GILBERTO ROMAN PUNYA PUKULAN AMPUH, TOH, JUAN SARAZO TIDAK LUMPUH (ARENA DAN JUARA, TVRI PROGRAMA 1 - KAMIS, 14 SEPTEMBER 1989 Pkl: 22.35 WIB)
TVRI kembali menayangkan salah satu paket tinju kelas super
terbang versi WBC antara juara bertahan Gilberto Roman melawan penantangnya
Juan Sarazo yang menempati penantang pertama. Di kelas bantam junior versi IBF,
Juan Sarazo merupakan penantang nomor sepuluh – tempat Elly Pical jadi
juaranya.
Pertandingannya antara Gilberto Roman lawan Juan Sarazo sudah berlangsung 5 Juni 1989 di Amerika Serikat. Pertandingannya berlangsung 12 ronde. Gilberto, asal Meksiko, merebut gelar juara super terbang WBC setelah bertarung melawan jagoan dari Kolombia, Sugar Baby Rojas, 8 April 1987.
Penampilannya saat itu begitu memukau dan mengundang decak kagum karena Roman mampu mempertontonkan teknik bertinjunya yang cukup lumayan. Senjata andalannya: jab kiri yang menyengat, ‘hook’, dan ‘upper cut’-nya cukup ampuh. Di samping itu, masih didukung dengan semangatnya dan kelincahan kakinya. Tak heran kalau sampai bacaan ini dimuat Monitor (1989-red) Gilberto masih betah bertahan di tangga juara.
Untunglah Rojas juga tahan pukul, selain liat. Kalau tidak, sudah pada ronde-ronde awal ia jatuh menggelosor. Dalam perebutan kelas terbang itu, Gilberto Roman hanya dinyatakan menang angka. Sialnya, setelah pertarungan itu Gilberto Roman terpaksa harus kena denda dari Komisi Tinju Dunia (WBC) sebesar 25 juta rupiah. Pasalnya, dalam pretarungan itu Roman kedapatan memakai mariyuana. Itu terbukti sertelah dites air seninya.
Masyarakat Meksiko yang begitu mengelu-elukan Gilberto Roman menjadi terpukul dengan ulahnya. Masih untung Komisi Tinju Dunia tidak mencabut gelarnya. Melihat situasi itu Gilberto Roman dengan berbesar hati minta maaf kepada presiden direktur WBC, Jose Sulaiman, dan kepada pecandu tinju di Meksiko. “Saya berjanji akan kembali ke jalan yang benar dan tidak akan mengisap obat bius lagi. Saya tidak akan mengecewakan penggemar saya lagi,” ujar Roman.
Nasib serupa pernah dialami Roberto Duran yang terlibat kokain, selain Aaron Pyror yang terlibat narkotika. Yang (waktu itu) masih untung adalah Roberto Duran yang masih bisa ‘comeback’, sedang Aaron Pyror yang mantan “raja” kelas welter yunior terpakas namanya semakin “tenggelam”.
Kayaknya, Gilberto Roman sungguh menyadari kesalahannya. Nyatanya, ketika mempertahankan gelarnya yang pertama melawan petinju Jepang, Yoshiyuki Uchida, Juli 1988, dia mampu tampil prima. Ini tentu dikarenakan Roman sudah menjauhi obat bius, selain dia betul-betul mempersiapkan semuanya dengan sungguh-sungguh.
Dalam pertarungan itu, jabnya yang keras mampu membuat Uchida kealahan dan dua kali ‘upper cut’-nya mampu membuat Uchida terhenyak di lantai kanvas. Terpaksa wasit Richard Steele menghentikan pertarungan pada ronde kelima, menit ke-39. Sejak bertarung lawan Uchida, berarti Gilberto Roman (sampai saat itu) sudah mengantongi rekor 49 kali menang, 4 kali kalah, dan sekali seri. Dalam Arena dan Juara, Gilberto Roman kembali dijajal Juan Sarazo yang tak kalah liatnya.
Apakah pertarungan ini menarik? Tentu kendati tak semenarik partai yang (waktu itu) akan digelar antara Sugar Ray Leonard lawan Roberto Duran. (Waktu itu) akan lebih menarik lagi kalau Gilberto Roman dipertemukan dengan jawara-jawara dari lain versi, misalnya lawan Elly Pical dari IBF atau yang lebih dahysat lagi. Misalnya jago dari Thailand yang sampai saat itu belum ada lawannya: Kaosai Galaxy. Yang jelas, kubu Elly Pical bisa mengkaji dan mempelajari pertarungan ini.
Siapa tahu, setelah Elly Pical bisa mempertahankan lawan petinju kolombia, Juan Polo Perez (penantang nomor lima di kelasnya Gilberto Roman) lantas (waktu itu) akan dipertemukan lawan Gilberto Roman. Dalam tinju, segi bisnis lebih dominan. Segalanya bisa diatur oleh promotor.
Ditulis oleh: Idi Pranoto
Dok. Monitor – No. 150/III/minggu ke-3 September 1989/13-19 September 1989, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar