negeri (Bagimu Negeri) tetap dapat bertahan, tak lekang karena membanjirnya lagu-lagu pop, dan lapuk karena pengaruh lagu-lagu barat.

Yang menjadi masalah bukan karena lagu-lagu tersebut telah membuktikan tahan bantingan. Tetapi, frekuensi penyiaran lagu-lagu itu sudah menjenuhkan. Jika yang selalu ditayangkan hanya lagu-lagu seperti itu, bukan tidak mungkin justru membawa kebosanan bagi pemirsa.

Dapat saja lagu wajib tetap ditampilkan. Misalnya Maju Tak Gentar (karya Cornel Simanjuntak-red) sebagai lagu pembukaan. Sedangkan lagu penutup seperti biasanya tetap Padamu Negeri (Bagimu Negeri, karya Kusbini-red). Tapi batang tubuh acara itu justru sering memaksa pemirsa untuk beranjak dari tempat duduknya, karena sudah dapat menduga lagu pengisi acara itu, ya, yang itu-itu saja.

Mungkin sebagian besar pemirsa (waktu itu) akan mengeluh, apkaah tidak mungkin untuk menampilkan lagu-lagu lain yang masih berada di bawah payung tema yang sama? Misalnya, digelarkan lagu-lagu ciptaan Leo Kristi seperti Singosari, Anak Negeri, atau lagu-lagu ciptaan almarhum Soedjarwoto Sumarsono (Gombloh), seperti Kebyar-Kebyar, Berita Cuaca, atau mungkin juga lagu-lagu puitis Ebiet G. Ade.

Kita cukup kaya dengan lagu-lagu pujaan dan kepahlawanan. Masalah lagu mungkin hanya masalah pemilihan dan frekuensi penyiarannya. 1988, yang mungkin juga menimbulkan pertanyaan, siapa yang membawakan acara tersebut?

Acara Cintaku Negeriku, hanya dibawakan oleh perguruan tinggi, sederetan mahasiswa (era itu) yang buka tutup mulut, dan berdiri di depan gedung megah yang mereka gunakan untuk menuntut ilmu. Jadi, begitu tampak kepongahan akademinya. Sepertinya tak ada makhluk lain yang pantas memuaj-muji negeri.

Cintaku Negeriku, mestinya, bisa juga diisi oleh kegiatan karang taruna, vokal grup tingkat SMTA, atau mungkin pula kelompok Bina Vokalia secara bergiliran seperti drum band pengisi acara Parade Senja. Atau siapa tahu malah diisi “si poyo kecil”, pedagang koran yang bermimpi untuk dapat pulang ke kampung halamannya, seperti pernah diungkapkan dalam lirik lagu dolanan Ade HL.

Ditulis oleh: Basuki Agus Priyana Putra, (waktu itu) mahasiswa FBPBS – IKIP Malang

Dok. Monitor – No. 94/II/minggu ke-3 Agustus 1988/17-23 Agustus 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer