DICKY ZULKARNAEN MERASA TAK PERLU MEMINTA IZIN HOMBING UNTUK MEMENTASKAN KELUARGA BUB ROTO, KARENA YANG DIPENTASKAN NASKAHNYA SENDIRI

KEMBALI. Para pemain Losmen sudah kembali berlatih. Komplit lagi. Apa akan kembali normal seperti dulu (sebelum 1988-red)?

SEGAR, Kamis, 3 Maret 1988 di Studio Latihan, TVRI Jakarta, sepertinya ribut-ribut soal Losmen sirna sudah. Pukul 13.00 WIB, Eeng “Jarot” Saptahadi muncul. Kemudian mbak Pur (Ida Leman), pak Atmo, juga dua bintang tamu untuk episode kali ini, Mark Sungkar, dan bintang tamu lain yang pernah nongol, Usbanda.

Koordinator Studio 17, Paulus, mengatur ‘blocking’. Tak lama, pak Broto nongol dengan Surjan dan ukulelenya. Juga bu Broto (Mieke Wijaya) yang tampak segar dan berseri-seri. Begitu mbak Sri datang, lengkaplah sudah pemain Losmen untuk tayangan tanggal 16 Maret 1988 (yang saat itu akan) datang. Tarjo alias Mathias Muchus memang absen. Ia sudah izin syuting film di luar kota.

Dicky Zulkarnaen, pimpinan rombongan pentas Keluarga Bu Broto ke beberapa daerah, seperti dilansir oleh beberapa media masas, membantah bahwa ia pernah menyebutkan Keluarga Bu Broto pentas beberapa kali. “Bahkan untuk spanduk pun kami memberitahukan panitia setempat untuk tidak menggunakannya.”

Dicky memang menawarkan kepada panitia perihal penggunaan nama Losmen, dengan syarat mereka harus membayar honor hak cipta sebesar 1 juta. “Tapi, jika mereka tidak berani, ya saya tidak gunakan nama tersebut.” Bahwa kemudian nama bu Broto, pak Broto, mbak Pur, Jarot, Tarjo, atau jeng Sri muncul di pentas, kata Dicky, “Itu karena mereka sudah terlanjur dikenal masyarakat.”

LANGGAR. Bicara tentang skenario yang dibuatnya untuk pentas, Dicky malah menganggap hal itu tidak melanggar hak cipta. “Kalau saya diam-diam menggunakan naskah bu Tatiek, itu baru melanggar.” Ia memang tidak minta izin lagi kepada Hombing/Tatiek untuk pentas awal tahun baru 1988. Untuk ini, Dicky merasa Losmen sepenuhnya milik TVRI. “Losmen produksi TVRI. Mereka yang membiayai, memproduksi, dan menayangkannya.”

Sikap itu menjadi lebih jelas lagi setelah ia berkonsultasi dengan subbid drama TVRI Jakarta, Sandy Tyas, “TVRI tidak mempersoalkan pentas kami.” Dicky malah melihat banyak segi positif dari pentas yang ia koordinasi. “Sebuah wadah untuk penyaluran kreativitas para artis, juga usaha untuk menjaga popularitas sekaligus sebagai sarana untuk temu penggemar. Malah dari hasil pertunjukan, kami bisa memberikan santunan kepada mereka yang membutuhkan.”

Mewakili istrinya, Dicky juga mempertanyakan keharusan izin kepada Hombing/Tatiek. “Tidak ada peraturannya. Dari dulu (jauh sebelum 1988-red) istri saya ‘freelance artist’.” Mengakui istrinya sering nombok di Losmen dan memaklumi honor TVRI yang relatif kecil, Dicky melontarkan pertanyaan. “Apa kita tidak bisa memanfaatkan kepopuleran? Ap akita harus terpaku pada Studio 17? Lalu, bagaimana masa dengan kita?"

Senada dengan Dicky, pak Broto dengan tegar juga melontarkan pertanyaan, “Waktu saya jadi Udel untuk pentas, apa saya harus izin kepada penulis naskah atau RRI?” Buat dia, apakah dia harus memerankan si Mamad atau mang Udel atau pak Broto, terserah yang minta. “Dan imaji tokoh ini akan saya perankan secara utuh. Kalau orang lain bilang jelek, itu terserah masing-masing.”

Pak Broto mengakui pentas bersama Dicky lebih bersifat “temu penggemar”. “Pentas sebentar, lalu diseling lagu-lagu. Persis kayak film India deh.” Prinsip pak Broto: “Apa yang saya sukai, saya lakukan.” Ia balik bertanya ketika ditanya kenapa sampai terjadi ribut-ribut seperti ini. “Kami ndak bikin ribut-ribut. Yang bikin konflik itu siapa?”

TAWAR. Nyatanya Hombing dan Dicky sampai saat itu (Maret 1988-red) belum saling bicara. Mengakui Hombing-Tatiek sebagai bekas gurunya, Dicky tidak ingin ribut-ribut. “Kami sudah kenal lama. Keduanya bekas guru saya. Diperlukan jiwa besar, mari kita bicara. Apa salahnya dia telepon saya?”

Dan inilah isyarat dari Wahyu Sihombing. “Jika Dicky datang dengan ‘kulonuwun’, permisi, meminta Losmen manggung di luar TVRI, semuanya akan saya kerjakan. Perkara honor yang diminta oleh Dicky, akan saya kasih.” Hombing merasa, cara potong kompas begini telah merusak kesetiakawanan antar pemain Losmen. “Pemain sudah tidak tunduk kepada saya, mereka sudah tergoda fulus. Lantas bagaimana kerjasama kita jika perasaan sudah dongkol?”

Kunci persoalannya dicoba diamati oleh Sutopo HS alias pak Atmo, satu-satunya pemain tetap Losmen yang (waktu itu) belum pernah “terlibat” pentas bersama Dicky. “Pada dasarnya, Hombing, kalau kita mau pamit dulu, tidak ada masalah.”

Berpegang pada komitmen moral, selain selalu minta izin kepada Hombing atau Tatiek untuk persoalan yang ada hubungannya dengan Losmen – baik untuk pentas atau tawaran iklan – pak Atmo merasa ia tidak bisa melakukan pentas secara improvisasi.

Ditulis oleh: Bujang Praktiko/Rachmat Riyadi

Dok. Monitor – No. 71/II/minggu ke-2 Maret 1988/9-15 Maret 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer