GITA REMAJA: "JAWABAN DIKOREKSI KARENA PESERTA TAK TAHU" (GITA REMAJA, TVRI PROGRAMA 1 - SENIN, 26 MARET 1990 Pkl: 21.45 WIB)

Gita Remaja yang tak lagi sarat kata “oke” dari peserta bego

TAMPAKNYA (perkiraan waktu itu) penampilan Gita Remaja (TVRI Programa 1) kali ini sedikit seru. Beberapa perbaikan mulai terjadi. Maret 1990, masing-masing peserta – yang ketiga-tiganya (kala itu) pelajar SMTA – membawa suporter. Masing-masing diberi pita peserta yang mereka jagokan. Tampang-tampang penonton pun mulai tergambar di layar kaca. Ternyata, kritikan Monitor mulai diperhatikan oleh pengarah acara Ani Sumadi (waktu itu).

Beberapa pengambilan gambar terpaksa di-‘cut’, gara-gara Tantowi Yahya sebagai pembawa acara terlalu sering bilang, “Oke.” ‘Coba Tantowi diperhatikan, yah! Jangan terlalu sering menyebut oke!,” kata Ani Sumadi menegur. Soal materi acaranya, masih seperti biasa, 90% soal musik, dan sisanya pengetahuan umum. Jalannya acara sendiri mulus. Hanya saja, dari ketiga peserta, ada seorang yang tak pernah menjawab sekalipun. Sepertinya ia cuma jual tampang.

Tahap pertama bisa dilampaui dengan baik. Dari 6 lagu, 1 yang dijawab salah. Begitu pula pada tahap kedua, walau masih ada yang salah, wajar-wajar saja. Yang menarik adalah babak ketiga, Gita Kenangan.

Diperdengarkan ‘tune’ pembuka acara dalam RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia), yang ditebak benar oleh salah satu peserta. Namun disalahkan oleh Tantowi, lantaran jawaban itu tak ada dalam catatannya. Untungnya, Ani Sumadi cepat-cepat meralat. Meskipun begitu, peserta lain sempat protes. Pasalnya, peserta itu berasal dari Bandung, yang tentu saja (waktu itu) tak pernah tahu acara RCTI.

Soal tebakan yang satu ini, entah disengaja oleh Ani Sumadi sebagai kritikan terhadap RCTI yang (waktu itu) punya siaran terbatas (hanya Jakarta saja-red) atau memang kealpaannya. Kelihatannya, alternatif pertama yang tepat. Soalnya, Ani Sumadi (waktu itu) tetap akan memperlihatkan peristiwa ini, yang rencananya (kala itu) tak akan diedit.

Kemudian soal itu diganti dengan ‘tune’ radio BBC. Hebatnya, peserta bisa menjawab. Tak ketinggalan ‘tune’ RRI dalam acara Varia Nusantara. Ini pun kejawab dengan tepat.

Masuk pada babak ketiga, Gita Visi, yang menguji masalah pengetahuan umum. Dan pada babak ini biasanya kritikan datang bertubi-tubi pada GR sebelumnya. 4 pertanyaan, 2 masalah musik, dan 2 masalah umum. Pada saat ditanya siapa bapak pramuka sedunia, dijawab Robert Badan Powell. Sebenarnya, kalau saja peserta itu menjawab Baden Powel tok, sudah betul. Tapi sayang, ia tambahi embel-embel Robert. Padahal, yang tepat Lord Baden Powel.

Kemudian, yang mengundang tertawaan, ketika pertanyaan di mana makam bung Karno (Presiden Sukarno-red). Dijawab di kota Bilyar. Untungnya, peserta cepat meralat, Blitar. Rupanya, ia keseleo lidah. Kalau dilihat secara keseluruhan, acara ini cukup bagus. Pesertanya pun tak mengecewakan. Mungkin sudah mulai lebih selektif (waktu itu) dalam mencari peserta.






























Seperti halnya Joseph, salah satu peserta dari SMA 68 Jakarta. “Sebelum acara GR ini saya banyak baca-baca mengenai pengetahuan umum. Soalnya kalau nggak bisa jawab, nanti banyak yang ngeritik. Kalau mengenai musik sih, memang sudah sering dengar. Makanan sehari-hari,” katanya.

Lain lagi Andreana, peserta yang tak pernah menjawab soal satu pun, berasal dari SMA 45. “Saya tertarik ikut, sebab, dalam GR kita bisa mengembangkan bakat. Seperti saya dalam hal menyanyi. Soalnya, konon kalau mau tampil menyanyi dalam acara lain, sebagai pendatang baru, kita harus bayar,” ungkapnya.

Peserta yang satu lagi berasal dari Bandung, Noviana namanya, (waktu itu) pelajar SMA Taman Siswa Bandung. “Acara GR cukup menarik, apalagi sekarang (1990-red) pengetahuan umumnya bisa kejawab. Jadinya agak lega,” ujarnya (waktu itu).

Rupanya, masalah pengetahuan ini jadi momok yang menakutkan bagi mereka. Bisa serba salah. Masalahnya, gampang saja: mereka takut dianggap mewakili remaja-remaja (era itu) di seluruh Nusantara. Lebih-lebih kalau tak bisa menjawab, bisa dibilang remaja 1990 bego-bego.

Ditulis oleh: Wawan Tunggul Alam

Dok. Monitor – No. 195/IV/Minggu, 25 Maret 1990, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer