DIAN RANA: "ACARA BARU 1988 DI RABU KELIMA, ADA BEMO DAN CIPLUK YANG BELUM TAHU BENAR MANA AYAH MANA BUNDA" (DIAN RANA, TVRI - RABU, 29 JUNI 1988 Pkl: 19.30 WIB)
CIPLUK, bocah mungil (era itu) yang terlunta-lunta karena
tak diakui orangtuanya, akibat kasus tertukarnya bayi (era itu) di Puskesmas
Cilandak, selama beberapa menit (waktu itu) akan mengunjungi pemirsa TV. Dengan
senyumnya yang manis dan air mata bening, bocah mungil (era itu) itu, (waktu
itu) akan mengusik perasaan dan kemanusiaan.
Melalui acara baru (era itu) Dian Rana (TVRI), yang bisa diterjemahkan sebagai percik cahaya informasi, yang ditayangkan perdana, sisi ‘human’ persoalan Cipluk (waktu itu) akan dihadirkan oleh pengarah acara Herlina, yang memperoleh kepercayaan menggarap produk baru (era itu) pusat pemberitaan ini.
Selain Cipluk, acara ini (waktu itu) juga akan mengetengahkan sedikit hal ihwal bemo sebagai alat transportasi kota yang utama di kota hujan, Bogor. Juga masalah pemeliharaan pesawat dan diklat penerbang di Curug, Serpong. Mata acara baru (kala itu) ini sebenarnya sudah cukup lama direncanakan. Selaras dengan pembaruan dan perubahan yang dilakukan pusat pemberitaan, sejak April 1988 lalu.
Memakan waktu siar selama 30 menit, Dian Rana memang hendak menjangkau sisi ‘human’ berbagai persoalan dan peristiwa yang ada dalam masyarakat.
Karenanya, selain pemilihan materi dan topik sajian, diupayakan dapat menawarkan suatu sentuhan tertentu, aktualitas peristiwa juga ingin dijadikan pedoman. Sehingga bisa melengkapi arus informasi yang selama itu ditayangkan dalam beberapa mata acara lain. Misalnya Siaran Berita, Laporan Pembangunan, Dinamika Pembangunan, Pusat Perhatian, dan Pokok Bahasan, serta Lintasan Peristiwa.
Bentuk yang dipergunakan untuk mata acara baru (era itu) ini, majalah udara. Berisi beberapa ‘features’ pendek, yang dapat diselang-seling dengan ilustrasi musik yang relevan. Termasuk narasi yang lebih mendalam. Namun begitu, tetap muatan informasi tetap dominan. Karena tujuannya memang untuk meningkatkan pelayanan informasi yang lebih pas bagi pemirsa TV.
JANJI, KAJI. Yon Hardoyono, kasi reportase dan pemberitaan yang membawahi acara ini, tak menjanjikan apa-apa. Juga belum mau bicara perihal mata acara ini lebih jauh. “Lihat saja tayangan perdananya nanti.”
Namun, acara yang (waktu itu) akan ditayangkan setiap pekan kelima ini, memang (waktu itu) diharapkan menjadi salah satu produk yang dapat memberi keseimbangan informasi pdaa pemirsa. Artinya, melengkapi kekurangan pemirsa terhadap informasi arus bawah. Karena selama itu, arus informasi yang disuguhkan melalui mata acara lain, cenderung datang dari atas semata.
Yang jelas, dengan hadirnya Dian Rana, selain inormasi tentang berbagai upacara resmi pemerintah dan menghadirkan wajah pejabat, pemirsa juga (waktu itu) akan memperoleh informasi yang datang dari lingkungan kesehariannya. Ini mengandung makna, TVRI sebagai bagian dari media massa yang hidup di republik ini, makin memenuhi kebutuhan perannya sebagai salah satu saluran informasi yang perlu.
Selebihnya, Dian Rana dapat menjadi kajian utnuk melihat lebih jauh peran TVRI tersebut. Sekurang-kurangnya dalam kaitannya dengan prinsip pemerataan informasi yang selama itu kerap dijanjikan pemerintah.
Lepas dari bagaimanapun hasilnya nantinya, penayangan perdana acara baru (era itu) ini, bisa dibilang sebagai langkah positif yang perlu didukung. Toh, kritik mesti diberi peluang. Tanpa mau membuka diri terhadap saran dan kritik, Dian Rana (waktu itu) akan terjebak seperti produk siaran yang lain. Hadir tanpa menawarkan apa-apa.
Ditulis oleh: N. Syamsuddin Ch. Haesy
Dok. Monitor – No. 87/II/minggu ke-1 Juli 1988/29 Juni-5 Juli 1988, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar