DIA YANG KEMBALI: "DIA YANG MENJAWAB KERINDUAN TERHADAP JAGO-JAGO SILAT" (TVRI - MINGGU SIANG, 24 APRIL 1988 Pkl: 12.30 WIB)
UNTUK kedua kalinya, semenjak pola acara baru TVRI (ketika itu) berlaku, Pusat Produksi Film Negara (PPFN) mengetengahkan tayangan film. Diawali dengan lakon Hadiah Buat Koko dan yang (waktu itu) terbaru, Dia Yang Kembali.
Dia disutradarai Sang Arif Karim. Coraknya ‘action’. Tentang Mat Jalil, kepala gerombolan perampok. Pada suatu hari Mat Jalil bersama anak buahnya melakukan perampokan di kampung kiai Sidik. Mereka berhasil menggasak harta benda penduduk, sekalipun anak buah Mat Jalil yang bernama Subadra ditangkap.
Di bagian selanjutnya kisah Dia tambah menggemaskan. Paling tidak terjadi pengembangan perwatakan para tokoh. Subadra yang ditangkap itu akhirnya diselamatkan kiai Sidik. Dan dia pun diangkat menjadi murid pesantren. Oleh kiai Sidik, Subadra digembleng mati-matian. Diberi masukan ilmu silat bela diri maupun ilmu agama.
Mendengar bahwa Subadra jadi saleh, Mat Jalil berang. Kepala perampok ini kian dendam, dan bahkan bikin surat ancaman. Surat ancaman itu isinya akan memberangus seluruh kampung. Kampung kiai Sidik bakal dihancurkan.
Namun, yang dilakukan Mat Jalil sia-sia. Ternyata pesantren telah memupuk jiwa ksatria. Dalam suatu pertempuran, Mat Jalil tidak mengira kalau dari lapangan luas telah bermunculan lima pendekar dari dalam tanah, mirip ninja. Dan pertarungan berlangsung. Seru. Mat Jalil kalah.
Mirip cerita silat? Iya. Maka bukan tidak mungkin tayangan Dia ini merupakan jawaban suatu kerinduan terhadap jago-jago silat pribumi. Dulu (jauh sebelum 1988-red) kita mempunyai si Pitung, Si Buta dari Goa Hantu – meski (belakangan itu) – waktu itu – akan hadir para jagoan dari Saur Sepuh garapan Imam Tantowi.
Namun, untuk paket televisi? (Harapan waktu itu) mudah-mudahan, tidak berupa angan-angan. Dengan disiarkan Dia, siapa tahu langkah awal ini berkelanjutan. Jika televisi (TVRI-red) – waktu itu – sudah menghidangkan kiprah mahasiswi melalui Pondokan, dunia laut lewat Baruna (kendati digusur), dan tetek bengek penghuni Losmen, maka tidka ada salahnya jago-jago silat pribumi dihadirkan.
Cerita-cerita ala jagoan itu, di bumi nusantara ini, tumbuh subur. Karya-karya S.H. Mintardja bisa dibuat sinetron. Atau kisah Senopati Pamungkas karya Arswendo Atmowiloto. Dan (harapan waktu itu) siapa tahu televisi bisa meniru TVB Hongkong yang dnegan sinetron silatnya mampu menerobos pasar dunia? Hal ini bukan tidak mungkin. Selama kita sendiri tidak mencoba, bagaimana akhirnya bisa mewujudkan cita-cita?
Ditulis oleh: Syamsuddin Noer Moenadi
SUSUNAN PEMERAN:
Hasan Sanusi – Mat Jalil
Pardjo – Subadra
Ike Handayani – Hamidah, kekasih Subadra
KRU:
Sutradara: S.A. Karim
Produksi: PPFN
Dok. Monitor – No. 77/II/minggu ke-3 April 1988/20-26 April 1988, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar