EDWIN RONDONUWU: "TERPILIH" (SUMPAH PRESIDEN TERPILIH, TVRI – JUMAT, 11 MARET 1988)
DRS. Edwin Nicolaas Rondonuwu, (umur waktu itu) 36 tahun 5 bulan, untuk kedua kalinya ditunjuk menyampaikan laporan pandangan mata pengambilan acara Sumpah Presiden Terpilih. Yang pertama tahun 1983. “Deg-degan juga saya. Tugasnya sih ringan, tapi tanggung jawabnya yang besar,” ujarnya diiringi senyum.
Rinciannya, staf sub-direktorat pemberitaan TVRI Jakarta ini berujar, “Salah sedikit saja, fatal akibatnya. Tapi kalau laporannya bagus, orang-orang nggak begitu mempedulikan.” Memang kerap begitu. Tapi, apa perlu mengeluh? (Meninggalkan pacar, di hal. 6 Monitor – No. 71/Tahun II/minggu ke-2 Maret 1988/9-15 Maret 1988).
KARENA INGIN JADI REPORTER, EDWIN RONDONUWU “CABUT” DARI TRAVEL
MANADO, MANILA. Kalau Edwin, kelahiran Manado, 25 Oktober 1951, putra kedua dengan tiga saudara keluarga P.S.A. Rondonuwu dan Ariantje Mandagie, dulunya (jauh sebelum 80an-red) punya keinginan jadi penyiar atau reporter, 1988, bisa dibilang terwujud. Kalau Edwin dikatakan reporter segala bidang, setidaknya ada benarnya.
Di samping menyampaikan laporan peringatan-peringatan hari bersejarah, menjadi reporter olahraga – macam Thomas Cup 1982 di London dan SEA Games 1983 di Singapura – adalah sebagian dari pengalamannya. Semua itu berangkat dari karirnya yang dimulai di TVRI Manado tahun 1978 – setelah ia meninggalkan usaha biro ‘travel’-nya yang sudah dijalani selama 4 tahun. “Saya tidak dapat menahan lagi rasa tertarik saya dengan dunia reportase.”
Beruntunglah Edwin. Dari sekitar 100 orang pelamar, 2 yang diterima – salah satunya Edwin. Bersyukurlah Edwin, yang kemudian mendapat kesempatan mengikuti pendidikan reportase olahraga (1981). Di tahun itu juga, ia pun turut dalam pendidikan wartawan bidang hankam/ABRI.
Masih ada dua pendidikan lagi yang ia ikuti sebelum pindah ke Jakarta: pendidikan wartawan bidang hukum (1982) dan pendidikan teknik reportase angkatan ke-2 (1983). Tentang kepindahannya ke Jakarta, Edwin mengatakan, tak lepas berkat dorongan Drs. Ishadi SK (direktur TVRI sejak 1987 akhir, sebelumnya kepala TVRI Stasiun Yogyakarta tahun 1985 hingga 1987 dan kepala bagian pemberitaan TVRI tahun 1982 hingga 1985-red).
Tahun 1985, setahun setelah ia di tempat yang (waktu itu) baru, sarjana ilmu sosial politik Universitas Sam Ratulangi, Manado, ini dikirim ikut pendidikan produser TV pada ‘Asia Pacific Institute for Broadcasting Development’ (AIBD) di Manila.
Laki-laki bertinggi-berat (waktu itu) 170-70, yang gemar membaca dan menyantap mie bakso ini hanya mengatkaan bangga lantaran (sampai saat itu) sudah dua kali ditugaskan melaporkan jalannya pengambilan Sumpah Presiden. “Tak mudah untuk mendapat tuga sseperti itu. Minimal ada kriterianya.”
RADIO, RASIO. Menurut Edwin, persiapan jelas diperlukan. Sebagai salah satu contoh, ia sejak jauh hari telah mengumpulkan bahan-bahan untuk laporan. “Sebab, cara kita melaporkannya tidak seperti penyiar radio. Ada momen-momen tertentu yang perlu dikomentari dan tidak.” Katanya lebih lanjut, “Masuk-masuknya juga harus tepat. Misalnya saja, jangan sampai pas bapak presiden (Suharto-red) memberikan sambutannya, suara kita menumpangi.”
Edwin memang boleh bangga dengan tugas dan keluarganya. Soalnya yang belakangan (ketika itu) ini, keluarga Edwin bisa menjadi gambarna keluarga yang ideal.
Istrinya, Ir. Meidy Mamengko, yang ia nikahi tahun 1979 dan telah membeirnya 2 putra – Vidy, (saat itu) 7 tahun, dan Lovy, (waktu itu) 1 tahun – mengerti benar akan profesi sang suami (ketika tiu). Barangkali karena mereka berdua berlatar belakang pendidikan tinggi, maka seperti yang dituturkan Edwin, setiap persoalan mereka pecahkan dengan rasio, bukan dengan emosi lebih dulu. “Bias dibilang kami punya sikap dewasalah.”
Maka, Edwin tak pernah memiliki rasa curiga atau apalah terhadap istri yang bekerja di Departemen Pekerjaan Umum. Begitu pun sebaliknya, meski ia sesekali dinas ke luar kota. Kisah pertemuan pertama dengan sang istri, Edwin mengaku lebih banyak kebetulannya. Ceritanya, Edwin yang kala itu masih dinas di TVRI Manado mendapat tugas untuk meliput pembuatan sebuah jembatan. Yang menjadi pimpinan proyeknya adalah insinyur Meidy.
Singkat kata, setelah Edwin mewawancarai sang pimpro, ia pun tertarik. “Padahal, saya sudah punya pacar. Tapi, yang namanya jodoh terkadang datangnya nggak ketahuan.” Hanya waktu sebulan ia memerluakn pendekatan dan pendalaman, sebelum akhirnya memutuskan untuk ke pelaminan.
“Saya sebenarnya pemalu. Berhubung ada kesempatan, ya jadi berani,” cetusnya sambil tertawa lebar. Bagi Edwin, disiplin merupakan hal penting. Aturan-aturan yang ia tetapkan di dalam rumah tangganya, bukan ia maksudkan untuk mengikat kebebasan kedua anaknya. “Karena dulu (jauh sebelum 80an-red) saya tidak mendapat hal semacam itu, maka saya bermaksud supaya anak-anak tidak mengulangi pengalaman saya.”
Berkat seringnya ia bertemu dengan tokoh-tokoh yang berhasil, Edwin mengaku selalu meminta pendapat tentang pendidikan anak. “Kebanyakan mereka mengatakan agar anak-anak diperkenalkan dengan komputer sejak sedini mungkin.” Jadi, jika di rumah ia menyediakan seperangkat komputer, tidak lain agar anak-anaknya bisa seperti tokoh-tokoh yang ia wawancarai.
Ditulis oleh: Tavip Riyanto
Dok. Monitor – No. 71/II/minggu ke-2 Maret 1988/9-15 Maret 1988, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar