DYNASTY (TVRI) SUDAH MATI, SIAPA MENGGANTI?

 
‘SOAP OPERA’. Penonton suka melambungkan, tapi juga dengan enteng bisa membanting secara kejam. Tiga tahun sebelumnya (1985-red), Bill Cosby masih menggu nasib apakah serinya bakal dibuat atau tidak. Aktor muda (era itu), Michael J. Fox menugngu nasib dengan Family Ties (di Indonesia kemudian diputar RCTI/SCTV-red). Saat itu yang merajalela dalam 10 besar adalah seri jenis ‘soap opera’. Tentu saja yang paling ‘top’ adalah Dallas (di Indonesia diputar RCTI/SCTV-red).

Sementara Dynasty (di Indonesia diputar TVRI-red) di urutan ketiga, dan Falcon Crest di urutan ketujuh. Sedangkan Knot Landing yang (sampai bacaan ini dimuat Monitor-red) belum diputar di sini (kemudian diputar di Indonesia oleh RCTI-red), merangkak dari urutan ke-11, masuk ke-10 besar.

 

KNOTS LANDING. Constance McCashin dan William Devans meninggalkan urutan 11 ke urutan 10 

Tapi, Januari 1988, susunannya sudah jauh berubah. Dynasty tinggal menunggu nasib, karena masuk dalam daftar urutan nomor 62! Ini berarti (waktu itu) bakal lewat, menyusul The Colby, yang tadinya diangkat dari seri yang sama. Falcon Crest, seperti yang tadinya diunggulkan, di urutan bawah dalam 25 besar. Kalau melorot lagi, (waktu itu) bakal amblas. Alias tak diudarakan lagi. Karena di bawah urutan 25, iklannya jadi murah.

 

FALCON CREST. Tinggal nama Jane Wyman yang (waktu itu) dipertaruhkan. Dalam gambar tampak Cesar Romero, Jane Wyman, dan Margareth Ladd 

Inilah kekuasaan penonton. Memang beda dengan di sini, yang main atau tidaknya lebih tergantung TVRI mau meneruskan pesanan atau tidak. Apa sebab hilang dari peredaran dan diemohi penonton? Dallas masih beruntung, meskipun Victoria Prncipal yang berperan sebagai Pam, ngabur soal biaya. Daya tarik film ini pada intrik. Dan cewek yang cantik bukan hanay Principal, karena (waktu itu) sudah dipejeng kekasih-kekasih J.R.

Falcon Crest bertahan selama Jane Wyman yang bekas istrinya Reagan (waktu itu) masih menjadi sumber pembicaraan. Kritik lain, tokoh-tokoh terlalu baik hati. Dynasty jelas (waktu itu) mulai ngacak ceritanya, dan daya tariknya tinggal pada ulah Joan Collins, di dalam maupun di luar kamera.

“Tapi ia sudah tua, tua sekali…,” itu keluhan penonton (kala itu) pada umumnya. Bahagialah penonton Amerika yang suaranya bisa menentukan kelanjutan acara. Bahagialah pengisi acara TVRI yang tak tergantung itu. Jadinya, tergantung apa?

Ditulis oleh: Arswendo Atmowiloto

TIGA ‘SUPERSTAR’ BERKOMENTAR TENTANG DYNASTY YANG BAKAL BUBAR. “TAK PERLU AIR MATA ITU….”

 

LINDA EVANS (waktu itu) tak bakal meratap-ratap, malah mungkin sedikit berharap 

ANGIN-ANGINAN, OGAH-OGAHAN. Dynasty (waktu itu) bakal bubar. Bukan hal yang tak masuk akal. Beberapa indikasi sudah menunjukannya. Selain urutannya sudah kian merosot, pemirsa pun (waktu itu) sudah mulai angin-anginan melihat beberapa pemain yang justru dipasang sebagai penglaris.

Beberapa bintang – yang juga dianggap sebagai ‘votegetter’, satu hal yang wajar untuk tata aturan yang mengatur ‘star-system’, juga mulai berani bilang bahwa mereka pun (waktu itu) sudah ogah-ogahan dengan serialnya. Saat itu, di Amerika Serikat, untuk bintang cewek, yang ‘superstar’, yang paling bisa diharapkan (waktu itu) tinggal nama-nama Joan Collins, Linda Evans, dan Diahann Carroll. Seperti kita tahu, Joan memerankan sosok Alexis Carrington dan Linda Evans sebagai Krystle Carrington, sementara Diahann Carroll bermain sebagai seorang niagawati yang licik, Dominique Deveraux.

Memang, nama terakhir ini perlu menungu waktu yang cukup lama untuk juga tampil di TVRI. Maklum, ia dilibatkan dalam Dynasty baru tahun 1984, sementara serial ini sudah dimulai sejak 1981. Tiga bintang inilah yang kemudian berkomentar, jika Dynasty kemudian benar-benar harus bubar.

 

JOAN COLLINS DAN DIAHANN. Yang satu merasa senang, satunya bisa saja malah berang 

LINDA EVANS. “Dynasty bubar? Biarin aja,” komentarnya tenang. Bahkan ia bersyukur jika ia tak lagi dipakai untuk serial ini. Pasalnya, peranannya sebagai istri Blake yang tak kunjung bisa bunting justru merepotkannya. “Sudah lama aku ingin menimang bayi, darah dagingku sendiri. Jelas itu tak mungkin karena porsiku sebagai Krystle tak menghendaki aku hamil.”

Tentu, tak cuma itu musababnya. Perkawinanya dengan sutradara John Derek – yang (belakangan itu) jadi suami si seksi BO – juga dengan multijutawan Stan Herman, semuanya berakhir dengan kegagalan. Demikian juga dengan sejumlah ‘affair’-nya, semuanya kandas. “Sebagai bagian dari diri Blake, Krystle tak bisa dibedakan dengan pelacur,” ungkap Linda (saat itu) 44 tahun. Tentu, istilah yang ia pakai terlampau kasar.

Ia kemudian merinci waktunya untuk Dynasty. Enam hari untuk syuting. Sehari, Minggu yang mestinya untuk istirahat, ia pakai untuk mempelajari skrip Dynasty episode (yang waktu itu akan) datang. “Waktuku tersita. Padahal, Dynasty hanya dunia fantasi. Aku harus secepatnya meninggalkan dunia angan-angan ini agar rohaniku kembali segar dan waras.”

 

Dan akhir tahun 1987, Linda menanggalkan pakaian mewahnya, intan-intannya yang mahal, dan tempel-tempelan riasan di wajahnya. Ia terbang ke Austrlaia: bercelana jeans, tanpa ‘make up’, dan jadi seorang janda yang kesepian. Ya, ia sedang syuting film The Last Frontier (waktu itu). “Tak perlu air mata untuk Dynasty.”

JOAN COLLINS. Si licik dan sadis ini punya komentar senada dengan Linda. Semenjak kasus perceraian dan pengadilannya dengan (eks) suaminya, Peter Holm, Joan Collins, (saat itu) 54 tahun, jadi gampang gundah. Pernah, dalam sebuah adegan untuk Dynasty, secara mendadak ia mengucurkan air mata. Dan dengan sengit, di antara isak tangisnya, ia megnucap, “Kenapa aku selalu mendapatkan orang yang salah? Kenapa?”

Dalam Dynasty, sebagai Alexis, ia bisa menjelam sebagai seorang yang kering air mata. Dalam kenyataan kesehariannya, ia banyak dilanda kegagalan perkawinan. Empat kali menikah (sampai saat itu), selalu diakhiri dengan perceraian.

Suami pertama, aktor Maxwell Reed, justru pernah menawarkan Joan yang dikawini saat berusia 19 tahun pada seorang syeikh – dengan imbalan, tentunya. “Aku menderita batin yang berat,” ungkapnya, masih soal Dynasty (yang waktu itu) mutakhir. Mendengar omongannya ini, ucapan-ucapannya yang bernada sombong tentang betap dirinya dibutuhkan sebagai penglaris Dynasty jadi terasa tak lagi berarti.

“Orang lain banyak yang iri terhadapku, terhadap kesuksesanku menumpuk uang, terhadap keberhasilanku mendapatkan yang kuinginkan dari pasanganku. Mereka tak tahu aku sesungguhnya. Aku tak bahagia dengan uang yang kuperoleh.” Karenanya, dengan menghilangnya Dynasty nantinya, atau setidaknya perannya ada yang mengganti, ia malah (waktu itu) bakal bisa melupakan kegagalannya.

DIAHANN CARROLL. Cuma Diahann Carroll, (waktu itu) 52 tahun, yang berkomentar berbeda. Kalau benar serial keluarga kapital ini diamblaskan dari tayangan, ia justru akan menangis setengah mati. Maklum, ia (waktu itu) sedang berdiri di posisi puncak. Maklum pula, sarjana psikologi anak-anak ini dari awalnya memang bercita-cita menjadi bintang film, setelah sebelumnya sukses sebagai penyanyi.

Diahann, kelahiran Bronx, New York, secara kebetulan jumpa dengan Aaron Spelling, produser, dalam sebuah pesta. Dalam pesta inilah, Aaron kemudian mengajak Diahann ikutan serial Dynasty. “Karakter Dominique mempesonakanku. Mempesonakan sebagaimana Vic. Vic, selain mempesonakan, juga sangat penting bagiku.”

Vic – lengkapnya Vic Damone, penyanyi – adalah suaminya yang keempat. Suami pertamanya, fotografer Robert Deleon, tewas dalam tabrakan mobil. Dua suaminya kemudian juga tewas dalam sebuah kecelakaan.

Diahann – yang sudah pernah main dalam The Diahann Carroll Show, Julia, dan musikal House of Flowers – pernah pula pacaran dengan aktor-sutradara Sidney Poiter, peraih Oscar pertama untuk negro. Sayang, semuanya mandeg di tengah jalan. Sebab, Sidney lebih memilih kembali lagi ke istrinya.

Selain tetap main film dan menyanyi, sehari-hari ia (waktu itu) banyak disibukkan untuk menolong anak-anak muda (era itu) dan remaja (era itu). “Konseling untuk problem mereka,” jelasnya.

Ditulis oleh: Veven Sp Wardhana

Dok. Monitor – No. 62/I/minggu ke-2 Januari 1988/6-12 Januari 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer