DUA ABANG BERADIK YANG KEHILANGAN KASIH SAYANG ITU OGAH MUDIK (SEPEKAN SINETRON, DUA ABANG BERADIK/TVRI - SABTU, 27 AGUSTUS 1988 Pkl: 22.40 WIB)

 REMANG. Almarhum Tiar Muslim mengenakan jaket (tengah) memberikan pengarahan akting pada pemain. Sinetron Abang ini memberikan berbagai kemungkinan, termasuk dalam soal tata lampu yang remang-remang. Dan hasilnya memang jempolan

KETIKA sinetron Pulang ditayangkan, masih banyak pemirsa bertanya tentang keterlibatan sutradara Teguh Karya terhadap TVRI. Apakah sinetron tersebut merupakan langkah awal yang ia lakukan? Pertanyaan itu sungguh menggelitik. Sebab, kita memang lebih mengenal Teguh sebagai orang film. Tetapi jauh sebelum Pulang, yang digarap bersama Dedi Setiadi, Teguh cukup karatan berkubang salam media televisi.

Banyak lakon yang dicuatkan – sebagian besar karya-karya prima. Sembilan tahun sebelumnya – ini pun kalau pemirsa ingat – pas tutup tahun 1979, cerita Teguh yang berjudul Dua Abang Beradik disiarkan. Dibesut pengarah acara almarhum Tiar Muslim, serta para pendukung laku dari Sanggar Bahtera.

Penyiaran Abang pada waktu itu justru merupakan pendobrakan kemapanan. Dalam arti, sajian media elektronik kala itu – khususnya sinetron – terasa amat sangat monoton. Terutama dalam soal tema yang permaslahannya hanya seputar cinta atau terkadang mengenai kehidupan ruamh tangga.

Abang memberikan warna tersendiri. Meski pada sinetron ini masalah yang diketengahkan tetap juga soal kehidupan rumah, namun dari sisi penggarapan terasa punya jotosan. Kata lain, kalau selama itu sinetron digarap cuma menyentuh permukaannya belaka (gambaran orang papa) dan terlalu angkal, maka Abang ini memiliki suatu fenomena. Abang tidaklah miskin dalam ide atau wawasan kondisi yang melarat. Ia menawarkan gagasan yang luas. Teristimewa potret kehidupan orang Batak.

1988, Abang diputar kembali. Dan jarak waktu yang panjan gitu rupanya tidak terkubur begitu saja. Justru, jika TVRI mau melihat wajah dirinya, pasti merasa risih. Karena dulu (1979-red) sanggup membuat paket seperti itu, tetapi kenapa – dengan fasilitas yang jauh lebih memadai – saat 1988 ini sedikit lahir kisah-kisah yang menggugat?

Banyak hal yang mesti dijawab. Kurangnya penulis naskah kampiun atau tak ada pengarah acara berbobot? Ini juga pertanyaan serius. Tetapi, jika mau menengok ke belakang, kita bisa melihat bagaimana Abang dikemas dalam semangat kesederhanaan?

Peranan almarhum Tiar Muslim tidak dapat disangkal mampu menanamkan kekuatan yang luar biasa. Yakni: semangat. Dengan dekor sederhana, syuting di studio, sinetron ini sangatlah hidup. Lalu, jangan tanya soal akting, kita dibuat terperanjat terhadap pendukung laku dari Sanggar Bahtera itu yang rata-rata memiliki letupan tersendiri.

Mereka tidak sekadar akting, tapi sekaligus menafsirkan sosok-sosok yang ada dalam skenario. Jadi, sinetron merupakan tontonan menarik. Yang menarik lagi, walau sudah usai, tontonan ini tak dapat berlalu begitu saja. Pemirsa tidak bisa menghapuskan sedemikian rupa mengenai perjuangan hidup Tigor dan Bonar, dua orang kakak beradik, yang tumbuh mandiri tanpa sentuhan kasih orangtua.

Kisah sederhana, malah nyaris klise. Tapi – sekali lagi – dikemas secara rapi dan tak kampungan, sehingga jalan ceritanya nggak berlarat-larat. Itulah sosok Tigor-Bonar yang sanggup membaca peta dirinya. Campur tangan orangtua bukan tak berarti, tapi suratan nasib sudah menggariskan.

Ayah sibuk mencari uang. Ibu meninggal dunia saat melahirkan Bonar. Mereka dititipkan kepada famili. Maklum sang ayah tak sanggup mengasuh. Tigor ikut pak tua, dan Bonar diasuh ‘namboru’-nya. Bagaiman peranan ayah sebenarnya? Dialog ayah dengan kedua anaknya macet.

Sedang di balik itu sang ayah biasanya mengharapkan, kalau anak-anaknya diminta jadi “orang”. Mana mungkin terjadi bila tak ada elusan kasih sayang? Sang ayah tidak pernah memercikkan keteduhan, justru melontarkan celoteh belaka. Sebetulnya, Abang ini semacam sindiran sinis bagi kaum muda (era itu). Masalah komunikasi antara orangtua dan anak yang buntu, sengaja digugat. Dialog orangtua dengan kaum muda jelas diperlukan.

Jika tidak, bisa timpang dan sepihak. Lantas maunya cuma menuntut, sedangkan bekal yang ada pada mereka belum mencukupi. Toh, Tigor-Bonar menyadarai. Mereka berdua berusaha lepas dari ketergantungan. Dan semangat macam itu jgau semangat Tiar. Tiar antikemapanan. Almarhum Tiar Muslim ingin selalu menyodorkan warna baru, warna yang tidak berputar pada dunia kecengengan semata.

Abang adalah jawaban. Pantas kita simak kalau 9 tahun sebelumnya (1979-red) ternyata sudah mencuat suatu terobosan. Suatu tontonan yang tegar, yang tidak disetir ke segala arah, dan juga tidak ada seruan model pidato di kaki lima. Skenario Abang yang ditulis Teguh Karya ini memang bagaikan gadis cantik yang terus-menerus asyik untuk dipandang. 1988, hari itu, kita hanya memandang, tanpa bisa lagi membuat terobosan.

Ditulis oleh: Syamsuddin Noer Moenadi  

DUA ABANG BERADIK

Bonar – Enos Purba

Tigor – Semmy Patinasarani

Amang – Asmara Nababan

Istri Tigor – Magdalena Sitorus

Pengarah acara: Tiar Muslim

Skenario: Teguh Karya

Pendukung laku: Sanggar Bahtera

Produksi: TVRI Sta. Pusat Jakarta

Batas usia: 17 tahun ke atas

Dok. Monitor – No. 95/II/minggu ke-4 Agustus 1988/24-30 Agustus 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer