ETTY BUSTAMI

 
PENYIAR RRI. Etty Diah Sulistiawati, biasa dipanggil Etty, kelahiran Tanjung Balai Karimun,  16 Mei 1959, mengaku menjadi penyiar RRI secara kebetulan. Sekitar tahun 1983 iseng-iseng ia main ke RRI dan ketemu Sazli Rais, ngobrol ngalor ngidul dan tiba-tiba Sazli Rais bilang, “Anda bisa jadi penyiar.” Etty belum tahu maksudnya, soalnya yang diobrolkan dengan Sazli Rais itu tak ada sangkut pautnya dengan dunia penyiaran.

Setelah dijelaskan, Etty baru tahu kalau dirinya punya materi suara yang cocok untuk menjadi penyiar. “Saat itu juga saya ditawari menjadi penyiar dan disuruh ikut tes. Saya tanya kapan, dijawab lusa. Wah, saya kaget banget, nggak ngira sama sekali, soalnya saya khan cuma main. Lagipula saat itu saya sudah kerja di swasta. Saya pikir coba-coba apa salahnya.”

Ada cerita menarik saat ia sudah menjadi penyiar. Ketika itu Etty berlansung ke tempat eyangnya di Malang, Jawa Timur. Dan eyangnya tanya sam Etty kerja di mana, setelah Etty menceritakannya, eyangnya kelihatan terkejut. Lantas, eyangnya cerita kalau mendiang ibu Etty ketika masih muda pengen sekali jadi penyiar, tapi tidak kesampaian. 1989, justru menitis pada anaknya.

Di samping sebagai penyiar ‘continuity’, ia juga sebagai penyiar berita. Suaranya (waktu itu) bisa didengar lewat acara Aneka Informasi, Musik Pelepas Lelah, dan Selamat Pagi Jakarta. Acara terakhir ini menurut Etty yang paling menarik.

“Soalnya dalam Selamat Pagi Jakarta kita bisa berkomunikasi langsung dengan pendengar, jadi dampaknya langsung bisa kita rasakan,” ujar anak pertama 7 bersaudara putri pasangan R.H. Bustami Adinoto dan Mutai Bustami. Pandangannya tentang profesinya ini, Etty bilang, “Sangat menyenangkan dan tidak saya temukan di tempat lain.”

Ditulis oleh: Idi Pranoto

Dok. Monitor – No. 150/III/minggu ke-3 September 1989/13-19 September 1989, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer